Larangan tandang berlaku di Banten
Larangan tandang Persija adalah hukuman Komdis PSSI yang mencegah suporter menghadiri laga tandang klub selama enam pertandingan, termasuk kunjungan ke markas Dewa United. Dewa United mengingatkan Jakmania agar tidak datang ke Banten International Stadium saat menjamu Persija pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Laga pekan kedelapan Super League itu dijadwalkan mulai pukul 19.00 WIB. Imbauan klub tuan rumah sejalan dengan surat Persija kepada Pengurus Pusat The Jakmania agar anggota mematuhi sanksi. Ini bukan sekadar persoalan akses tribun: larangan tersebut adalah ketentuan disipliner yang harus dipatuhi, sekalipun pertandingan mempertemukan dua tim teratas klasemen. Persija memimpin dengan 18 poin, sementara Dewa United mengoleksi 14 poin. Tanpa dukungan langsung, Persija tetap harus memburu hasil di laga penting ini.

Sanksi muncul setelah insiden di laga tandang
Sanksi tandang Persija berangkat dari insiden saat tim bertandang ke markas Persita Tangerang pada 17 Oktober. Pertandingan itu diwarnai keributan antara suporter kedua tim, sementara laporan mengenai hukuman juga mencatat penyalaan petasan dan pelemparan suar. Komdis PSSI kemudian menjatuhkan larangan kehadiran suporter dalam enam laga tandang hingga berakhirnya putaran pertama. Selain larangan tersebut, Persija juga didenda Rp90 juta. Rentang hukuman dan pemicunya memperlihatkan bahwa perilaku di tribun dapat membawa konsekuensi jauh melampaui satu pertandingan. Meminta Jakmania tidak datang ke Banten bukan tindakan simbolis; kepatuhan mencegah risiko pelanggaran baru dan kemungkinan hukuman tambahan yang dapat merugikan klub. Dalam keadaan seperti ini, menjaga dukungan tetap tertib adalah bagian dari tanggung jawab suporter.

Klub meminta kepatuhan, Jakmania menyatakan siap
Persija meminta seluruh anggota menghormati ketentuan Komdis PSSI, termasuk tidak menghadiri atau mencoba menghadiri laga tandang yang masuk daftar sanksi. Klub juga mengingatkan bahwa pelanggaran dapat berujung pada hukuman tambahan dan kerugian bagi Persija. Imbauan itu menuntut koordinasi dan sosialisasi dari pengurus, bukan hanya pengumuman menjelang pertandingan. Jakmania menyatakan telah menerima surat klub dan siap menjalankan larangan tandang di Super League. Sikap ini penting: keteguhan mendukung tim tidak perlu dibuktikan dengan memaksakan diri masuk ke stadion. Persija sendiri menegaskan bahwa doa dan dukungan tetap berarti meski suporter berada jauh dari tribun. Bagi klub dan pendukungnya, menjaga nama baik harus tampak dalam tindakan, terutama ketika aturan sudah jelas.
Dukungan berlanjut dari luar stadion
Larangan away Persija mencakup enam lawatan: menghadapi Dewa United, PSM Makassar, Bhayangkara, Isenmulang, Persijap Jepara, dan PSS Sleman. Dampaknya nyata bagi Jakmania: mereka tak dapat mendampingi tim secara langsung dalam rangkaian laga tandang tersebut, sehingga dukungan harus disalurkan dari rumah atau wilayah masing-masing. Pengurus pusat juga menyebut batas sanksi berlaku untuk kompetisi liga; mereka menyampaikan kepada manajemen bahwa Jakmania tetap akan mendukung Persija saat menghadapi PSMS Medan dalam League Cup pada 3 November. Pembedaan kompetisi ini tidak mengubah kewajiban untuk mematuhi hukuman liga. Namun, rencana tersebut menunjukkan bahwa dukungan bisa tetap hadir melalui jalur yang sesuai aturan. Kesimpulannya, keputusan Jakmania untuk absen di Banten adalah pilihan paling bertanggung jawab: klub terlindungi dari risiko sanksi lanjutan, sementara loyalitas dapat dibuktikan tanpa melanggar ketentuan.






