Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Enam KEK Baru di Koridor Selatan: Pacitan Jadi Simpul Nilai Tambah

Enam KEK Baru di Koridor Selatan: Pacitan Jadi Simpul Nilai Tambah
Minat|Asia Tenggara

Koridor Ekonomi Selatan: Dari Pawitandirogo ke Kawasan Ekonomi Khusus

Kawasan ekonomi khusus Jatim di koridor selatan adalah rancangan pusat pertumbuhan baru di enam daerah pegunungan dan pesisir yang menghubungkan Pacitan, Ngawi, Magetan, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, dan Ponorogo dalam satu aglomerasi bernama Pawitandirogo, dengan fokus pada pariwisata, perikanan, agroforestri, dan ekonomi kreatif digital agar ekonomi wilayah barat tidak lagi tertinggal.

Inti kebijakan ini sederhana: memindahkan mesin pertumbuhan dari koridor industri berat di tengah–timur menuju koridor ekonomi selatan yang berbasis keunggulan lokal. Pemerintah pusat dan pemerintah provinsi sedang mematangkan rencana pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di enam daerah tersebut sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah selatan-barat. Langkah ini bukan sekadar penambahan titik di peta, melainkan upaya mengubah struktur ekonomi yang selama ini lebih memanjakan kawasan yang sudah maju.

Pacitan diproyeksikan memegang peran strategis dalam peta ekonomi baru ini sebagai salah satu simpul ekonomi kawasan selatan. Dengan menempatkan wilayah yang selama ini relatif terpencil menjadi pintu depan koridor selatan, pemerintah mengirim sinyal bahwa pembangunan tidak boleh lagi berpusat di satu sisi provinsi saja. Pertanyaannya: apakah desainnya cukup berani untuk menghindari jebakan KEK yang hanya ramai di atas kertas?

Enam KEK Baru di Koridor Selatan: Pacitan Jadi Simpul Nilai Tambah

Pacitan, Pariwisata Bahari, dan Perikanan: Mengubah Pantai Jadi Nilai Tambah

Pacitan tidak ditempatkan sebagai pemain kecil; ia disiapkan sebagai pusat Southern Value-Addition dengan kekuatan utama pariwisata bahari, kelautan, dan perikanan. Julukan Kota 1001 Gua bukan lagi sekadar slogan turistik, tetapi aset ekonomi. Pariwisata bahari Pacitan, sektor kelautan, dan perikanan, ditambah keberadaan Jalur Lintas Selatan (JLS), disebut sebagai modal utama untuk menciptakan nilai tambah ekonomi kawasan.

Dalam skema ini, pariwisata bahari Pacitan tidak boleh berhenti pada kunjungan wisata; ia harus terhubung dengan UMKM, jasa wisata, sampai industri pengolahan hasil laut. Menurut anggota Komisi B DPRD, rencana KEK ini adalah momentum untuk mengangkat potensi ekonomi Pacitan dan daerah sekitarnya yang selama ini belum tergarap optimal. Itu pengakuan jujur bahwa selama ini perikanan Jawa Timur di koridor selatan belum mendapat infrastruktur dan perhatian yang sebanding dengan potensinya.

Namun nilai tambah tidak akan terjadi jika Pacitan sekadar menjadi titik pengumpulan bahan mentah. Jalur logistik selatan yang semakin terbuka melalui JLS harus dipakai untuk mendorong pengolahan ikan, cold chain, dan jaringan distribusi modern. Tanpa itu, pariwisata dan perikanan Jawa Timur di kawasan ini berisiko tetap berada di level ekonomi musiman, bukan fondasi pertumbuhan jangka panjang.

Strategi Tanpa Industri Berat: Saatnya Pariwisata, Agroforestri, dan Ekonomi Kreatif

Pilihan pemerintah untuk tidak mendorong industri berat di Pawitandirogo bukan kelemahan, melainkan strategi yang masuk akal. Kontur wilayah yang didominasi pegunungan dinilai kurang ideal untuk pengembangan industri berat maupun manufaktur skala besar. Karena itu, arah ekonomi kawasan lebih difokuskan pada pariwisata, agroforestri, perikanan, hingga ekonomi kreatif berbasis digital.

