Hohem Eyepic: Mendefinisikan Ulang Gimbal Kamera Mobile
Hohem Eyepic adalah gimbal kamera mobile 2-in-1 dengan unit kamera lepasan yang dirancang untuk memberi kreator konten fleksibilitas tinggi, stabilisasi fisik, rekaman vertikal 4K 60fps, dan ketahanan air hingga 10 meter dalam format saku yang portabel, sehingga menggabungkan fungsi peralatan videografer dan kamera aksi dalam satu perangkat yang praktis.
Keberanian Hohem meluncurkan Eyepic sebagai kamera gimbal saku 2-in-1 pertama di dunia adalah sinyal jelas bahwa stabilitas tidak lagi cukup; perangkat ini ingin mengubah cara orang merekam keseharian mereka. Inovasi kuncinya adalah kamera lepasan yang tetap terhubung ke gimbal sebagai “otak” dan layar kontrol. Ini bukan sekadar fitur unik, tetapi jawaban atas kebutuhan kreator mobile yang ingin merekam tanpa tangan, berpindah sudut dengan cepat, dan tetap melihat pratinjau secara real time dalam kualitas 1080p saat bergerak aktif. Alih-alih mengejar spesifikasi ekstrem untuk produksi film, Eyepic memilih fokus ke pengalaman pengguna kasual dan vlogger yang butuh alat simpel, responsif, dan fleksibel untuk konten harian.
Desain Modular, Kamera 4K 60fps, dan Dampaknya bagi Kreator Mobile
Kekuatan utama Eyepic adalah kombinasi desain modular dan spesifikasi kamera 4K 60fps yang terarah pada format vertikal native. Untuk era TikTok dan Reels, keputusan memprioritaskan vertikal adalah langkah berani dan tepat sasaran. Kreator bisa mengalungkan kamera pada lanyard magnetik di leher dan merekam hands-free; gimbal memendek dan mengunci, sementara layar 2,51 inci tetap menampilkan pratinjau aksi. Ini menjadikan Eyepic bukan sekadar gimbal, melainkan pusat kendali kecil untuk berbagai skenario pengambilan gambar.
Dengan ketahanan air hingga kedalaman sekitar 10 meter, Eyepic menghapus satu lapis kerumitan besar: kebutuhan housing tambahan saat di air. Bagi vlogger travel atau kreator outdoor, ini artinya satu perangkat saku yang siap diajak berenang, menyelam ringan, hingga bikin konten POV di kolam tanpa rasa waswas. Slow motion memang dibatasi pada resolusi sekitar 1080p, tetapi kompromi ini masuk akal untuk menjaga desain tetap ringkas dan ramah pengguna. Eyepic jelas belum bermain di ranah produksi kelas studio, namun sebagai peralatan videografer harian, ia menawarkan paket pengalaman yang jauh lebih menarik daripada sekadar menaikkan angka spesifikasi di brosur.
GoPro Pasca-Merger: Menggandakan Komitmen pada Kamera
Di sisi lain, GoPro memilih jalur yang berbeda: bukannya mengganti arah, perusahaan menegaskan bahwa kamera tetap menjadi DNA inti mereka setelah merger dengan Starman diumumkan. Surat terbuka CEO Nick Woodman menjawab langsung kegelisahan komunitas soal apakah perusahaan akan meninggalkan pasar konsumen demi proyek keamanan nasional. Pesannya tegas: merger bukan akhir dari inovasi kamera aksi, melainkan bahan bakar finansial untuk mempercepat pengembangan produk dan layanan terkait pembuatan konten.
GoPro menyebut telah mengumpulkan lebih dari 2.500 paten selama 24 tahun, dan menjadikan angka itu sebagai bukti bahwa mereka tidak pernah berhenti bereksperimen. Ke depan, perusahaan berencana menghadirkan lebih banyak kamera inovatif, aksesori lebih cerdas, serta perangkat lunak dan layanan yang dirancang agar proses pengambilan gambar, editing, dan berbagi pengalaman menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi pengguna biasa maupun profesional. Di tengah persaingan ketat melawan pemain seperti DJI dan Insta360, strategi GoPro adalah memperkuat posisi finansial lewat entitas yang lebih terdiversifikasi, sambil tetap memusatkan pengembangan produk pada kebutuhan kreator konten.
Apa Artinya Semua Ini bagi Pengguna Kasual dan Vlogger
Bila dilihat dari sudut pandang pengguna biasa, Eyepic dan GoPro sedang menjawab pertanyaan yang sama dengan dua pendekatan berbeda: bagaimana membuat stabilisasi video terasa alami, tanpa membebani kreativitas. Eyepic mengambil rute desain radikal yang memprioritaskan kenyamanan merekam konten harian—kamera lepasan, rekaman vertikal, layar saku, dan ketahanan air yang siap dipakai kapan pun tanpa aksesori tambahan. Perangkat ini menyasar pengguna kasual dan vlogger, bukan kru produksi film, sehingga logika produknya adalah mengurangi friksi dan memperbanyak momen yang bisa direkam.
GoPro, dengan basis pengguna yang sudah besar, fokus mengangkat ekosistem yang lebih matang: kamera aksi, aksesori cerdas, serta aplikasi dan layanan yang membuat seluruh siklus konten—menangkap, mengedit, dan berbagi—lebih mudah. Bagi peralatan videografer yang membutuhkan alur kerja lengkap, pendekatan ini terasa masuk akal. Sementara Eyepic menonjol di fleksibilitas modular, GoPro menekankan kontinuitas dan keandalan jangka panjang: bahwa meski struktur kepemilikan berubah, arah produk tetap mengutamakan pengalaman kreator konsumen dan profesional. Pada akhirnya, pengguna diuntungkan oleh persaingan paradigma ini: satu kubu mendorong desain baru, kubu lain menjaga standar kualitas dan ekosistem.
Menuju Masa Depan Stabilisasi: Modular vs Ekosistem
Peluncuran Eyepic di panggung IFA Berlin dan surat komitmen GoPro pasca-merger muncul dalam momen yang sama: industri kamera aksi dan mobile sedang mencari bentuk baru di tengah persaingan ketat. Eyepic dijadwalkan hadir ke pasar sekitar awal CES 2027, dan itu akan menjadi ujian nyata apakah desain gimbal kamera 2-in-1 dengan sensor lepasan benar-benar bisa mengubah cara orang merekam aktivitas sehari-hari.
Sementara itu, GoPro menargetkan menjadi perusahaan kamera yang lebih kuat dan terdiversifikasi, memanfaatkan kekuatan finansial baru untuk memajukan masa depan penciptaan konten. Publik akan mengawasi bagaimana mereka menyeimbangkan fokus antara kamera konsumen dan kolaborasi di bidang keamanan nasional bersama Starman. Bagi videografer mobile, pertarungan ke depan akan ditentukan oleh siapa yang paling mampu menggabungkan stabilisasi yang andal dengan kemudahan penggunaan—baik melalui modul gimbal kamera lepasan seperti Eyepic, maupun lewat ekosistem lengkap ala GoPro. Kesimpulannya, masa depan stabilisasi video ada pada pihak yang paling berani membawa teknologi mendekat ke kebiasaan sehari-hari pengguna, bukan sekadar menambah fitur di spesifikasi.






