Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Trade Expo Indonesia Bidik Ekspor Besar, UMKM Harus Berani Go Global

Trade Expo Indonesia Bidik Ekspor Besar, UMKM Harus Berani Go Global
Minat|Asia Tenggara

TEI Sebagai Hub Ekspor: Target Tinggi, Tuntutan Lebih Tinggi

Trade Expo Indonesia 2026 adalah pameran dagang ke-41 yang dirancang sebagai hub sumber barang global, mempertemukan ribuan ekshibitor dan pembeli dari puluhan negara untuk mendorong transaksi ekspor bernilai tambah tinggi serta memperluas akses produk nasional ke pasar internasional melalui pertemuan bisnis, penandatanganan nota kesepahaman, dan promosi sektor unggulan. Di balik format pameran yang tampak rutin, TEI 2026 sesungguhnya adalah ujian kesiapan pelaku usaha lokal untuk naik kelas. Pemerintah menargetkan transaksi ekspor besar dengan melibatkan 1.873 ekshibitor dan buyer dari 134 negara, menjadikan ajang ini bukan sekadar etalase produk, tetapi arena kompetisi kualitas dan strategi. Jika pelaku usaha datang hanya untuk “pamer”, tanpa kesiapan standar dan kapasitas pasokan, target ambisius itu akan berhenti sebagai angka di atas kertas.

Trade Expo Indonesia Bidik Ekspor Besar, UMKM Harus Berani Go Global

Program S'RASA: Kuliner Sebagai Jalan Pintas Diplomasi Dagang

Program S'RASA Kemendag mengubah kuliner dari sekadar kebanggaan budaya menjadi instrumen diplomasi dagang yang konkret. Dengan paviliun khusus di TEI, S'RASA tidak hanya menyajikan demo masak rendang, sate ayam, nasi goreng, gado-gado, mi bakso, dan soto ayam, tetapi juga menggelar sesi penjajakan bisnis dengan pembeli internasional. Langkah paling strategis adalah penandatanganan 13 nota kesepahaman dengan mitra dari Belanda, Jepang, Inggris, Amerika, dan Australia, yang memfokuskan ekspor produk makanan, bumbu, dan rempah. Di sini terlihat arah baru: kuliner dijadikan pintu masuk untuk membangun kerja sama perdagangan bilateral yang berkelanjutan. Namun, agar tidak berhenti pada seremoni, pelaku UMKM pangan harus memastikan konsistensi rasa, keamanan pangan, dan kemampuan produksi. Tanpa itu, peluang yang dibuka S’RASA akan diambil pemain besar yang lebih siap.

Trade Expo Indonesia Bidik Ekspor Besar, UMKM Harus Berani Go Global

UMKM dan Koperasi: Dari Lokal ke Global, Bukan Sekadar Slogan

TEI 2026 mengklaim diri sebagai wadah Dari Lokal untuk Global, tetapi keberhasilan slogan ini bergantung pada seberapa agresif UMKM dan koperasi memanfaatkan panggung tersebut. Pemerintah memfasilitasi business matching antara UMKM dan buyer mancanegara melalui jaringan 46 perwakilan perdagangan di 33 negara, sebuah infrastruktur yang jarang dimiliki pelaku usaha kecil. Contoh konkret datang dari Koperasi Kana yang memanfaatkan TEI untuk memperkenalkan portofolio produk minuman, kecap, sarden, kopi, hingga pelet sepah tebu, sekaligus menjajaki kemitraan lintas negara. TEI menghadirkan ribuan pembeli terdaftar dari 134 negara, sehingga koperasi yang datang dengan strategi jelas—mulai dari branding, sertifikasi, hingga kesiapan kontrak—berpeluang memperluas jaringan perdagangan global. Tanpa kesiapan ini, koperasi hanya akan menjadi pengunjung pameran, bukan pemain di rantai pasok internasional.

Kerja Sama Bilateral: Dari MoU ke Ekspor Nyata

Salah satu indikator penting TEI 2026 adalah maraknya penandatanganan nota kesepahaman antara eksportir dan buyer dari berbagai negara. Pada hari pertama saja dijadwalkan 168 MoU dengan mitra dari 22 negara, sementara di paviliun S’RASA terdapat 13 MoU khusus produk kuliner dengan lima negara. Di atas kertas, ini menunjukkan dinamika kerja sama perdagangan bilateral yang positif. Namun MoU hanyalah pintu awal; tantangan sesungguhnya adalah mengubah komitmen menjadi pengiriman rutin. Pemerintah menyebut sudah ada 25 perjanjian dagang yang terimplementasi dan 13 lagi dalam proses perundingan, yang seharusnya dimanfaatkan eksportir untuk menembus lebih banyak pasar. Di sisi lain, pelaku usaha wajib memenuhi standar mutu dan ketentuan teknis negara tujuan. Tanpa disiplin pada standar, MoU akan menjadi arsip, bukan kontrak ekspor.

Kesimpulan: TEI Harus Jadi Titik Balik, Bukan Rutinitas Tahunan

TEI 2026, dengan tema The Ultimate Hub for Global Sourcing, menempatkan diri sebagai simpul penting dalam strategi perluasan pasar ekspor dan hilirisasi produk nasional. Program S’RASA menunjukkan bahwa kuliner bisa menjadi jalur cepat membangun kerja sama perdagangan bilateral, sementara partisipasi koperasi seperti Kana membuktikan bahwa pelaku usaha berbasis anggota pun bisa bermain di panggung global. Namun semua peluang ini hanya berarti bagi pelaku yang datang dengan kesiapan: standar produk, kapasitas produksi, dan keberanian menegosiasikan harga serta syarat dagang. TEI tidak boleh berhenti sebagai festival promosi; ia harus menjadi titik balik di mana UMKM dan koperasi meninggalkan mentalitas pasar lokal dan mulai berpikir dalam bahasa ekspor. Tanpa perubahan cara pandang itu, target transaksi ekspor besar akan tetap menjadi ambisi, bukan kenyataan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!