Mengukur keberhasilan dari perubahan perilaku
Operasi Patuh 2026 adalah operasi lalu lintas nasional selama 14 hari yang menggabungkan penegakan aturan, edukasi, dan pendekatan persuasif untuk mengurangi pelanggaran serta risiko kecelakaan. Berlangsung pada 26 Oktober hingga 8 November 2026, operasi ini seharusnya dinilai bukan dari banyaknya tilang, melainkan dari apakah pengguna jalan menjadi lebih tertib setelahnya. Korlantas mengutamakan ETLE lalu lintas, edukasi keselamatan berkendara, dan teguran simpatik; penindakan diarahkan pada pelanggaran yang berpotensi memicu kecelakaan.
Arah tersebut tepat, sebab hukuman saja tidak menjelaskan mengapa aturan perlu dipatuhi. Teguran yang disertai penjelasan dapat membantu pengendara memahami risiko, sementara tilang elektronik memberi penegakan yang lebih terukur. Namun, pendekatan humanis tidak boleh mengaburkan konsekuensi pelanggaran berbahaya. Operasi ini akan berarti jika kombinasi edukasi dan penindakan menghasilkan kebiasaan aman yang bertahan jauh setelah 8 November.
Data kecelakaan menuntut kewaspadaan berkelanjutan
Alasan operasi ini tetap mendesak terlihat pada data kecelakaan yang disampaikan dalam apel pasukan di Hulu Sungai Selatan. Jumlah kejadian turun dari 947 kasus pada 2024 menjadi 871 pada 2025, sementara korban meninggal berkurang dari 389 menjadi 267. Akan tetapi, korban luka berat justru naik dari 130 menjadi 139 orang.
Penurunan angka kecelakaan dan kematian patut dicatat, tetapi kenaikan korban luka berat menunjukkan bahwa keselamatan belum tercapai. Karena itu, operasi tidak cukup berfokus pada pelanggaran yang mudah terlihat; edukasi dan pengawasan harus menyentuh perilaku yang meningkatkan risiko bagi semua pengguna jalan. Bagi masyarakat, imbauannya konkret: gunakan helm saat mengendarai sepeda motor, kenakan sabuk keselamatan di mobil, patuhi rambu, dan jangan melawan arus. Kepatuhan sehari-hari lebih penting daripada tertib hanya ketika petugas hadir.
Apel di Hulu Sungai Selatan menguji pelaksanaan di daerah
Di Kandangan, Bupati Hulu Sungai Selatan H. Syafrudin Noor memimpin apel gelar pasukan Operasi Patuh Intan 2026 di halaman Polres HSS. Apel tersebut melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan jajaran terkait, menandai bahwa keselamatan lalu lintas membutuhkan kerja bersama, bukan tugas kepolisian semata.
Personel diminta memperluas sosialisasi, penyuluhan, dan imbauan, termasuk kepada pelajar di sekolah. Mereka juga perlu memperkuat pengaturan pada titik rawan pelanggaran, kecelakaan, dan kemacetan, serta kawasan pusat aktivitas masyarakat. Perhatian pada karhutla dan kabut asap juga penting: jarak pandang yang berkurang dapat membahayakan pengendara. Arahan agar petugas hadir, responsif, humanis, dan tegas menetapkan standar yang masuk akal—tetapi kualitasnya akan terlihat dari pelayanan serta pengawasan selama operasi, bukan dari apel pembuka saja.
Kebiasaan tertib harus melewati batas operasi
Dengan pelaksanaan serentak di seluruh Indonesia dari 26 Oktober sampai 8 November, Operasi Patuh 2026 memberi jangka waktu terbatas untuk memperkuat disiplin berkendara. Tugas berikutnya ialah memastikan edukasi keselamatan tidak berhenti saat operasi usai. Pengendara perlu mempertahankan kebiasaan memakai perlengkapan keselamatan, mengikuti rambu, dan menghormati pengguna jalan lain tanpa menunggu teguran atau kamera ETLE.
Kesimpulannya, perpaduan ETLE, edukasi, dan teguran simpatik menawarkan pendekatan yang lebih berguna daripada mengejar jumlah penindakan. Operasi Patuh Intan di Hulu Sungai Selatan menunjukkan bagaimana arahan nasional diterjemahkan melalui koordinasi daerah dan penyuluhan. Ukuran akhirnya tetap sederhana: apakah pelanggaran berisiko berkurang dan keselamatan meningkat setelah operasi berakhir. Jika jawabannya bergantung pada hadirnya petugas, perubahan perilaku belum tuntas.






