Dari Bunga Telang hingga Kopi: Gelombang Baru DIY Body Care Alami

Dari Bunga Telang hingga Kopi: Gelombang Baru DIY Body Care Alami
Minat|Perawatan Tubuh

DIY body care alami: dari tren jadi gerakan pemberdayaan

DIY body care alami adalah praktik meracik sendiri produk perawatan tubuh dari bahan sederhana yang aman, bersumber dari lingkungan sekitar, dengan tujuan merawat kulit sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk komersial berbahan sintetis dan berbiaya tinggi. Di berbagai desa dan pesantren, praktik ini berubah menjadi gerakan akar rumput: belajar membuat lulur, coffee scrub buatan sendiri, hingga salt bath dari bahan lokal yang dulu dianggap biasa saja. Pergeseran pentingnya di sini: warga bukan sekadar konsumen, melainkan peracik yang paham komposisi, keamanan, dan peluang usaha. Workshop perawatan tubuh yang digagas kampus bersama komunitas mengajarkan formulasi, standar keamanan, dan sisi ekonomi secara bersamaan, membentuk ekosistem baru produk lokal tradisional yang lebih sadar mutu dan nilai.

Fakultas Farmasi Universitas Jember, misalnya, melatih 100 santriwati MA Unggulan Nuris Jember memadukan pengetahuan keamanan kosmetik dengan praktik membuat body scrub dari serbuk buah pare. Di sini pesan utamanya tegas: warga perlu melek “cek KLIK” BPOM sebelum memakai produk, sekaligus mampu meracik alternatif yang aman. Pendekatan ini lebih dari sekadar pelatihan; ini kritik halus terhadap ketergantungan pada kosmetik pasaran yang sering dibeli tanpa baca label. Kampus menempatkan ilmu regulasi berdampingan dengan praktik DIY, memberi sinyal bahwa gerakan perawatan tubuh alami bukan anti-sains, melainkan ingin berdiri di atas dasar pengetahuan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Lulur bunga telang: ketika pekarangan menjelma laboratorium rumahan

Di Desa Gadon, bunga telang yang merambat di pagar rumah pelan-pelan naik kelas. Mahasiswa KKN UNUGIRI menggelar sosialisasi pembuatan lulur bunga telang bersama ibu-ibu PKK pada 19 Agustus 2026, memperkenalkan telang sebagai bahan dasar lulur buatan rumahan yang mudah dibuat dan murah diakses. Lahan pekarangan praktis berubah menjadi “laboratorium” terbuka: bunga dipetik, dikeringkan, diolah, lalu dioles ke kulit. Di sinilah letak keberpihakan gerakan ini—pengetahuan kimia dasar disederhanakan dan diturunkan ke dapur warga, bukan dimonopoli di ruang kuliah ber-AC.

Mahasiswa menjelaskan tahapan lengkap, dari pengambilan bunga hingga cara pakai lulur, lalu mengajak peserta mempraktikkan setiap langkah. Antusiasme ibu-ibu PKK menunjukkan bahwa ketika ilmu disajikan dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan, jarak antara teori dan keseharian bisa runtuh. Pengetahuan baru soal pemanfaatan telang diharapkan terus dipakai dan dikembangkan mandiri, bukan berhenti di akhir sesi sosialisasi. Yang menarik, lulur bunga telang ini bukan sekadar resep kecantikan; ia adalah contoh nyata bagaimana produk lokal tradisional bisa dihidupkan kembali dalam format modern, tanpa kehilangan akar pada tanaman yang tumbuh di halaman sendiri.

Dari Bunga Telang hingga Kopi: Gelombang Baru DIY Body Care Alami

Coffee scrub buatan sendiri: kopi lokal naik panggung kamar mandi

Kopi selama ini identik dengan cangkir di meja, bukan butiran di kulit. Dua kampus berbeda mengubah narasi itu. Di Dusun Polobogo, Tim Giat 16 UNNES mengadakan pelatihan coffee scrub alami bersama ibu-ibu PKK sebagai bagian dari edukasi perawatan kulit tubuh dengan bahan sederhana yang mudah ditemukan. Bubuk kopi dicampur beras halus dan minyak zaitun atau body oil, menghasilkan scrub tubuh yang lembut dan kaya antioksidan. Campuran ini bukan kosmetik mahal, tetapi formula yang bisa dibuat siapa saja di rumah—itulah kekuatannya.

