Rekor MURI Bukan Akhir, Tapi Pintu Masuk Pasar Global
Produk fermentasi lokal adalah olahan pangan yang menggunakan proses pengawetan biologis tradisional, seperti terasi dari udang atau ikan, yang mengandalkan mikroorganisme alami dan pengetahuan turun-temurun untuk menciptakan cita rasa khas sekaligus nilai ekonomi bagi komunitas penghasilnya.
Pemecahan rekor MURI pembuatan terasi atau belacan habang dengan peserta terbanyak bukan sekadar seremoni, melainkan demonstrasi kekuatan kolektif UMKM ketika difasilitasi dengan panggung nasional. Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan bersama Otoritas Jasa Keuangan berhasil mengumpulkan 300 pelaku UMKM pembuat terasi yang secara bersama-sama memproduksi 300 kilogram terasi di Sport Center Junjung Besaoh pada Sabtu (26/9/2026). Momen ini bukan hanya menegaskan Toboali sebagai kota terasi secara simbolik, tetapi menaikkan visibilitas terasi Toboali sebagai ikon daerah yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda. Dari sudut pandang strategi, rekor ini adalah kampanye branding besar-besaran yang, bila diikuti langkah lanjutan, dapat mengubah panggung lokal menjadi batu loncatan ekspor.
Terasi Toboali: Dari Warisan Budaya ke Terasi Ekspor Internasional
Target menjadikan terasi Toboali sebagai terasi ekspor internasional lahir langsung dari momentum MURI. Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan menyatakan bahwa Belacan Habang atau terasi Toboali harus menembus pasar nasional hingga internasional, bukan berhenti di konsumsi lokal. Wakil bupati menekankan perlunya penguatan jaringan pemasaran agar produk tidak hanya beredar di wilayah Bangka Selatan. Ini adalah pergeseran cara pandang: terasi bukan lagi sekadar bumbu dapur tradisional, tetapi komoditas bernilai tambah tinggi yang bisa dikemas sebagai produk fermentasi lokal premium untuk UMKM pasar global.
Namun peluang ini datang bersama tantangan. Perajin seperti Bujil Sani mengeluhkan fluktuasi penyerapan bahan baku udang saat musim melimpah, ketika produksi naik tetapi pembeli tidak bertambah dan harga terasi dapat turun ke kisaran Rp60.000 per kilogram hingga Rp125.000 per kilogram. Ia berharap investor hadir sebagai penampung hasil tangkapan nelayan agar perputaran ekonomi lebih stabil. "Dengan adanya pembeli yang mampu menyerap dalam jumlah besar, perputaran ekonomi antara nelayan dan perajin diharapkan menjadi lebih stabil," ujarnya. Artinya, tanpa dukungan investasi hilir dan manajemen pasokan, branding internasional akan berhadapan dengan fondasi rantai pasok yang rapuh.
Lada Putih Bangka: Bukti Nyata Potensi Ekspor Regional
Jika terasi Toboali baru menyiapkan diri menembus pasar internasional, lada putih Bangka Tengah sudah melangkah satu tahap lebih maju. Hasil perkebunan lada putih di kabupaten tersebut siap memasuki pasar ekspor tujuan Belanda sebagai bagian dari pengembangan komoditas unggulan berorientasi ekspor. Bupati menyebut Belanda sebagai negara yang siap menerima komoditas lada putih, sekaligus mengumumkan peluncuran desa devisa, di mana salah satu produknya adalah lada putih yang dilepas ke pasar global.
Program Desa Devisa menjadi instrumen penting untuk membuka akses pemasaran komoditas lokal ke pasar global dan dikembangkan bersama berbagai lembaga keuangan dan pemerintah. Produksi lada Desa Sungkap, misalnya, mencapai rata-rata 10 hingga 15 ton per tahun dengan harga jual sekitar Rp140.000 hingga Rp150.000 per kilogram. Ketua Gapoktan Latih Asri mengakui bahwa keterbatasan pemasaran masih menjadi persoalan petani, sehingga pembukaan akses pasar baru diharap dapat meningkatkan penyerapan hasil produksi. Petani juga berencana membenahi kualitas melalui pengembangan varietas bibit unggul lokal agar lada mereka mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas. Lada putih Bangka menunjukkan bahwa ketika akses pasar dan kualitas berjalan seiring, produk regional mampu menembus pasar global yang menuntut standar tinggi.
Momentum MURI: Dari Panggung Seremonial ke Strategi UMKM Pasar Global
Pemecahan rekor MURI terasi Toboali melibatkan langsung para pelaku usaha yang selama ini memproduksi di daerah, dan dari sisi ekonomi disebut memberi dampak langsung karena pelaku usaha dilibatkan. Tetapi dampak jangka panjangnya bergantung pada apakah momentum ini diikuti strategi konkret. Pemerintah daerah sudah menyatakan bahwa langkah berikutnya adalah memperkuat pemasaran, mencari "link-link" agar produk masuk jaringan distribusi yang lebih luas. Ini sejalan dengan pendekatan Desa Devisa pada lada putih Bangka Tengah yang secara eksplisit dirancang untuk membuka akses pemasaran komoditas lokal ke pasar global.
Pelajarannya jelas: panggung besar seperti rekor MURI efektif meningkatkan visibilitas, tetapi ia harus disambung dengan perbaikan hulu-hilir. Di hulu, persoalan penyerapan bahan baku udang dan kestabilan harga terasi harus diatasi melalui kehadiran investor penampung dan tata niaga yang adil. Di hilir, UMKM perlu pendampingan pemasaran, akses pembiayaan, dan integrasi ke program tematik seperti Desa Devisa yang melibatkan pemerintah daerah, lembaga pembiayaan ekspor, dan masyarakat. Tanpa itu, rekor MURI akan tinggal foto di dinding; dengan itu, ia bisa menjadi batu loncatan nyata bagi terasi Toboali dan produk fermentasi lokal lain untuk berdiri sejajar dengan lada putih Bangka di etalase pasar internasional.






