Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Pikulan ke Gerobak: Jejak Angkringan sebagai Warisan Jalanan

Dari Pikulan ke Gerobak: Jejak Angkringan sebagai Warisan Jalanan
Minat|Makanan Kaki Lima

Warisan perantau di balik angkringan

Angkringan adalah tempat berjualan makanan dan minuman yang juga menjadi ruang bagi orang untuk berkumpul atau beristirahat, dengan sejarah yang tumbuh dari kebiasaan berdagang keliling. Jejak awalnya kerap dikaitkan dengan warga Desa Ngerangan, Klaten, yang merantau membawa pikulan berisi dagangan ke kota. Kisah ini penting karena angkringan bukan sekadar kuliner yang kemudian mendapat label khas Yogyakarta; ia merupakan warisan keterampilan dan jaringan antarpedagang dari desa ke kota. Penelusuran sejarah menyebut Karso Djukut, yang juga dikenal sebagai Mbah Karso atau Jukut, merantau ke Solo dan berjualan makanan, termasuk terikan yang dibawa dengan pikulan. Tradisi ini memperlihatkan bahwa budaya pikulan Klaten Solo dibangun melalui kerja sehari-hari dan perpindahan orang, bukan lahir dari satu rancangan besar. Keluarga meneruskan kecakapan berdagang, sementara para perantau membawa kebiasaan itu ke tempat baru.

Dari Pikulan ke Gerobak: Jejak Angkringan sebagai Warisan Jalanan

Dari pikulan keliling ke gerobak menetap

Pikulan menentukan cara angkringan berfungsi: penjual membawa makanan dan perlengkapan, sementara pembeli duduk atau jongkok di dekatnya untuk makan. Dalam kisah perkembangan usaha ini, Karso menambahkan kopi, teh, dan jahe ke dagangannya sekitar 1943; pikulan kemudian diatur agar dapat membawa makanan sekaligus minuman. Kebiasaan pembeli yang nangkring di dekat penjual dikaitkan dengan sebutan angkringan, sedangkan di Solo jenis warung ini dikenal sebagai hik, meski asal-usul istilah tersebut memiliki beberapa versi. Seiring waktu, pedagang banyak beralih dari berkeliling dengan pikulan ke gerobak yang lebih praktis dan memungkinkan mereka menetap di satu lokasi. Inilah evolusi warisan kuliner jalanan yang paling nyata: alat dagang berubah mengikuti kebutuhan, tetapi kedekatan antara penjual dan pelanggan tetap menjadi bagian penting dari pengalaman angkringan.

Yogyakarta dan makna angkringan di Kotagede

Setelah berkembang di Solo, model berdagang ini menyebar ke Yogyakarta. Sejumlah kisah mengaitkan perkembangan angkringan Yogyakarta pada 1950-an dengan Mbah Pairo, perantau dari Klaten yang berjualan di sekitar Stasiun Tugu; kisah itu menjelaskan perannya dalam perkembangan angkringan, tetapi tidak membuktikan bahwa ia pencipta pertama usaha tersebut. Kehati-hatian semacam ini membuat sejarah angkringan Yogyakarta lebih menarik: tradisinya terbentuk melalui perpindahan dan perubahan, bukan satu titik asal yang sederhana. Di Kotagede, kawasan Masjid Gede Mataram dapat menjadi pintu untuk mengenal suasana kuliner setempat, termasuk angkringan atau wedangan sebagai tempat makan, berkumpul, dan beristirahat. Menurut saya, nilai angkringan Kotagede tradisional bukan hanya terletak pada kenangan masa lalu, melainkan pada kebiasaan sosial yang masih dapat dijalani. Pikulan mungkin telah digantikan gerobak, tetapi angkringan tetap mengundang orang untuk berhenti dan duduk bersama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!