Di Desa Kebobang, Kelompok 48 KKN FISIP Bakti Desa Arcapada Universitas Brawijaya menguatkan pesan serupa lewat Workshop Pembuatan Scrub Berbahan Dasar Kopi bersama warga. Peserta diajak memahami bahwa kopi dan bahkan ampas kopi dapat diubah menjadi produk perawatan tubuh bernilai tambah, melalui praktik langsung dari menakar bahan hingga menghasilkan scrub siap pakai. Di sini, coffee scrub buatan sendiri menjadi simbol perubahan cara pandang: komoditas yang tadinya berhenti di cangkir kini punya hidup kedua di kamar mandi. Workshop perawatan tubuh seperti ini pada dasarnya sedang mengajari warga dua hal sekaligus: keterampilan formulasi sederhana dan kemampuan melihat peluang usaha dari limbah yang dulu dibuang.

Dari Bunga Telang hingga Kopi: Gelombang Baru DIY Body Care Alami

Purwaceng dalam salt bath dan standar keamanan: ilmu kampus, sensitif pada desa

Purwaceng selama ini dikenal sebagai minuman herbal khas pegunungan, tetapi mahasiswa KKN-T 102 Universitas Diponegoro memilih jalur lain: mengubahnya menjadi produk Salt Bath Ekstrak Purwaceng Flower untuk ibu-ibu pengajian di Dusun Siterus. Dengan memadukan garam Epsom dan ekstrak purwaceng, mereka memperkenalkan bentuk baru perawatan tubuh yang tetap berakar pada tanaman lokal, namun hadir dalam format yang akrab dengan tren wellness modern. “Selama ini kami lebih mengenal purwaceng sebagai tanaman yang diolah menjadi minuman herbal,” ujar salah satu peserta, yang mengaku baru tahu purwaceng bisa dikembangkan menjadi produk salt bath bernilai jual.

Inovasi ini jelas tidak netral: ia mendorong purwaceng keluar dari bayang-bayang satu jenis produk dan masuk ke ranah diversifikasi bernilai ekonomi. Program ini secara eksplisit dikaitkan dengan tujuan SDGs, terutama pekerjaan layak, inovasi industri, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Artinya, DIY body care alami yang diajarkan bukan sekadar soal “alami lebih sehat”, tetapi juga soal struktur ekonomi desa yang lebih mandiri. Digabung dengan edukasi keamanan kosmetik dari Fakultas Farmasi Universitas Jember—yang mengajarkan santri memeriksa kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa sebelum memakai produk—semua ini menunjukkan bahwa standar keamanan dan kreativitas lokal bisa berjalan beriringan.

Dari Bunga Telang hingga Kopi: Gelombang Baru DIY Body Care Alami

Dari kelas ke UMKM: masa depan produk lokal tradisional

Rangkaian kegiatan UNEJ, UNNES, UNDIP, UB, hingga UNUGIRI punya benang merah yang jelas: menggeser warga dari posisi “pengguna pasif” menjadi “peracik kritis”. Sebanyak 100 santriwati, ibu-ibu PKK di beberapa desa, hingga kelompok pengajian semua diajak belajar formulasi, kedisiplinan takaran, hingga cara pakai produk perawatan tubuh yang tepat. Inovasi purwaceng dalam salt bath bahkan secara eksplisit ditujukan untuk mendorong UMKM baru berbasis potensi lokal dan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan. Dengan kata lain, DIY body care alami di sini adalah strategi ekonomi, bukan sekadar hobi.

Ke depan, tantangannya adalah mengawal gerakan ini agar tidak berhenti sebagai kegiatan KKN musiman. Pengetahuan yang sudah ditanamkan—dari lulur bunga telang, coffee scrub, body scrub buah pare, sampai salt bath purwaceng—perlu mendapat dukungan lanjutan: pendampingan usaha, akses legalitas, hingga penguatan standar mutu. Namun arah geraknya sudah jelas: alternatif alami dan lokal untuk produk perawatan tubuh komersial mulai tumbuh dari bawah, dibentuk oleh kerja sama kampus–komunitas, dan menghidupkan kembali produk lokal tradisional dalam wujud baru. Jika konsisten, kamar mandi rumah tangga mungkin akan jadi etalase kecil kreativitas desa, bukan sekadar rak penuh merek pabrik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!