AI memerlukan fondasi yang melampaui perangkat lunak
Infrastruktur AI nasional adalah rangkaian jaringan, kapasitas komputasi, model, dan kemampuan manusia yang memungkinkan kecerdasan buatan dikembangkan serta digunakan secara luas dan berkelanjutan. Kebutuhan membangun rangkaian itu makin mendesak karena AI berpeluang mengubah cara bisnis dan layanan publik berjalan. Di Forum Teknologi dan Inovasi Danantara 2026 pada 27 Oktober, Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menegaskan bahwa adopsi teknologi saja tidak cukup; inovasi harus terhubung dengan kebutuhan pengguna dan investasi agar menjadi industri yang bertahan. Pandangan ini tepat: tanpa fondasi yang siap, lonjakan pemakaian AI hanya akan memperbesar ketergantungan pada teknologi yang tidak dikuasai di dalam negeri. Penurunan biaya per kueri AI sekitar 280 kali sejak 2022 dan kenaikan penggunaan AI di Google hingga tujuh kali lipat dalam setahun menunjukkan permintaan dapat tumbuh cepat. Namun, nilai ekonomi akan bergantung pada kesiapan jaringan dan komputasi untuk melayani permintaan tersebut.
Konektivitas dan komputasi harus berjalan beriringan
Telkom menempatkan konektivitas terintegrasi, pusat data berskala besar, dan gerbang model AI beserta pengembangan aplikasi sebagai tiga fondasi industri. Hubungan di antara ketiganya penting: konektivitas digital menghubungkan pengguna dengan layanan, pusat data menyediakan daya komputasi, sementara akses model membantu mengubah kemampuan AI menjadi aplikasi yang relevan. Skala infrastruktur yang sudah tersedia memberi gambaran tentang pekerjaan yang sedang dibangun: Telkom memiliki kapasitas satelit 42,2 Gbps, jaringan serat optik dan kabel laut lebih dari 211 ribu kilometer, serta 58 titik kehadiran internasional. NeutraDC mengoperasikan kapasitas pusat data 48,4 MW pada kuartal III 2026, dengan aspirasi ekspansi hingga 1 gigawatt. Ambisi tersebut perlu disertai pasokan energi dan sistem pendinginan andal. Tanpa itu, pusat data besar berisiko menjadi kapasitas di atas kertas, bukan layanan yang bisa diandalkan industri maupun masyarakat.
Kedaulatan teknologi harus hadir dalam produk dan manfaat
Inisiatif Sovereign Digital Technology TelkomGroup, yang diluncurkan pada hari pertama forum, menandai upaya membangun kapabilitas digital yang lebih utuh. Empat komponennya—Pusat Data Siap AI, ModelHub AI, Platform IoT Nasional, dan PaDiSera—menggabungkan komputasi, akses model, konektivitas perangkat, serta perluasan akses pasar bagi UMKM. Arah ini lebih bernilai daripada sekadar mengejar kepemilikan teknologi: kemandirian harus tampak pada kemampuan mengelola model, menyesuaikannya dengan kebutuhan lokal, dan membawa manfaat kepada pengguna. Melalui ModelHub, Telkom menyediakan akses serta tata kelola model global, berdaulat, dan khusus industri untuk mendukung aplikasi dan kasus penggunaan AI. Bagi usaha kecil, penerapan AI dapat membantu efisiensi operasional, layanan, dan penjualan. Namun, manfaat itu tidak otomatis muncul dari platform. Pengguna memerlukan dukungan, proses kerja yang sesuai, dan layanan yang mudah dijangkau.
Investasi harus membangun manusia dan rantai pasok
Infrastruktur saja tidak akan menghasilkan kapabilitas AI nasional jika tenaga kerja dan industri pendukung tertinggal. Danantara menilai investasi teknologi perlu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat kemampuan industri, keahlian tenaga kerja, rantai pasok, dan institusi. Managing Director Danantara Development Management Fund Rachmat Kaimuddin menekankan perlunya menyeimbangkan potensi inovasi dengan disiplin pengelolaan modal. Itu berarti proyek perlu punya kesiapan pelaksanaan dan prospek menarik investasi lanjutan, bukan hanya narasi teknologi yang memikat. Talenta dengan keahlian pengembangan dan integrasi AI juga diperlukan agar teknologi benar-benar bekerja dalam proses bisnis. Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan akhirnya bukan banyaknya pusat data atau model yang tersedia, melainkan layanan yang lebih baik dan peluang ekonomi yang lebih luas. Investasi teknologi yang menghubungkan infrastruktur, SDM teknologi, dan kemampuan industri akan memberi pijakan lebih kuat daripada belanja perangkat tanpa rencana pengembangan kapasitas.
Kesimpulannya, ekosistem AI tidak dibangun oleh satu perusahaan atau satu jenis aset. Jaringan, komputasi, energi, model, talenta, pemasok, dan institusi harus saling menguatkan. Telkom menyediakan gambaran fondasi digital, sementara penekanan Danantara pada kemampuan nasional menunjukkan bagaimana modal seharusnya diterjemahkan menjadi kapasitas jangka panjang. Jika keduanya berjalan beriringan, AI berpeluang menjadi mesin industri dan layanan yang manfaatnya terasa luas; jika tidak, infrastruktur megah hanya akan menjadi fasilitas tanpa cukup pengguna dan keahlian untuk menghidupkannya.






