Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Hutan Peringatan K-Pop: Warisan Hijau dari Fandom

Hutan Peringatan K-Pop: Warisan Hijau dari Fandom
Minat|Jepang & Korea

Dari Lightstick ke Bibit Pohon: Definisi Baru Fandom K-Pop

Hutan K-Pop Seoul adalah area hijau perkotaan yang ditanami ribuan pohon dan diberi nama sesuai grup K-Pop populer, dibangun melalui donasi fans Korea yang disalurkan lewat layanan streaming musik sehingga menjadi bentuk aktivisme lingkungan K-Pop yang mengubah antusiasme fandom menjadi warisan ekologis jangka panjang. Inisiatif ini menantang stereotip bahwa fandom hanya berkutat pada konsumsi hiburan; di sini, loyalitas fans diterjemahkan ke aksi nyata yang bisa dihitung dalam jumlah pohon, bukan sekadar jumlah penayangan video. Ketika hutan memorial forest Blackpink berdiri berdampingan dengan hutan Big Bang, AKMU, dan SHINee di taman kota, kita melihat dengan jelas bahwa budaya populer tidak lagi berhenti di panggung. Ia merembes ke kebijakan ruang publik, kota, dan cara generasi muda memaknai dukungan terhadap idola.

Bagaimana Donasi Fans Korea Menjadi Hutan K-Pop di Seoul

Proyek hutan K-Pop Seoul lahir dari program donasi yang dijalankan platform musik sejak Juni 2022. Pengguna berlangganan diberi kekuatan memilih: 2 persen dari biaya langganan mereka setiap bulan dialokasikan kepada artis favorit. Ketika akumulasi donasi untuk satu artis menyentuh ambang tertentu, perusahaan menambahkan dana tambahan, lalu seluruh jumlah itu disalurkan ke federasi gerakan lingkungan di kota untuk membangun hutan atas nama artis yang dipilih. Skema ini cerdas karena memasukkan aktivisme ke dalam kebiasaan harian mendengar musik; fans tidak perlu mengubah drastis perilaku, tetapi pilihan mereka punya konsekuensi ekologis. Di balik setiap pohon, ada klik pilihan artis di aplikasi. Ini membuat donasi fans Korea bukan lagi transaksi sekali waktu, melainkan aliran dukungan rutin yang mengikat fandom dengan komitmen jangka panjang terhadap lingkungan.

Big Bang, Blackpink, AKMU, SHINee: Idola yang Menjelma Ruang Hijau

Konkretnya, sejumlah hutan yang mengusung nama grup K-Pop seperti Big Bang, AKMU, Blackpink, dan SHINee kini hadir di sebuah taman sungai besar di bagian barat kota melalui proyek donasi yang melibatkan para penggemar. Hutan Big Bang dan AKMU dibangun pada 10 September di Nanji Hangang Park, Distrik Mapo, disusul hutan atas nama Blackpink dan SHINee pada 18 September di lokasi yang sama. Di sisi lain kota, sudah ada dua hutan NCT, dan hutan ketiga dijadwalkan berdiri di Nolbit Square, Seoul Forest, Distrik Seongdong, pada 16 Oktober. Totalnya, dengan tambahan lima hutan terbaru, sudah 25 hutan dibangun dan mencakup 12.851 pohon. Ini bukan dekorasi simbolik; angka pohon menunjukkan kontribusi nyata pada target pengurangan emisi karbon perkotaan sebagaimana diakui perwakilan perusahaan, yang menyebut inisiatif kecil bersama fans telah memberi dampak berarti selama empat tahun.

Aktivisme Lingkungan K-Pop: Antara Merchandise dan Emisi Karbon

Di salah satu hutan NCT yang akan datang, area khusus disiapkan agar penggemar bisa menerima merchandise dan hadiah gratis terkait grup tersebut. Sekilas, ini tampak seperti strategi pemasaran klasik. Namun ketika merchandise dibingkai di tengah ratusan pohon, pesan yang muncul berbeda: konsumsi budaya dan konservasi lingkungan berjalan berdampingan. Hutan-hutan ini adalah memorial forest yang berfungsi sebagai penghormatan abadi bagi idola sekaligus memperluas ruang hijau kota dan mendukung tujuan lingkungan setempat. Proyek ini menunjukkan bagaimana komunitas fans yang terorganisir sanggup memobilisasi sumber daya untuk tujuan di luar hiburan murni, mengubah pola dukungan "streaming dan belanja" menjadi "streaming, belanja, dan menanam pohon". Ketika perusahaan menegaskan akan terus memimpin pengembangan budaya fandom yang memperluas dampak positifnya, tantangannya adalah memastikan sisi lingkungan tetap pusat, bukan sekadar latar untuk promosi.

Warisan Hijau Fandom dan Apa yang Bisa Ditiru Kota Lain

Dengan total donasi yang mencapai Rp9,5 miliar dalam program ini, jelas bahwa cinta terhadap K-Pop dapat bergerak jauh melampaui konser dan album. Hutan K-Pop Seoul membuktikan bahwa fandom adalah struktur sosial yang cukup kuat untuk menggerakkan kebijakan ruang publik lewat tekanan positif: mereka menawarkan uang, narasi, dan dukungan berkelanjutan agar kota menanam pohon. Model ini layak ditiru kota lain yang punya ekosistem fandom besar, bukan dengan menyalin nama grup, melainkan menyalin mekanisme: integrasi donasi kecil-kecil dalam layanan harian, pengembalian dalam bentuk ruang hijau, dan transparansi angka pohon serta lokasi. Pada akhirnya, hutan peringatan K-Pop adalah cermin generasi baru yang ingin idola mereka diingat bukan hanya karena rekor penjualan, tetapi karena jejak hijau yang tertinggal di kota. Jika fandom bisa menciptakan warisan ekologis, lalu apa alasan pemerintah dan industri lain untuk tetap pasif?

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!