Mobilitas kampus ditentukan jarak dan ongkos
Transportasi mahasiswa adalah pilihan cara bepergian ke kampus yang mempertimbangkan jarak, pengeluaran, waktu, dan kenyamanan sehari-hari. Di Solo, keputusan itu tampak dalam dua kebiasaan berbeda: April berjalan kaki untuk perjalanan dekat, sedangkan Kiky memilih ojek daring dan menghindari antrean Pertalite. Kisah mereka menegaskan bahwa kendaraan pribadi bukan selalu pilihan paling masuk akal; cara bepergian sebaiknya mengikuti kebutuhan, bukan sekadar ketersediaan kendaraan.
April tetap memiliki sepeda motor di kos, tetapi lebih memilih berjalan kaki ke kampus. Jaraknya sekitar 1 kilometer, cukup dekat baginya untuk ditempuh tanpa mengeluarkan BBM. Antrean Pertalite dan harga Pertamax yang ia nilai mahal turut mendorongnya mengurangi pemakaian motor. Pada 2 November, daftar harga yang dicantumkan untuk Pertalite adalah Rp10.000 dan Pertamax Rp15.950. Angka itu memberi konteks pada tekanan biaya, tetapi tidak menentukan sendiri pilihan terbaik bagi setiap mahasiswa.
Jalan kaki menghemat BBM, sekaligus menambah gerak
Untuk jarak kos-kampus yang dekat, jalan kaki kampus adalah pilihan yang sulit dibantah dari sisi penghematan BBM: perjalanan rutin tidak membuat motor harus dinyalakan atau diisi bahan bakar. April menyebut jarak sekitar 1 kilometer sebagai alasan ia memilih berjalan kaki daripada membayar BBM untuk perjalanan singkat. Motor tetap disimpan untuk keperluan penting atau perjalanan yang lebih jauh, sehingga keputusan ini bukan penolakan terhadap kendaraan pribadi, melainkan pemakaian yang lebih selektif.
Ada manfaat lain yang tak tercatat sebagai penghematan uang. April memandang perjalanan itu sebagai kesempatan berolahraga dan tetap aktif tanpa menyediakan waktu khusus. Namun, jalan kaki bukan jawaban universal: jarak, kondisi rute, cuaca, dan jadwal kuliah dapat membuat pilihan tersebut tidak praktis. Nilai keputusan April justru ada pada kecocokannya dengan kebutuhan sehari-hari. Bila kampus dekat, berjalan dapat mengurangi biaya perjalanan kampus sekaligus menambah gerak; bila tidak, mahasiswa perlu menimbang alternatif lain.
Ojol menawarkan jalan keluar dari antrean
Berbeda dari April, Kiky menggunakan ojol ke kampus alih-alih motor pribadi dan menghindari antrean Pertalite. Pilihan ini memperlihatkan bahwa sebagian mahasiswa menukar kendali memakai kendaraan sendiri dengan layanan perjalanan yang tidak mengharuskan mereka mengisi BBM sendiri. Akan tetapi, bahan yang tersedia tidak mencantumkan tarif perjalanan Kiky, jarak yang ditempuh, atau alasan lain di balik pilihannya. Karena itu, tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa ojol selalu lebih murah daripada motor pribadi atau berjalan kaki.
Perbandingan yang berguna bukanlah menetapkan satu pemenang, melainkan melihat biaya dan hambatan yang dihindari. April mengurangi pemakaian motor karena jarak dekat, kebutuhan menghemat BBM, dan antrean. Kiky menghindari antrean dengan memesan ojol. Bagi mahasiswa, biaya perjalanan kampus tidak hanya soal harga bahan bakar: waktu menunggu dan kebutuhan perjalanan juga berpengaruh, meski nilai pastinya tidak tersedia dalam kisah ini. Sebelum memilih, ukur jarak dan pertimbangkan apakah berjalan, memakai kendaraan sendiri, atau memesan ojol paling sesuai untuk perjalanan hari itu.
Pilihan terbaik adalah yang sesuai kebutuhan
Dua pengalaman ini menggambarkan pilihan mobilitas mahasiswa yang berbeda, bukan resep tunggal untuk semua orang. April memanfaatkan jarak dekat untuk berjalan kaki dan membiarkan motor tetap tersedia bagi perjalanan penting atau jauh. Kiky memilih ojol agar tidak perlu memakai motor pribadi dan menghadapi antrean Pertalite. Keduanya menunjukkan bahwa kebiasaan transportasi mahasiswa dapat berubah ketika biaya dan kemudahan harian ikut dipertimbangkan.
Kesimpulannya, berjalan kaki paling masuk akal ketika kampus dapat dijangkau dengan nyaman, sementara ojol dapat menjadi alternatif bagi yang ingin menghindari penggunaan motor dan antrean BBM. Tidak ada bukti bahwa satu opsi selalu lebih murah dalam setiap situasi, terutama karena tarif ojol Kiky tidak disebutkan. Mahasiswa sebaiknya menilai jarak, waktu, kenyamanan, dan pengeluaran aktual sebelum berangkat. Pilihan yang cermat bukan soal meninggalkan motor sepenuhnya, melainkan memakai moda yang paling sesuai dengan kebutuhan perjalanan.






