Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Efisiensi Energi dan Ekonomi Sirkular: Senjata Baru Daya Saing Manufaktur

Efisiensi Energi dan Ekonomi Sirkular: Senjata Baru Daya Saing Manufaktur
Minat|Asia Tenggara

ESG Mengubah Peta Persaingan Manufaktur

Keberlanjutan bisnis dalam konteks manufaktur modern adalah strategi yang mengintegrasikan efisiensi energi manufaktur, ekonomi sirkular, dan tata kelola perusahaan baik ke dalam keputusan operasional, investasi, serta inovasi, sehingga perusahaan mampu menurunkan emisi, mengurangi limbah, dan tetap meningkatkan profitabilitas jangka panjang. Saat ini Environmental, Social and Governance (ESG) diakui sebagai tren yang mengubah perspektif di dunia bisnis dan investasi. Ini bukan lagi label hijau di laporan tahunan, melainkan filter utama investor saat menilai risiko dan peluang jangka panjang sebuah perusahaan.

Perusahaan yang cepat mengadopsi ESG strategi bisnis mulai memanen keuntungan: akses pinjaman dengan bunga lebih rendah, loyalitas karyawan yang lebih kuat, serta reputasi publik yang membaik. Sebaliknya, perusahaan yang masih menganggap ESG sebagai beban kepatuhan cenderung tertinggal. Tantangannya, banyak korporasi masih gamang menentukan indikator dan matriks keberlanjutan yang tepat. Di tengah kebingungan itu, perusahaan manufaktur besar di kawasan ASEAN menunjukkan bahwa integrasi ESG yang serius dapat diterjemahkan menjadi penghargaan keberlanjutan bisnis sekaligus pertumbuhan keuangan yang konkret.

Semen Tonasa: Efisiensi Energi Rp15,7 Miliar Bukan Sekadar Simbol

Kisah PT Semen Tonasa memperlihatkan bahwa efisiensi energi manufaktur dapat diukur dengan sangat konkret. Tim inovasi Go Beyond perusahaan ini meraih predikat Excellent, penghargaan tertinggi pada ajang International Quality & Productivity Convention (IQPC) yang digelar di Bangkok pada 14–16 September. Melalui optimalisasi proses dan penerapan passive cooling pada Cement Kiln IV, Specific Thermal Energy Consumption (STEC) turun dari 812 menjadi 800 Kcal/Kg Clinker dalam 12 bulan.

Penurunan konsumsi energi tersebut menghasilkan efisiensi energi panas senilai sekitar Rp15,705 miliar sekaligus berkontribusi pada penurunan emisi karbon sekitar 22.000 ton CO₂. Ini membantah anggapan bahwa efisiensi energi hanya jargon teknis: ada angka nyata yang langsung menyentuh biaya produksi dan jejak emisi. Di tengah industri semen yang padat energi, predikat Excellent ini menjadi bukti bahwa inovasi internal bisa sekaligus memperkuat operational excellence dan posisi perusahaan di panggung internasional.

Efisiensi Energi dan Ekonomi Sirkular: Senjata Baru Daya Saing Manufaktur

SCG: Ekonomi Sirkular ASEAN sebagai Keunggulan Kompetitif

Jika Semen Tonasa menonjol di efisiensi energi, SCG tampil agresif menjadikan ekonomi sirkular ASEAN sebagai mesin daya saing. Perusahaan ini menegaskan bahwa penerapan prinsip ekonomi sirkular berbasis Inclusive Green Growth adalah strategi utama untuk memperkuat daya saing bisnis sekaligus mengakselerasi target Net Zero 2050. Dalam sebuah panel diskusi bertema circular economy, SCG memaparkan praktik konkret mulai dari sistem waste-to-value di PT Semen Jawa hingga circular production & sourcing model di lini kemasan.

Melalui teknologi Alternative Fuel & Alternative Raw Material (AF/AR) dan operasional fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF), SCG mentransformasi lonjakan volume sampah perkotaan—yang menjadi beban berat bagi banyak daerah—menjadi bahan bakar alternatif untuk kiln semen. Heat substitution di PT Semen Jawa mencapai 35% dengan penggunaan bahan baku alternatif 9,4% secara berat. Dalam konteks bisnis, hasilnya nyata: penjualan SCG di Indonesia tumbuh 39% year-on-year menjadi Rp6,51 triliun, sementara EBITDA yang disesuaikan naik 35% menjadi Rp24,1 triliun pada semester pertama. Pencapaian ini memperlihatkan bahwa ekonomi sirkular bukan beban biaya, melainkan model profit yang baru.

Efisiensi Energi dan Ekonomi Sirkular: Senjata Baru Daya Saing Manufaktur

GCG SIG: Tata Kelola sebagai Perisai Resiliensi

Di sisi lain, PT Semen Indonesia (SIG) menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan baik bukan pelengkap di laporan, tetapi perisai resiliensi menghadapi gejolak industri. SIG meraih penghargaan ESG Insight Award kategori Tata Kelola sektor Material Konstruksi berkat kinerja dan inisiatif pada pilar governance. Perusahaan ini berpegang pada lima prinsip Good Corporate Governance (GCG)—transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian, dan kewajaran—di setiap tahapan operasi.

Menurut manajemen SIG, konsistensi GCG membuat bisnis lebih resilience menghadapi tantangan industri dan situasi ekonomi yang dinamis, termasuk kondisi overcapacity yang memperketat persaingan di industri semen. Komite Keberlanjutan yang dibentuk sejak 2021 memantau pelaksanaan agenda keberlanjutan dan mendukung target SIG Sustainability Roadmap 2030. Di saat banyak perusahaan masih bingung memaknai ESG, SIG menjadikan tata kelola sebagai struktur formal yang terukur, antara lain dengan mengacu pada ASEAN Corporate Governance Scorecard dan regulasi Otoritas Jasa Keuangan.

Menuju Gelombang Baru Penghargaan Keberlanjutan Bisnis

Rangkaian penghargaan keberlanjutan bisnis yang diraih Semen Tonasa, SCG, dan SIG bukan fenomena terpisah. ESG sudah mengubah perilaku investasi: banyak investor kini lebih tertarik pada perusahaan yang mampu mengelola risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola secara efektif karena faktor tersebut dianggap mempengaruhi kinerja keuangan jangka panjang. Di tengah tren ini, muncul pula berbagai program rating dan awarding yang mendorong praktik keberlanjutan, termasuk untuk pemerintah daerah, korporasi, dan kawasan industri.

Namun, arah ke depan tidak otomatis mulus. Survei menunjukkan banyak perusahaan masih kurang memahami isu ESG dan kesulitan menentukan indikator kinerja yang relevan. Di sinilah contoh konkret seperti efisiensi energi Rp15,705 miliar di Semen Tonasa, integrasi ekonomi sirkular di rantai nilai SCG, dan struktur GCG SIG menjadi referensi praktis. Pesannya jelas: di kawasan ASEAN, keunggulan kompetitif manufaktur kini ditentukan oleh sejauh mana perusahaan mampu menjadikan ESG sebagai strategi inti, bukan sekadar hiasan laporan tahunan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!