Apa Makna Kucing Saling Menjilati?
Perilaku kucing menjilati kucing lain, yang disebut allogrooming, adalah cara kucing merawat tubuh sesamanya yang sekaligus menjadi sinyal sosial kompleks, meliputi kedekatan, komunikasi kelompok, dan kadang ketegangan yang tidak langsung terlihat.
Kalau di rumah ada lebih dari satu kucing, melihat satu kucing menjilati kucing lain memang terasa biasa. Banyak pemilik menafsirkannya sebagai tanda kasih sayang atau persahabatan, seolah-olah si kucing sedang memanjakan saudaranya. Pandangan klasik ini lahir dari pengamatan koloni kucing bebas, di mana mereka saling menjilati untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan dalam kelompok sosialnya serta membentuk bau kelompok yang sama. Tidak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai “pelukan versi kucing”. Namun, menganggapnya hanya sebagai momen manis adalah penyederhanaan berbahaya. Di balik jilatan lembut itu, ada pesan sosial yang bisa berarti kedekatan, pengingat hierarki, bahkan awal konflik. Tugas pemilik adalah membaca konteksnya, bukan hanya terpesona oleh keimutannya.
Ikatan Sosial, Hierarki, dan Komunikasi Terselubung
Ketika membahas ikatan sosial kucing, allogrooming sering dijadikan bukti bahwa kucing bukan makhluk sedingin yang selama ini kita bayangkan. Perilaku saling menjilati membantu mereka menjaga ikatan sosial, memperkuat rasa kebersamaan, dan menyatukan bau tubuh sehingga setiap anggota kelompok “beraroma satu suara”. Banyak orang memaknainya sebagai tanda kasih sayang dan persahabatan, dan itu memang salah satu fungsinya.
Namun, penelitian yang mengamati 25 kucing dalam satu kandang menemukan bahwa perilaku agresif muncul dalam sekitar 35 persen sesi allogrooming. Ini kalimat yang layak diingat: “Temuan itu menunjukkan bahwa saling menjilati mungkin tidak selalu berkaitan dengan persahabatan.” Artinya, jilatan bisa menjadi cara kucing menegaskan hierarki: siapa yang lebih dominan, siapa yang harus mengalah. Dalam konteks ini, menjilati bukan hanya belaian, tetapi juga “bahasa tubuh” untuk mengatakan, “Aku pemimpin di sini,” atau “Tenang, aku mengendalikan situasi.” Di mata pemilik, inilah bentuk komunikasi kucing yang paling sering disalahpahami: terlihat lembut, padahal bisa sarat negosiasi kekuasaan.
Bermain, Damai, atau Bersih-Bersih Bersama?
Mengurangi perilaku kucing menjilati menjadi simbol cinta saja sama seperti membaca satu bab dari buku tebal. Para peneliti menunjukkan bahwa allogrooming dapat berkaitan dengan ikatan sosial, permainan, ketegangan, upaya meredakan konflik, hingga kebersihan tubuh. Jadi, ketika dua kucing saling menjilati, mereka bisa saja sedang menghangatkan hubungan setelah bertengkar, mengubah ketegangan menjadi sesi grooming, atau sekadar berbagi momen bersih-bersih di area yang sulit dijangkau sendiri.
Dalam banyak kasus, menjilati menjadi bagian dari ritual bermain: kucing mengejar, bergulat, lalu berakhir dengan jilatan di kepala atau leher. Di kesempatan lain, kucing yang tampak sedikit tegang akan menerima jilatan dari kucing lain sebagai sinyal perdamaian—sejenis “maaf ya” versi kucing. Aspek kebersihan juga tidak boleh diremehkan; lidah kucing dirancang sebagai “sisir alami”, dan merawat tubuh satu sama lain membantu menjaga bulu tetap rapi dan bebas kotoran. Kita sering terpaku pada momen lucunya, padahal di sana ada sistem dukungan sosial mini yang bekerja: mereka saling menenangkan, merapikan, dan menormalkan suasana kelompok.
Saat Perilaku Lain Mengungkap Kesehatan Kucing
Memahami perilaku sosial seperti saling menjilati harus berjalan seiring dengan kepekaan terhadap kesehatan kucing. Perilaku tubuh mereka—termasuk di luar konteks grooming—sering menjadi indikator bahwa ada yang tidak beres. Salah satu contoh jelas datang dari kebiasaan kucing yang kencing di luar kotak pasir; laman dari sebuah fakultas kedokteran hewan menyebut bahwa hal ini bisa menjadi tanda masalah kesehatan, seperti peradangan saluran kemih, diabetes melitus, dan gangguan ginjal. Ketika kemampuan mengontrol buang air kecil menurun, kucing akan lebih dulu kencing sebelum sempat mencapai litter box.
Lebih jauh, urine kucing yang mengandung mikroorganisme patogen seperti bakteri, parasit, cacing, atau virus dapat menularkan penyakit kucing yang menular ke manusia, termasuk toksoplasmosis, rabies, infeksi cacing, dan cat scratch disease. Risiko ini meningkat pada bayi, lansia, atau orang dengan sistem imun lemah. Di sini benang merahnya jelas: perilaku tubuh kucing—baik menjilati, kencing sembarangan, atau tanda lain—bukan sekadar kebiasaan aneh, melainkan pesan tentang kesehatan kucing dan, tidak jarang, kesehatan manusia di sekitarnya. Mengabaikan satu sinyal kecil bisa berarti menunda penanganan masalah medis yang lebih besar.
Kesimpulan: Belajar “Membaca” Kucing, Bukan Hanya Menikmati Kelucuannya
Kucing yang saling menjilati bukan sekadar tontonan menggemaskan; itu adalah paragraf panjang dalam bahasa komunikasi kucing. Allogrooming dapat menandakan ikatan sosial, penegasan hierarki, permainan, upaya meredakan konflik, hingga kebutuhan kebersihan bersama. Sementara itu, perilaku lain seperti kencing di luar litter box kadang menyimpan peringatan mengenai kesehatan kucing, termasuk kemungkinan gangguan saluran kemih atau penyakit sistemik yang mengurangi kontrol buang air.
Intinya, pemilik perlu berhenti puas dengan penjelasan manis semata. Setiap jilatan, gesekan, atau kebiasaan “nyebelin” seperti kencing sembarangan layak dibaca sebagai pesan, bukan sekadar tingkah. Kita tidak membutuhkan mitos untuk memahami mereka; kita butuh kepekaan, pengamatan, dan kesiapan berkonsultasi dengan dokter hewan saat perilaku berubah mencolok. Menghormati kucing berarti mau belajar membaca bahasa mereka—karena di situlah kita menjaga ikatan sosial kucing tetap hangat dan kesehatan kucing tetap terjaga.






