Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ribuan Mahasiswa Calon Guru Turun ke Sekolah, Mengubah Cara Mengajar

Ribuan Mahasiswa Calon Guru Turun ke Sekolah, Mengubah Cara Mengajar
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Magang Guru Bukan Lagi Sekadar Praktik Mengajar

Program magang guru adalah penugasan terstruktur yang menempatkan mahasiswa calon guru langsung di sekolah mitra untuk menjalankan peran penuh sebagai pendidik, mulai dari merancang pembelajaran, mengajar di kelas, mengelola administrasi pendidikan, hingga berkolaborasi dengan guru dan kepala sekolah, dengan tujuan utama meningkatkan kompetensi mengajar sekaligus menghadirkan dampak nyata bagi kualitas pembelajaran di sekolah. Program Magang Berdampak di satu kampus menurunkan 61 mahasiswa FKIP ke empat sekolah binaan dinas pendidikan kota pada 8 September 2026. Sementara itu, program Mengajar Batch 10 menerjunkan 1.108 mahasiswa dari 18 program studi kependidikan ke sekolah-sekolah mitra di tiga wilayah selama sekitar empat bulan. Skala ini menandakan pergeseran penting: calon guru diterjunkan bukan sebagai “tamu kelas”, melainkan sebagai bagian sistem pembelajaran di sekolah.

Ribuan Mahasiswa Calon Guru Turun ke Sekolah, Mengubah Cara Mengajar

Dari PPL ke Kampus Berdampak: Pergeseran Paradigma Calon Guru

Inti perubahan ada pada paradigma. Di satu sisi, Magang Berdampak menjadi implementasi kerja sama FKIP dengan dinas pendidikan kota untuk mendukung peningkatan kompetensi calon guru. Di sisi lain, UNG Mengajar berkembang mengikuti perubahan kebijakan pendidikan tinggi dan kini diarahkan dalam semangat Kampus Berdampak, setelah sebelumnya menjadi bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Mahasiswa tidak lagi diposisikan hanya sebagai pelengkap jadwal pembelajaran di sekolah, tetapi sebagai agen yang diharapkan memberikan dampak nyata terhadap sekolah dan masyarakat. Kutipan kunci yang menandai pergeseran itu: “Artinya, kehadiran mahasiswa bukan hanya untuk belajar di lapangan, tetapi harus benar-benar memberikan dampak nyata bagi sekolah dan masyarakat”. Ini adalah pernyataan politis: kampus tidak puas dengan model PPL lama yang berhenti pada latihan mengajar; mereka mendorong peran sosial yang lebih luas.

Pengalaman Lapangan: Laboratorium Nyata Kompetensi Mengajar

Penempatan mahasiswa calon guru di sekolah menjadikan pembelajaran di sekolah sebagai laboratorium kompetensi mengajar yang sesungguhnya. Mahasiswa FKIP Unkhair dari enam program studi ditempatkan di PAUD, SD, dan SMP dengan sebaran 20 mahasiswa di PAUD, 15 di SD, serta 13 di masing-masing dua SMP. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga mengerjakan tugas guru, dari pembelajaran hingga administrasi pendidikan. Mahasiswa UNG selama kurang lebih empat bulan terlibat langsung dalam aktivitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah mitra, sekaligus membawa semangat pengabdian bagi kemajuan pendidikan. Program ini memberi kesempatan mengaplikasikan pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh selama kuliah secara langsung di kelas. Jika dimanfaatkan serius, periode magang ini adalah titik pembentukan identitas profesional guru, bukan sekadar jam wajib praktik.

Misi Memperkuat Literasi, Numerasi, dan Karakter Peserta Didik

Dampak pada siswa menjadi ukuran apakah program magang guru layak disebut “berdampak”. Kehadiran 1.108 mahasiswa UNG di sekolah-sekolah di tiga wilayah diharapkan memperkuat aspek pembelajaran, terutama literasi, numerasi, dan karakter peserta didik. Mahasiswa dituntut membaca kebutuhan sekolah, beradaptasi dengan lingkungan, dan menghadirkan pendekatan pembelajaran yang relevan. Mereka diminta membawa inovasi, sistem, dan pendekatan baru sehingga proses pembelajaran di sekolah tidak lagi monoton. Pada titik ini, program magang guru menjadi intervensi langsung terhadap mutu pembelajaran di sekolah, bukan hanya investasi jangka panjang pada calon guru. Jika mahasiswa datang dengan strategi literasi kreatif atau model numerasi kontekstual, siswa di daerah ikut merasakan transformasi metode mengajar hari ini, bukan menunggu generasi guru berikutnya.

Kolaborasi Kampus–Sekolah: Pondasi Ekosistem Pendidikan Lokal

Yang sering luput dibahas adalah nilai strategis kolaborasi kampus–sekolah. Magang Berdampak lahir dari kerja sama formal FKIP dan dinas pendidikan kota, sementara UNG Mengajar dirancang dan dikawal oleh lembaga penjaminan mutu pembelajaran di kampus. Ini membangun jaringan yang mengalir dua arah: kampus menyumbang calon guru dan gagasan, sekolah menyumbang realitas kelas dan kebutuhan nyata. Selama berada di sekolah mitra, mahasiswa harus memahami dinamika pendidikan, membaca persoalan, beradaptasi, dan menawarkan pendekatan pembelajaran sesuai kebutuhan sekolah. Jika kolaborasi ini dijaga, sekolah tidak lagi menjadi “lokasi praktik”, tetapi mitra permanen pengembangan kurikulum kampus. Kesimpulannya, penugasan ribuan mahasiswa ke sekolah hanya akan mengubah cara mengajar bila kampus dan sekolah melihat diri mereka sebagai satu ekosistem pendidikan lokal, bukan dua institusi yang bertransaksi jam praktik.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!