Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa 60% Perusahaan Gagal Memanfaatkan AI untuk Produktivitas

Mengapa 60% Perusahaan Gagal Memanfaatkan AI untuk Produktivitas
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

AI Bukan Sekadar Otomasi: Inti Adopsi Berorientasi Manusia

Adopsi AI berorientasi manusia adalah pendekatan pemanfaatan kecerdasan buatan yang menempatkan pekerja sebagai pengendali utama teknologi, mengarahkan AI untuk memperkuat kemampuan manusia, meningkatkan produktivitas, dan membuka peluang kerja baru alih-alih menggantikan tenaga kerja secara drastis, melalui penataan proses kerja, peningkatan keterampilan, dan pengawasan keputusan yang memengaruhi hak serta keselamatan pekerja.

Kementerian Ketenagakerjaan menegaskan bahwa teknologi harus memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan pekerja begitu saja. Menaker Yassierli menyatakan adopsi AI di dunia kerja harus berorientasi pada manusia dan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja nasional. Pernyataan ini bukan sekadar slogan, tetapi koreksi terhadap praktik adopsi AI yang terlalu teknosentris: beli sistem, rekrut “ahli AI”, lalu berharap keajaiban produktivitas. Tanpa desain yang menempatkan manusia sebagai pusat, AI cenderung hanya menjadi alat otomasi parsial, menghasilkan peningkatan sekitar 5%—angka yang jauh dari janji produktivitas AI 30–40 persen yang sering dikutip.

Mengapa 60% Implementasi AI Gagal Memberi Manfaat Bisnis

Fakta paling mengganggu dalam euforia AI adalah temuan bahwa dari 1.250 perusahaan pelopor AI, sekitar 60 persen belum memperoleh manfaat bisnis yang signifikan. Menaker Yassierli mengaitkan kegagalan ini dengan kekeliruan strategi implementasi, bukan dengan keterbatasan teknologinya. Perusahaan terjebak pada logika “tambah alat, pasti lebih cepat” tanpa menyentuh jantung persoalan: bagaimana pekerjaan dirancang dan siapa yang mengendalikannya.

Ketika AI hanya diposisikan sebagai asisten operasional, rerata lonjakan produktivitas berkisar 5 persen. Itu wajar, karena SOP lama—yang disusun untuk proses manual—tetap dipertahankan. AI lalu ditempelkan sebagai pelengkap, bukan dirancang masuk ke alur kerja sebagai komponen inti. Implementasi AI gagal dalam pengertian ini: sistem berjalan, tapi nilai bisnis tidak terasa. Perusahaan pun kecewa, menganggap AI “overhyped”, padahal yang salah adalah keberanian untuk merombak cara kerja, bukan teknologi yang dipilih.

Redesain SOP: Jalan Menuju Lonjakan Produktivitas 30–40%

Yassierli menilai pemanfaatan AI dapat meningkatkan produktivitas hingga 30–40 persen, tetapi hanya jika perusahaan berani melakukan perancangan ulang alur kerja dan standar operasional prosedur (SOP) disertai peningkatan keterampilan tenaga kerja. Ini poin kuncinya: redesain SOP perusahaan adalah pembeda antara sekadar 5% peningkatan dan produktivitas AI 30–40 persen.

Redesain SOP bukan mengganti kata “manual” menjadi “pakai AI” dalam dokumen yang sama. Ini berarti mengurai ulang setiap langkah kerja: tugas mana yang dialihkan ke AI, keputusan mana yang tetap dipegang manusia, bagaimana eskalasi dilakukan, dan bagaimana risiko dikendalikan. Tanpa itu, AI hanya mempercepat tahapan tertentu, sementara bottleneck lama dibiarkan. Di sisi lain, pemerintah menyiapkan panduan resmi penerapan AI di tempat kerja dan proyek percontohan peningkatan produktivitas berbasis AI, serta wadah kolaborasi antarperusahaan untuk berbagi pembelajaran. Perusahaan yang mengabaikan kesempatan ini akan tertinggal dua kali: dari pesaingnya dan dari regulasi yang sedang disusun.

Peningkatan Keterampilan Pekerja: Syarat Utama, Bukan Ornamen

AI menggeser kebutuhan keterampilan lebih cepat daripada yang biasa dihadapi perusahaan. Menaker menekankan bahwa pekerja tidak cukup hanya ahli di bidangnya; mereka juga perlu kemampuan memanfaatkan AI dalam pekerjaan. Tanpa peningkatan keterampilan pekerja, AI hanya menambah gap antara strategi manajemen dan realitas lapangan. Di sisi lain, teknologi dinilai dapat membuka peluang usaha baru dan meningkatkan kebutuhan terhadap kompetensi tertentu, bukan otomatis mengurangi tenaga kerja secara drastis.

Peningkatan keterampilan pekerja menjadi salah satu faktor penting agar tenaga kerja tetap mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja. Di sinilah adopsi AI berorientasi manusia diuji: apakah perusahaan siap mengalokasikan waktu dan energi untuk pelatihan, atau hanya menuntut hasil baru dengan alat baru? Pemerintah menegaskan prinsip no one left behind, termasuk pekerja senior, sehingga program peningkatan keterampilan harus inklusif, bukan hanya untuk “digital talent” muda. AI yang dioperasikan oleh pekerja terlatih akan lebih adaptif, lebih aman, dan lebih mudah diintegrasikan dalam SOP baru.

Hubungan Industrial Sehat sebagai Fondasi Transisi AI Berkelanjutan

Tidak ada adopsi AI berorientasi manusia tanpa hubungan industrial yang sehat. Kementerian Ketenagakerjaan menekankan bahwa penerapan AI perlu dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pekerja serta serikat pekerja atau serikat buruh. Ini bukan basa-basi; keterlibatan pekerja menentukan apakah SOP baru berjalan atau hanya berhenti di dokumen.

Empat prinsip yang didorong pemerintah jelas: AI digunakan untuk memperkuat kemampuan manusia, penerapan dilakukan partisipatif, keputusan AI yang menyentuh hak, keselamatan, dan kesempatan kerja tetap berada di bawah pengawasan manusia, dan tidak boleh ada pekerja yang tertinggal. Jika manajemen memandang AI sebagai cara mengontrol pekerja, konflik industrial hanya soal waktu. Sebaliknya, jika AI dipakai untuk mengurangi beban rutin dan memberi ruang bagi pekerjaan bernilai tambah, pekerja akan menjadi mitra transisi, bukan korban. Transformasi teknologi, pada akhirnya, harus ditempatkan sebagai strategi penguatan daya saing sekaligus pembangunan ketenagakerjaan yang berkelanjutan. Tanpa itu, AI hanya menjadi episode pendek dalam sejarah panjang ketidakpercayaan antara manajemen dan pekerja.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!