Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Batik Melampaui Acara Formal: Gaya Kasual Favorit Gen Z

Batik Melampaui Acara Formal: Gaya Kasual Favorit Gen Z
Minat|Busana Kasual

Batik untuk Gen Z: Dari Seragam Kondangan ke Seragam Sehari-hari

Batik untuk Gen Z adalah cara baru memaknai kain tradisional sebagai gaya batik kasual yang ringan, nyaman, dan relevan dengan aktivitas sehari-hari, bukan sekadar seragam kondangan atau pakaian kantor yang kaku. Pergeseran ini terjadi ketika motif batik modern dan potongan busana yang lebih santai membuat batik terasa dekat dengan jeans, kaus, dan outer favorit anak muda. Batik bukan lagi simbol jarak generasi, melainkan medium ekspresi diri yang bisa dipakai ke kampus, nongkrong, hingga jalan santai di akhir pekan. Ketika generasi muda mulai melihat batik sebagai bagian dari styling batik sehari-hari, mereka bukan hanya mengikuti tren, tetapi ikut menghidupkan kembali warisan yang sebelumnya dianggap milik orang tua.

Perubahan cara pandang ini tidak terjadi sendiri. Desainer dan brand batik mulai berani mengolah wastra menjadi item yang fleksibel dan mudah dipadupadankan, sehingga batik terasa wajar muncul di kafe, coworking space, atau kelas kuliah. Mahasiswi FKG UNAIR, Hanun Zhafirah, menilai model busana wastra kini semakin kekinian dan cocok dikenakan generasi Z. Itu artinya, batik sudah memasuki ranah gaya, bukan sekadar kewajiban. Ketika anak muda merasa batik tidak mengurangi kepraktisan dan kenyamanan, mereka lebih siap menjadikannya bagian dari lemari kapsul harian.

Laras Niskala: Tenun Tradisional, Siluet Modern, Gaya Lintas Usia

Contoh paling jelas bagaimana batik dan wastra bergerak ke ranah kasual terlihat pada Elegant Batik asal Surabaya yang menghadirkan 11 rancangan koleksi Laras Niskala dengan perpaduan tenun Pahikung, lurik, dan tenun Jepara. Koleksi ini bukan dibuat untuk satu generasi saja; busananya menyasar berbagai kelompok usia, mulai dari anak muda hingga mereka yang berusia di atas 40 tahun. Di sini, batik dan tenun tidak lagi diposisikan sebagai kostum formal, melainkan sebagai outer, jaket, dan bawahan yang bisa menyelinap ke berbagai situasi, dari santai sampai resmi.

Desainer Nurul Sihabudin memperkenalkan Laras Niskala dalam ajang Indonesia Heritage Fashion Show di Grand City Mall Surabaya, Sabtu (10/10/2026). Ia menyelaraskan tenun Pahikung dan lurik sebagai atasan, dengan tenun Jepara sebagai bawahan, lalu mengolahnya menjadi outer dan jaket pria yang terasa modern. Menurut Nurul, tren fashion saat ini membuat banyak orang menggemari wastra, sehingga ia memilih palet monokrom dan earth tone yang dekat dengan selera pasar. Koleksi ini dijual di kisaran sekitar Rp500.000 hingga Rp3 juta, menempatkan Laras Niskala sebagai pilihan bagi konsumen berusia 20 tahun ke atas yang ingin tampil kontemporer tanpa meninggalkan akar tradisi.

Batik Atthaya: Motif Kontemporer untuk Generasi Z dan Alpha

Jika Laras Niskala bermain pada siluet dan palet warna, Batik Atthaya dari Cirebon memilih jalur motif batik modern yang dekat dengan keseharian anak muda. Brand ini secara terang-terangan membidik batik untuk Gen Z hingga generasi Alpha dengan menghadirkan motif kontemporer yang lucu dan unik. Pemiliknya, Ruli, menyebut sekitar 70% motif yang dikembangkan adalah motif kontemporer, sementara 30% lainnya tetap dialokasikan untuk motif tradisional seperti Mega Mendung. Pendekatan ini menggeser batik dari kesan kaku menjadi medium visual yang bermain-main dengan imajinasi dan humor.

Motif yang diangkat Batik Atthaya tidak berhenti pada ornamen klasik; mereka mengeksplorasi peralatan minum dan memasak, ayam jago, pegunungan, hingga Vespa dan astronot sebagai objek batik. Ruli menegaskan bahwa semua motif ini tetap dibuat dengan teknik membatik menggunakan malam, sehingga karakter batik tulis atau cap tetap terjaga meski tampilannya terasa kekinian. Menurut Ruli, pendekatan ini dilakukan untuk mengubah persepsi bahwa batik hanya cocok dikenakan oleh kalangan tertentu atau dalam acara formal. Hasilnya, anak muda mulai menggunakan kain batik sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari, memadukannya dengan model busana yang lebih modern.

Gaya Batik Kasual: Kunci Styling Batik Sehari-hari untuk Gen Z

Gaya batik kasual lahir dari keberanian memadukan batik dengan item yang sudah akrab di lemari Gen Z. Batik tidak perlu lagi dipasangkan dengan kain panjang dan selop; cukup jadikan ia sebagai satu titik fokus dalam outfit yang santai. Batik, misalnya, dapat dipadukan dengan outer, celana jeans, maupun atasan putih untuk menghasilkan tampilan santai tanpa menghilangkan karakter kain tradisional. Kombinasi ini membuat styling batik sehari-hari terasa ringan: satu potong batik, sisanya basic. Dengan cara ini, batik tidak mendominasi, tetapi memberi aksen yang kuat.

Pendekatan sederhana ini terbukti efektif membuat wastra lebih mudah diterima sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari, bukan hanya busana untuk menghadiri acara resmi. Menurut Ruli, anak muda mulai menggunakan kain batik sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari, termasuk memadukannya dengan model busana yang lebih modern. Artinya, kunci batik untuk Gen Z bukan pada aturan rumit, melainkan pada keberanian bereksperimen dengan item yang sudah ada: kaus polos, jaket denim, atau celana longgar. Saat batik menyatu dengan pakaian kasual modern, ia berhenti menjadi kostum dan berubah menjadi bahasa gaya.

Kesimpulan: Batik sebagai Bahasa Gaya Generasi Baru

Batik sudah melampaui statusnya sebagai pakaian formal; ia kini menjadi pilihan gaya untuk aktivitas sehari-hari. Laras Niskala menunjukkan bagaimana tenun dan batik bisa dirancang untuk berbagai usia, dari anak muda hingga 40+ tahun, dengan desain yang fleksibel dan modern. Batik Atthaya membuktikan bahwa motif batik modern yang kontemporer mampu menarik Gen Z dan Alpha tanpa mengorbankan teknik membatik tradisional.

Pada akhirnya, masa depan batik ada di lemari generasi muda. Selama batik terus hadir dalam bentuk gaya batik kasual yang relevan, ringan, dan menyenangkan, styling batik sehari-hari akan menjadi kebiasaan, bukan paksaan. Generasi Z tidak sedang "melestarikan" dalam arti kaku; mereka sedang menghidupkan batik sebagai bahasa gaya yang terus berkembang, dari runway hingga ruang kelas, dari acara formal hingga hari paling biasa di kalender.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!