Iklim bukan tema yang terlalu besar untuk PAUD
Pendidikan iklim PAUD adalah pembelajaran yang mengenalkan lingkungan, perubahan iklim, dan cara menghadapi dampaknya melalui kegiatan yang sesuai kemampuan anak usia dini. Isu ini layak masuk ke PAUD bukan untuk membebani anak dengan ramalan bencana, melainkan agar mereka mengenali alam sekitar dan belajar tindakan sederhana yang aman. Perubahan iklim anak juga perlu dipahami sebagai persoalan perlindungan: krisis lingkungan dapat memengaruhi kesehatan, rasa aman, dan layanan dasar yang mereka butuhkan. Penguatan pendidikan anak usia dini karena itu tak cukup hanya memperluas layanan; sistemnya harus tanggap terhadap risiko iklim. Vina Adriany, Direktur SEAMEO CECCEP, menegaskan bahwa materi perubahan iklim perlu disampaikan sesuai tahap perkembangan agar anak memahami tantangan lingkungan dan upaya pencegahannya. Pendekatan ini lebih masuk akal daripada pelajaran abstrak yang dapat menimbulkan takut tanpa memberi anak pegangan.
Materi harus mengikuti tumbuh kembang anak
Untuk anak PAUD, pendidikan iklim sebaiknya dimulai dari pengalaman yang dekat: mengenali tanaman dan air, menjaga kebersihan lingkungan, atau membicarakan apa yang dilakukan saat udara dipenuhi asap. Ini bukan kurikulum baku yang diklaim sudah diterapkan di Tana Tidung, melainkan contoh penerapan yang sejalan dengan prinsip pembelajaran kontekstual dan sesuai usia. Guru perlu menghindari istilah teknis serta gambaran bencana yang menakutkan. Pengetahuan tentang adaptasi dan mitigasi dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan sederhana dan latihan keselamatan yang menumbuhkan rasa mampu, bukan cemas. Karena tumbuh kembang anak mencakup sisi sosial-emosional, pembicaraan tentang risiko juga perlu memberi ruang bagi pertanyaan dan perasaan mereka. Anak tidak harus memikul tanggung jawab menyelesaikan krisis; orang dewasa tetap berkewajiban melindungi, memberi contoh, dan memastikan layanan mereka tetap berjalan.
Tana Tidung memberi contoh lewat pelatihan guru
Tana Tidung menjadi daerah pertama di Indonesia yang bekerja sama dengan SEAMEO CECCEP dan Koalisi Nasional PAUD HI untuk mengembangkan pendidikan perubahan iklim bagi guru PAUD. Komitmen itu ditandai penandatanganan manifesto dukungan terhadap gerakan Act for Early Years oleh Bunda PAUD Tana Tidung, Vamelia Ibrahim, Direktur SEAMEO CECCEP Vina Adriany, dan Ketua Koalisi Nasional PAUD HI Irma Yuliantina. Langkah ini relevan bagi daerah yang menghadapi ancaman kabut asap akibat kebakaran lahan serta kemungkinan terganggunya layanan dasar anak. Sebagai tindak lanjut, pemerintah kabupaten bersama kedua mitra berencana mengadakan pelatihan intensif bagi guru PAUD. Pelatihan guru PAUD dapat menjadi jembatan antara pengetahuan iklim dan praktik kelas: membekali pendidik memahami ekosistem, adaptasi, mitigasi bencana, serta cara mengenalkan langkah sederhana sesuai usia.

Dari pelatihan menuju perlindungan yang berkelanjutan
Pelatihan saja tidak cukup jika guru tidak mendapat dukungan untuk menerapkan materi, atau jika perlindungan anak berhenti di ruang kelas. Rencana Tana Tidung juga mencakup dukungan sosial-emosional bagi anak serta kolaborasi dengan Posyandu dan Dinas Lingkungan Hidup. Arah ini patut diperluas: pendidikan iklim akan lebih bermakna saat keluarga dan layanan setempat memiliki pemahaman yang sejalan. Risiko iklim bukan isu pinggiran bagi kawasan Asia-Pasifik, yang secara konsisten menempati peringkat teratas dalam Climate Risk Index. Namun, besarnya ancaman tidak boleh menjadi alasan untuk menakut-nakuti anak. Ukuran keberhasilan seharusnya terlihat pada kesiapan guru, pembelajaran yang ramah anak, dan langkah perlindungan yang dapat dijalankan sehari-hari. Dengan dukungan kelembagaan berkelanjutan, Tana Tidung berpeluang menjadi percontohan; tanpa tindak lanjut nyata, manifesto hanya akan menjadi simbol.






