Makeup Sebagai Arsip Budaya: Mengapa HYAS Penting
HYAS: Makeup Through the Ages adalah sebuah pameran makeup Jakarta yang memadukan arsip, seni, dan storytelling untuk menelusuri sejarah kecantikan Indonesia secara komprehensif, menampilkan ratusan koleksi riasan sebagai jejak evolusi riasan wanita dan seni wajah budaya dari masa ke masa. Poin terpenting dari pameran ini: beauty diarahkan keluar dari rak kosmetik dan ditempatkan ke ranah narasi budaya. Di SPAC8, ASHTA District 8, HYAS berlangsung pada 4–6 September 2026, pukul 10.00–22.00 WIB, menawarkan pengalaman yang lebih mirip museum daripada etalase brand. Pilihan lokasi bukan kebetulan; ASHTA berperan sebagai ruang kurasi yang sengaja menghubungkan riasan dengan perjalanan identitas urban. Dengan sudut pandang ini, pengunjung dipaksa mengakui bahwa cara kita merias wajah tidak pernah netral—ia selalu memantulkan kelas sosial, nilai estetika, hingga dinamika gender di zamannya.

Dari Bedak Kuno hingga Reformasi: Evolusi Riasan Wanita
Sebagai exhibition perdana HYAS yang digagas Sissy Sosro dan dikurasi riset oleh Allysha Nila, pameran ini ambisius dalam skala dan cakupan. Lebih dari 350 koleksi makeup, 200 majalah vintage, dan 100 buku langka disusun melalui riset selama sembilan bulan—angka yang membuatnya layak disebut sebagai arsip sejarah kecantikan Indonesia paling padat yang pernah dibuka untuk publik. Salah satu kutipan faktual yang paling berbicara: “Salah satu koleksi tertua yang ditampilkan adalah face powder dari apotek era kolonial di Surabaya yang diperkirakan berasal dari tahun 1920-an atau lebih awal.” Dari periode kuno, kolonial, hingga mendekati Reformasi, pengunjung melihat bagaimana ritual kecantikan bergeser: dari riasan yang sakral dan seremonial, menuju makeup sebagai simbol modernitas, lalu menjadi komoditas mass market. Standar cantik berubah pelan namun tegas—kulit, bentuk alis, warna bibir—seiring teknologi, media, dan politik identitas.
Seni Wajah Budaya: Makeup Sebagai Bahasa Sosial
Keunggulan HYAS: Makeup Through the Ages terletak pada keputusan untuk memperlakukan setiap produk, kemasan, dan majalah sebagai dokumen sosial, bukan sekadar benda koleksi. Lebih dari sekadar memamerkan produk, pameran ini menunjukkan bagaimana makeup hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya, sekaligus menjadi cermin perubahan cara masyarakat memandang kecantikan. Arsip Sariayu Martha Tilaar dan Mustika Ratu, misalnya, membuka cerita tentang bagaimana brand lokal ikut membentuk imaji kecantikan yang "ideal"—seringkali menggabungkan motif tradisional dengan narasi modernitas. Di sini, seni wajah budaya terasa nyata: poster lama, ilustrasi teknik merias, hingga iklan berbahasa masa lalu memperlihatkan betapa wajah perempuan diposisikan sebagai kanvas propaganda, aspirasi, dan resistensi halus terhadap norma. Pameran ini menantang asumsi bahwa riasan adalah pilihan pribadi murni; ia memperlihatkan lapisan pengaruh industri dan budaya yang saling bertaut.
ASHTA District 8: Ruang Kurasi Identitas Urban
ASHTA District 8 muncul di HYAS bukan sekadar sebagai venue, melainkan sebagai pernyataan bahwa lifestyle destination bisa berfungsi sebagai ruang arsip dan kritik budaya. Melalui SPAC8, ASHTA konsisten membuka ruang bagi ekspresi kreatif di persimpangan art, beauty, culture, dan lifestyle, dan HYAS memperkuat reputasi tersebut. Workshop, talk show, dan curated shop yang mempertemukan limited-edition items dari heritage beauty brands dengan generasi baru brand lokal menegaskan bahwa sejarah kecantikan bukan sesuatu yang beku di masa lalu. ASHTA menjadikan pengunjung bagian dari narasi: mereka tidak hanya menonton evolusi riasan wanita, tetapi juga meneruskan warisan tersebut lewat pilihan produk dan gaya hari ini. Sikap ini penting, karena mengingatkan bahwa identitas urban modern dibentuk oleh dialog antara heritage dan estetika baru, bukan oleh pemutusan total dari akar budaya.
Perspektif Baru: Standar Cantik, Teknik Riasan, dan Masa Depan
Pada akhirnya, HYAS: Makeup Through the Ages memaksa kita mempertanyakan apa itu cantik, dan siapa yang berhak mendefinisikannya. Dengan memaparkan perjalanan beauty rituals dan industri kecantikan dari masa kuno hingga mendekati Reformasi, pameran ini menawarkan perspektif baru tentang bagaimana standar kecantikan dan teknik riasan berkembang seiring waktu. Di antara koleksi-koleksi tersebut, jelas bahwa tren kontemporer—skin minimalis, alis natural, bibir ombre—bukan fenomena terputus, melainkan bab terbaru dalam eksperimen panjang seni wajah budaya. Pameran ini berani menyatakan bahwa beauty bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang cerita, ritual, dan warisan yang membentuk cara kita melihat diri sendiri. Kesimpulannya tegas: jika kita menganggap makeup sekadar kosmetik, kita kehilangan kesempatan membaca sejarah sosial yang tertulis di wajah. HYAS menunjukkan bahwa riasan adalah arsip hidup, dan generasi hari ini adalah penulis bab berikutnya.






