Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Kebiasaan Harian yang Berkaitan dengan Risiko Demensia

Tiga Kebiasaan Harian yang Berkaitan dengan Risiko Demensia
Minat|Kesehatan Mental

Menghentikan alkohol memberi ruang bagi otak untuk pulih

Pencegahan demensia melalui kebiasaan sehari-hari adalah upaya menjaga kesehatan otak dengan mempertimbangkan pilihan rutin yang berkaitan dengan daya ingat dan fungsi berpikir. Di antara pilihan itu, konsumsi alkohol patut ditinjau ulang karena dampaknya tidak terbatas pada saat seseorang mabuk. Alkohol dapat mengganggu komunikasi antarsel otak, penilaian, serta pembentukan memori jangka pendek dan panjang.

Ada alasan kuat untuk mengurangi, atau berhenti mengonsumsi alkohol. Tinjauan terhadap 16 penelitian mencatat perbaikan fungsi eksekutif, perhatian, daya ingat, dan persepsi pada orang dewasa dengan gangguan penggunaan alkohol setelah menjalani abstinensi selama 6 hingga 12 bulan. Alkohol juga dapat mengusik tidur REM, tahap yang berperan dalam pemrosesan memori. Selain itu, analisis data genetik terhadap sekitar 2,4 juta orang menemukan bahwa risiko demensia meningkat seiring bertambahnya konsumsi alkohol. Artinya, anggapan bahwa sedikit alkohol pasti melindungi otak tidak layak dijadikan pegangan. Bagi lansia yang ingin menjaga kesehatan kognitif, membicarakan kebiasaan minum dengan tenaga kesehatan dan menyusun langkah berhenti yang sesuai lebih bijak daripada mengandalkan pengurangan tanpa rencana.

Tiga Kebiasaan Harian yang Berkaitan dengan Risiko Demensia

Kopi mungkin membantu, tetapi bukan pelindung ajaib

Manfaat kopi untuk otak terlihat menjanjikan, tetapi bukti yang tersedia menunjukkan hubungan, bukan jaminan bahwa kopi mencegah demensia. Dalam penelitian jangka panjang terhadap hampir 132.000 orang yang dipantau hingga 43 tahun, kelompok dengan konsumsi kafein tertinggi memiliki risiko demensia 18 persen lebih rendah daripada kelompok yang mengonsumsi sedikit kafein atau tidak sama sekali. Sejumlah peserta yang rutin minum kopi atau teh berkafein juga mendapat nilai sedikit lebih tinggi pada tes berpikir dan mengingat. Pola serupa tidak terlihat pada kopi tanpa kafein.

Temuan ini mendukung kemungkinan bahwa kafein berperan dalam menjaga kemampuan kognitif, tetapi efeknya relatif kecil dan tidak dapat menggantikan langkah kesehatan lain. Dalam penelitian tersebut, kaitan paling jelas terlihat pada konsumsi dua hingga tiga cangkir kopi atau satu hingga dua cangkir teh berkafein per hari. Karena itu, pendekatan yang masuk akal bukan menambah kopi sebanyak-banyaknya, melainkan memilih takaran sedang jika tubuh dapat menerimanya. Kopi sebaiknya dipandang sebagai satu pilihan dalam pencegahan demensia, bukan resep tunggal untuk mempertahankan daya pikir hingga lanjut usia.

Tiga Kebiasaan Harian yang Berkaitan dengan Risiko Demensia

Tidur siang yang makin sering perlu diperhatikan

Tidur siang dan demensia memiliki kaitan yang perlu dibaca dengan cermat: tidur siang yang sering pada lansia berhubungan dengan risiko demensia lebih tinggi, tetapi penelitian tidak membuktikan bahwa tidur siang menjadi penyebabnya. Studi Johns Hopkins mengikuti hampir 1.000 orang berusia 65 tahun ke atas selama sekitar satu dekade. Peserta yang tidur siang hampir setiap hari atau setiap hari tercatat memiliki risiko 48 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah tidur siang.

Tertidur tanpa sengaja pada siang hari juga patut dicatat: kebiasaan itu berkaitan dengan risiko 39 persen lebih tinggi, sementara tidur siang selama 30 menit atau kurang berkaitan dengan risiko 40 persen lebih tinggi. Angka tersebut adalah hubungan statistik, bukan ramalan bagi setiap orang. Kebutuhan tidur siang yang meningkat dapat mencerminkan tidur malam yang kurang baik atau perubahan pada otak, sehingga menganggap kantuk berulang sebagai hal biasa bisa menunda perhatian pada masalah yang mendasarinya. Untuk menjaga kesehatan kognitif lansia, catat frekuensi tidur siang, amati apakah tertidur terjadi tanpa sengaja, dan bicarakan perubahan pola tidur dengan tenaga kesehatan. Intinya, fokuslah pada pola istirahat secara menyeluruh, bukan larangan tidur siang bagi semua orang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!