KuybeliKuybeli

Kite Aerial Photography Workshop dan Pameran: Jalur Belajar Fotografi Udara dengan Layang-Layang

Kite Aerial Photography Workshop dan Pameran: Jalur Belajar Fotografi Udara dengan Layang-Layang
Minat|Gaya Fotografi

Kite Aerial Photography: Dari “Mainan” Jadi Laboratorium Udara Terbuka

Kite Aerial Photography adalah teknik fotografi udara yang menempatkan kamera pada layang-layang untuk memotret dari ketinggian, menggabungkan keterampilan membaca angin, kontrol stabilitas, dan pemahaman kondisi alam sehingga menghasilkan foto landscape dan dokumentasi aerial dengan karakter visual yang berbeda dari teknik konvensional berbasis drone atau pemotretan darat.

Rangkaian Workshop dan Pameran kite aerial photography di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta pada 7–9 Juli 2026 adalah sinyal tegas: fotografi udara tidak harus bergantung pada teknologi mahal dan serba otomatis. Di bawah payung Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026, kegiatan Road to JIKF menuju festival internasional 11–12 Juli 2026 menjadikan kampus sebagai laboratorium udara terbuka yang inklusif bagi fotografer, mahasiswa, hingga pelayang internasional. Alih-alih sekadar pemanasan sebelum festival di Pantai Parangkusumo, rangkaian ini terasa seperti manifesto kecil bahwa kreativitas bisa naik setinggi layang-layang tanpa mengabaikan akar budaya.

Kite Aerial Photography Workshop dan Pameran: Jalur Belajar Fotografi Udara dengan Layang-Layang

Road to JIKF 2026: Edukasi, Bukan Sekadar Agenda Pendukung Festival

Secara strategis, JIKF 2026 menggunakan workshop fotografi udara dan pameran sebagai pintu masuk edukasi, bukan hanya hiburan jelang festival besar. Kegiatan yang diselenggarakan Angkasa Satu bersama UKDW dan didukung Kementerian Pariwisata serta Dinas Pariwisata DIY ini dibuka dengan penandatanganan kerja sama pengembangan edukasi, seni, dan budaya berbasis layang-layang. Ini langkah yang berani: menempatkan layang-layang sebagai medium yang sah untuk diskusi akademik dan eksplorasi fotografi, bukan sekadar nostalgia permainan masa kecil.

Tujuan utamanya jelas: memperkenalkan Kite Aerial Photography kepada masyarakat, dengan fokus ke generasi muda dan mahasiswa yang selama ini tumbuh bersama kamera ponsel dan drone komersial. Menghadirkan kegiatan gratis yang terbuka untuk umum adalah keputusan penting; ketika akses ekonomi tidak lagi jadi penghalang, isu berikutnya adalah kemauan belajar dan rasa ingin tahu. Road to JIKF di UKDW ini pada dasarnya menguji satu gagasan: jika pengetahuan KAP diletakkan di ruang kampus yang terbuka, sejauh apa minat terhadap praktik fotografi udara berbasis layang-layang bisa tumbuh?

Workshop: Belajar Membaca Angin, Bukan Hanya Mengatur ISO

Bagian paling menarik dari workshop kite aerial photography di JIKF 2026 Yogyakarta adalah cara ia menggeser fokus belajar fotografi: dari sekadar teknis kamera ke pemahaman lingkungan. Dengan menghadirkan Dr. Ir. Martinus S.T., M.Sc. sebagai peneliti Auto Kite Aerial Photography dan Ir. Anshori Djausal, M.T. sebagai praktisi sekaligus pengembangnya, peserta tidak hanya disuguhi materi sejarah dan teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan. Ini bukan kelas yang nyaman di studio; untuk mendapatkan foto udara yang stabil, peserta harus berurusan dengan arah angin, kestabilan layang-layang, dan kondisi alam yang berubah-ubah.

Peserta datang dari banyak latar: mahasiswa, masyarakat umum, hingga pelayang internasional seperti Shameem dari Lebanon, yang bahkan membayangkan KAP berkembang menjadi ajang kompetisi fotografi berbasis angin dan layang-layang di masa depan. “Workshop Kite Aerial Photography yang berlangsung pada 7 Juli 2026 menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Ir. Martinus S.T., M.Sc. dan Ir. Anshori Djausal, M.T., yang memberikan materi dari sejarah hingga demonstrasi praktik langsung,” kata penyelenggara. Bagi fotografer yang selama ini bergantung pada stabilizer dan mode otomatis, pengalaman ini hampir seperti kembali ke akar: memotret dengan mengandalkan intuisi dan dialog langsung dengan alam.

Kolaborasi dengan Mahasiswa UKDW: Saat Kelas Fotografi Pindah ke Langit

Kekuatan lain dari program ini adalah keterlibatan aktif mahasiswa UKDW, terutama UKM Duta Wacana Photography (DWPh) dan Program Studi Desain Produk, sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Kolaborasi ini mengubah event menjadi ruang belajar dua arah: penyelenggara membawa pengetahuan teknik fotografi layang-layang, sementara mahasiswa membawa perspektif visual masa kini dan pengalaman berorganisasi. Wakil Rektor I UKDW, Dr. Rosa Delima, menyebut KAP sebagai pengetahuan baru yang memperkaya kreativitas mahasiswa dalam menghasilkan karya unik.

Secara praktis, kolaborasi ini membuka akses pembelajaran fotografi gaya baru yang sedang berkembang: mahasiswa tidak lagi hanya memotret dari balik viewfinder, tetapi merancang bagaimana kamera bergerak bersama layang-layang di udara. Keterlibatan mereka juga menggeser citra layang-layang dari permainan tradisional menjadi medium berkarya di ranah fotografi udara. Di sini, kampus berperan sebagai jembatan antara tradisi dan teknologi—membuktikan bahwa inovasi bisa berangkat dari sesuatu yang sesederhana selembar kertas dan rangka bambu yang ditarik angin.

Pameran Foto Udara: Galeri mini untuk Melihat Dunia dari Sudut Pandang Layang-Layang

Pameran fotografi aerial di Atrium Gedung Agape UKDW menjadikan karya-karya Kite Aerial Photography sebagai argumen visual mengapa teknik ini layak diperhitungkan. Dibuka 7–9 Juli 2026, pukul 10.00–16.00 WIB, dan dapat dikunjungi secara gratis, pameran ini menampilkan foto-foto udara yang dihasilkan dengan KAP lengkap dengan perangkat yang digunakan. Pengunjung bukan hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memahami bahwa di balik satu frame ada proses membaca angin, merancang rig kamera, hingga memilih ketinggian yang aman.

Bagi fotografer landscape yang terbiasa bermain di tanah, perspektif dari layang-layang membuka imajinasi baru: garis pantai, atap kota, hingga pola sawah tampil dengan komposisi yang tidak mudah dicapai dengan sudut pandang mata manusia. Pameran ini secara halus menunjukkan bahwa pameran fotografi udara tidak harus didominasi foto drone; KAP menghadirkan rasa organik dan sedikit ketidakpastian yang membuat gambar terasa lebih hidup. Pada akhirnya, Road to JIKF di UKDW adalah undangan terbuka: jika ingin belajar fotografi udara yang menggabungkan seni, budaya, teknologi, dan kedekatan dengan alam, maka layang-layang bisa menjadi guru pertama yang sabar.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!