Konser sebagai magnet perjalanan
Konser musik berskala internasional adalah pertunjukan yang menarik penonton dari berbagai negara sekaligus mendorong mereka membelanjakan waktu dan uang di kota tuan rumah. Konser Ye Live in Jakarta memperlihatkan potensi itu: acara yang menghadirkan Ye, atau Kanye West, digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Sabtu, 24 Oktober, dan dihadiri sekitar 70.000 orang. Sekitar 25.000 di antaranya merupakan wisatawan mancanegara dari 80 negara. Angka tersebut membuat konser Ye Jakarta lebih dari sekadar agenda hiburan bagi penonton lokal. Kehadiran pengunjung lintas negara mengisyaratkan bahwa nama artis, skala produksi, dan daya tarik kota dapat berpadu menjadi alasan perjalanan. Bagi Jakarta, konser GBK ini merupakan bukti kuat bahwa pertunjukan musik bisa menjadi produk pariwisata, bukan hanya acara satu malam.
Tujuh negara dengan jumlah penonton terbanyak adalah Australia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Tiongkok. Kedekatan geografis sejumlah pasar tersebut mungkin membantu, tetapi jangkauan 80 negara menunjukkan daya tarik yang melampaui kawasan sekitar. Kuncinya adalah menjadikan pengalaman konser mudah dijangkau dan menarik sebagai perjalanan utuh, bukan hanya sebagai tiket masuk.

Perputaran ekonomi perlu dibaca dengan cermat
Penyelenggara Raw Vision Collective dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta memperkirakan konser ini menciptakan perputaran ekonomi sekitar Rp600 miliar. Angka itu mencakup penjualan tiket, akomodasi, kuliner, merchandise, transportasi, serta transaksi UMKM. Dampak ekonomi konser paling berarti ketika belanja pengunjung tersebar di banyak layanan, bukan berhenti di lokasi pertunjukan atau hanya dinikmati satu kelompok usaha. Penonton asing yang tinggal lebih lama berpeluang menggunakan hotel, makan di restoran, berpindah dengan transportasi lokal, dan berbelanja. Namun, angka perputaran ekonomi bukan ukuran otomatis tentang keuntungan bersih atau manfaat yang terbagi merata. Karena itu, capaian ini sebaiknya dibaca sebagai indikasi besarnya aktivitas ekonomi yang terpicu, sekaligus pengingat bahwa akses usaha lokal ke rantai pasok acara ikut menentukan siapa yang memperoleh manfaat.
Laporan juga menyebut okupansi hotel di sekitar lokasi mendekati 100 persen dan sekitar 5.000 pekerja terlibat dalam produksi, operasi belakang panggung, serta dukungan acara. Ini dampak yang lebih terasa bagi pekerja dan layanan setempat. Meski demikian, angka tersebut baru memberi gambaran skala; keberlanjutan manfaat bergantung pada peluang kerja yang layak dan keterlibatan pelaku usaha lokal.

Daya tarik perlu diikuti ekosistem yang siap
Kementerian Pariwisata menyatakan dukungan terhadap persiapan konser, termasuk rekomendasi untuk proses perizinan serta urusan visa dan keimigrasian. Dukungan semacam ini penting karena wisatawan lintas negara membutuhkan perjalanan yang lancar, sementara acara besar menuntut koordinasi transportasi, akomodasi, keamanan, dan layanan pengunjung. Mengundang artis ternama saja tidak cukup; kota perlu memastikan pengalaman dari kedatangan hingga kepulangan sebanding dengan daya tarik panggung. Langkah itu juga sejalan dengan dorongan pemerintah untuk mengembangkan pariwisata berbasis musik. Pada 2026, kementerian menyatakan telah mendukung lebih dari 25 acara internasional untuk memperkuat daya saing dalam menarik kegiatan global. Akan tetapi, jumlah acara bukan satu-satunya ukuran kemajuan. Mutu penyelenggaraan, akses UMKM, dampak terhadap pekerja, dan manfaat di luar pusat kota juga patut diperhitungkan.
Kesimpulannya, sekitar 25.000 penonton asing dan estimasi perputaran Rp600 miliar menjadikan konser Ye di GBK contoh kuat potensi music tourism, tetapi bukan jaminan manfaat merata. Tantangan berikutnya adalah mengubah keberhasilan satu malam menjadi alasan bagi lebih banyak pengunjung untuk datang, tinggal lebih lama, dan berbelanja pada usaha lokal. Bila ekosistemnya dikelola dengan baik, konser internasional dapat memberi nilai lebih bagi kota dan masyarakat, bukan hanya bagi panggung.







