Lonjakan harga menunjukkan pasokan belum merata
Harga cabai rawit adalah harga pasar untuk cabai berukuran kecil dengan rasa pedas yang menjadi salah satu bahan pangan sehari-hari dan sensitif terhadap gangguan produksi maupun distribusi. Pada pekan keempat Oktober 2026, harganya mencapai Rp88.642 per kilogram, naik 12,49% dibandingkan September dan jauh di atas Harga Acuan Penjualan Rp57.000 per kilogram. Angka ini bukan sekadar gejolak musiman yang bisa diabaikan: kenaikan terjadi di 269 kabupaten/kota, atau 74,72% wilayah yang dipantau. Dibandingkan Desember 2025, harga telah naik 29,71%. Luasnya kenaikan menandakan masalah pasokan cabai rawit terasa lintas daerah. Namun, harga tinggi berdampingan dengan perkiraan produksi nasional yang masih memadai, sehingga persoalannya bukan semata jumlah panen, melainkan juga kapan dan ke mana hasil panen dikirim.
Penyebab yang disorot pemerintah adalah kekeringan di sejumlah daerah produksi, yang menekan hasil dan mengurangi pasokan. Cabai merah juga mengalami tekanan: harganya mencapai Rp70.849 per kilogram pada pekan yang sama, melampaui harga acuan Rp55.000 per kilogram. Ketika dua komoditas itu naik bersamaan, kebijakan yang hanya berfokus pada harga cabai rawit akan kurang menjawab tekanan harga pangan yang lebih luas.

Perluasan tanam perlu disertai distribusi yang cepat
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mendorong perluasan penanaman cabai di berbagai wilayah, termasuk desa, kelurahan, dan kawasan perkotaan, sebagai salah satu cara menjaga ketersediaan pasokan dan meredam kenaikan harga. Arah kebijakannya masuk akal, tetapi hasilnya tidak bisa diukur hanya dari banyaknya kegiatan tanam. Tanaman baru membutuhkan waktu, sementara rumah tangga menghadapi harga tinggi sekarang. Karena itu, langkah produksi harus berjalan beriringan dengan pengiriman hasil panen dari daerah surplus ke wilayah yang kekurangan.
Kementerian Pertanian memperkirakan produksi cabai rawit pada Oktober 2026 mencapai 134.221 ton, sedangkan produksi cabai besar diperkirakan 117.000 ton. Menurut Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto, kebutuhan cabai rawit rata-rata sekitar 70.000 ton; ketersediaan nasional dinilai cukup apabila perdagangan antardaerah berjalan lancar. Pemerintah mendorong kerja sama antardaerah dan mengandalkan pelaku usaha champion cabai agar pasokan dari sentra produksi segera menjangkau daerah defisit. Dengan demikian, ukuran keberhasilan bukan hanya produksi cabai secara nasional, tetapi juga seberapa cepat pasokan tiba di pasar yang membutuhkannya.
Untuk meredakan beban konsumen sambil menunggu penguatan pasokan, Kementan menggelar pasar murah cabai selama satu pekan di 12 kelurahan di Jakarta, dengan penyaluran sekitar 200 kilogram per hari. Cabai dijual Rp25.000 per setengah kilogram atau Rp50.000 per kilogram, dibandingkan harga pasar yang saat itu berkisar Rp80.000–Rp85.000 per kilogram. Intervensi semacam ini memberi pilihan yang lebih terjangkau, tetapi jangkauannya terbatas. Kebijakan distribusi yang konsisten dibutuhkan agar manfaatnya tidak berhenti pada wilayah dan masa pelaksanaan tertentu.
Tekanan harga pangan melampaui cabai
Sorotan pemerintah juga mencakup daging ayam ras dan telur ayam ras yang sebelumnya sempat mahal. Tito menyebut harga keduanya mulai turun setelah pemerintah menyoroti ketimpangan antara harga di tingkat produsen dan konsumen serta merencanakan penertiban terhadap pihak yang diduga berkontribusi pada tingginya harga. Perkembangan itu menegaskan bahwa harga pangan tidak hanya ditentukan oleh hasil produksi; rantai distribusi dan perbedaan harga di tiap tahap juga perlu diawasi. Sementara itu, harga beras secara umum dilaporkan relatif stabil. Perbedaan kondisi antarbarang ini menuntut tindakan yang terarah, bukan satu resep untuk seluruh komoditas.
Tantangan pemerintah sekarang adalah menghubungkan tiga langkah: memperluas tanam untuk memperkuat pasokan mendatang, memperlancar pengiriman antardaerah, dan menyediakan intervensi harga yang menjangkau konsumen saat terjadi lonjakan. Harga cabai rawit Rp88.642 per kilogram menjadi peringatan bahwa angka produksi yang memadai belum cukup jika pasokan tidak merata. Perluasan tanam layak didorong, tetapi dampaknya baru terasa bila panen dan distribusi benar-benar sampai ke pasar yang mengalami kekurangan. Tanpa itu, beban harga tinggi akan terus berpindah ke rumah tangga.