Ini berarti diversifikasi ekonomi lokal sedang diarahkan melampaui sektor tradisional berbasis komoditas mentah menuju ekonomi yang bertumpu pada pengalaman, jasa, dan kreativitas. Konsep KEK yang digodok di kawasan ekonomi khusus Jatim ini secara tegas tidak diarahkan untuk mengejar industri berat, melainkan untuk mengolah keunggulan lokal menjadi rantai ekonomi bernilai tambah yang menghubungkan pariwisata, UMKM, perikanan, hingga sektor kreatif.

Di sinilah peluang ekonomi kreatif dan infrastruktur perdagangan modern harus dimanfaatkan. Dengan konektivitas digital dan fisik yang lebih baik, pelaku ekonomi kreatif di kota-kota seperti Madiun atau Ponorogo bisa memproduksi konten, jasa, dan produk yang bertumpu pada cerita koridor ekonomi selatan: wisata bahari, budaya pesisir, hingga kuliner hasil laut. Tanpa keberanian mengembangkan ekosistem semacam ini, KEK rawan kembali ke pola lama: kawasan bergelar khusus, ekonomi tetap biasa-biasa.

Konektivitas dan Pemberdayaan: Menentukan Siapa yang Diuntungkan KEK

Rencana besar apa pun akan runtuh jika konektivitas diabaikan. Pemerintah daerah mengakui penguatan konektivitas menjadi pekerjaan penting agar arus barang dan jasa dari maupun menuju Pacitan semakin lancar. Pembangunan konektivitas bahkan disebut sebagai pekerjaan penting sebelum KEK tersebut benar-benar berjalan. Tanpa jalan yang layak, pelabuhan yang efektif, dan logistik yang efisien, label KEK hanya menambah papan nama, bukan pasar.

Lebih dari infrastruktur fisik, pertaruhan utama ada pada siapa yang menikmati pertumbuhan. Anggota Komisi B DPRD Jatim mengingatkan bahwa keberhasilan KEK tidak boleh hanya diukur dari jumlah investasi yang masuk; tanpa kesiapan infrastruktur dan keterlibatan masyarakat, warga lokal bisa menjadi penonton di wilayahnya sendiri. Karena itu pelaku UMKM dan nelayan lokal wajib dilibatkan secara aktif agar pertumbuhan ekonomi ini bersifat inklusif.

Pemerintah bahkan menegaskan bahwa pelaku UMKM, nelayan, petani, pekerja pariwisata, dan pelaku ekonomi kreatif tidak cukup ditempatkan sebagai penerima dampak, tetapi perlu masuk dalam rantai nilai yang tercipta dari keberadaan KEK. Ini standar yang tepat, tetapi juga tinggi. Jika pelatihan, pembiayaan, dan pendampingan tidak berjalan secepat pembangunan fisik, koridor ekonomi selatan akan didominasi pemain besar yang datang dari luar, sementara masyarakat lokal kembali mengulang cerita lama: mengalah di tanah sendiri.

Dari Aglomerasi ke Koridor: Syarat KEK Selatan Agar Tidak Jadi Proyek Simbolik

Pada akhirnya, Pawitandirogo hanya akan berarti jika berubah dari sekadar kumpulan wilayah administratif menjadi satu kawasan ekonomi yang saling terhubung. Pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi sedang mematangkan konsep pengembangan ini dengan menyesuaikan karakter dan potensi masing-masing daerah. Rencana ini sekaligus menjadi upaya mendorong pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi agar tidak terkonsentrasi di kawasan timur dan tengah saja.

Secara politik, kebijakan ini menjawab tuntutan pemerataan. Secara ekonomi, keberhasilannya akan diuji oleh tiga hal: kemampuan memaksimalkan pariwisata bahari Pacitan dan perikanan Jawa Timur di selatan, kedalaman diversifikasi ke ekonomi kreatif dan perdagangan modern, serta keberanian menjadikan masyarakat lokal sebagai pelaku utama, bukan pelengkap.

Koridor ekonomi selatan berpotensi menjadi contoh bagaimana kawasan ekonomi khusus Jatim bisa keluar dari pola KEK generik dan menjadi proyek transformasi nyata. Jika investasi diarahkan untuk membangun rantai nilai lokal, bukan sekadar fasilitas untuk investor, enam daerah KEK baru di selatan-barat akan menjadi laboratorium paling serius untuk menguji apakah model pembangunan yang lebih seimbang dan berbasis potensi lokal benar-benar mungkin diwujudkan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!