Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Saat IHSG Turun Tajam, Investor Besar Borong Saham BUMN

Saat IHSG Turun Tajam, Investor Besar Borong Saham BUMN
Minat|Asia Tenggara

IHSG Turun Bukan Alarm Jual, Melainkan Peluang Beli

IHSG turun peluang beli adalah cara pandang yang melihat kejatuhan indeks bukan sebagai sinyal panik dan keluar dari pasar, melainkan sebagai kesempatan menambah kepemilikan saham berkualitas ketika valuasi sedang murah, dengan fokus pada investasi jangka panjang dan keyakinan bahwa fundamental perusahaan yang kuat pada akhirnya akan tercermin kembali dalam harga saham. Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 11% pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, memicu kekhawatiran luas di kalangan pelaku pasar. Namun CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengambil posisi berseberangan: ia melihat koreksi tajam ini sebagai momentum investasi jangka panjang, bukan alasan untuk menjual. Menurutnya, valuasi banyak emiten, termasuk saham BUMN, berada di level rendah sehingga membuka ruang masuk bagi investor yang sabar. Sikap ini menegaskan bahwa cara membaca pasar sering kali lebih penting daripada pergerakan angkanya sendiri.

MSCI dan Koreksi IHSG: Tekanan Teknis, Bukan Runtuhnya Fundamental

Koreksi IHSG kali ini tidak terjadi di ruang hampa. Pemicu utamanya adalah pengumuman dari MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar modal dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Sentimen negatif ini berlanjut ketika isu evaluasi status pasar kembali mencuat dan indeks melemah 3,64% ke 4.996,60, menembus level psikologis 5.000 pada 19 Oktober 2026. Di mata banyak investor, kombinasi berita buruk dan angka merah mudah dibaca sebagai tanda bahaya. Rosan mengambil kesimpulan berbeda: ia menilai koreksi lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan rumor pasar, bukan kerusakan fundamental emiten. Di sinilah letak pelajaran penting: jika tekanan berasal dari persepsi dan klasifikasi, bukan dari laba, kualitas aset, atau kesehatan perbankan, maka penurunan harga lebih mirip diskon sementara ketimbang awal krisis berkepanjangan.

Saham BUMN: Valuasi Murah, Fundamental Perbankan Tetap Kuat

Di tengah IHSG yang merosot, saham BUMN valuasi menjadi sorotan utama Danantara. Rosan menegaskan bahwa banyak perusahaan milik negara yang tercatat di bursa memiliki valuasi yang sangat rendah akibat koreksi pasar. Fokus utamanya adalah sektor perbankan BUMN, yang menurutnya tetap solid meski rasio price to book value (PBV) rata-rata sudah berada di bawah satu kali. Secara sederhana, harga saham perbankan BUMN kini diperdagangkan di bawah nilai bukunya, sebuah anomali jika dikaitkan dengan fundamental yang dinilai kuat. Ia juga menyoroti imbal hasil dividen yang menarik: dividend yield Bank Mandiri sekitar 16% dan BRI sekitar 13% di level harga saat ini. "Ibaratnya beli tanpa melihat kenaikan harga saham saja, yield-nya untuk Mandiri misalnya 16% dari pembagian dividen," ujar Rosan. Kombinasi valuasi murah dan arus dividen tinggi adalah alasan logis bagi investor institusional untuk menambah posisi.

Strategi Borong Saham: Masuk Bertahap, Berpegang pada Fundamental

Strategi borong saham yang diusung Danantara jauh dari pola spekulatif jangka pendek. Rosan menegaskan bahwa pihaknya selalu melihat investasi jangka panjang, bukan sebagai investor in and out yang keluar-masuk sewaktu-waktu. Saat IHSG berada di bawah 5.000 dan tekanan pasar menguat, Danantara justru membuka peluang menambah kepemilikan saham BUMN secara bertahap, dengan mempertimbangkan valuasi dan fundamental perusahaan. Keputusan masuk tidak didasarkan semata pada penurunan harga; analisis fundamental, teknikal, dan persepsi pasar menjadi satu paket sebelum mereka mengeksekusi pembelian. "Kita masuk ke saham-saham yang tentunya sudah dianalisa baik secara fundamental, secara teknikal, dan persepsi pasar, karena kita memutuskan untuk masuk secara bertahap," kata Rosan. Sikap siap masuk ke pasar modal di tengah koreksi menunjukkan kepercayaan investor institusional pada pemulihan indeks di masa depan.

Kesimpulan: Saat Pasar Takut, Investor Jangka Panjang Menghitung

Garis besar sikap Danantara terhadap kejatuhan IHSG jelas: penurunan tajam bukan sinyal kabur, melainkan undangan untuk menghitung ulang valuasi dan memperkuat posisi di saham berfundamental baik. Koreksi 11% dan penembusan level 5.000 dibaca sebagai IHSG turun peluang beli, terutama di saham BUMN yang dinilai murah dan punya landasan bisnis kuat. Dengan memilih masuk bertahap, berpegang pada analisis fundamental dan teknikal, serta memeriksa persepsi pasar, Danantara menunjukkan pola pikir investor institusional yang tidak mudah digoyang rumor. Pelajaran utamanya sederhana: pasar sering bereaksi berlebihan terhadap berita, sementara nilai sejati perusahaan bergerak jauh lebih pelan. Mereka yang berani berpihak pada fundamental saat harga sedang tertekan biasanya yang memanen hasil ketika sentimen berbalik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!