Dari Akses ke Ambisi: Mengapa Program Pelatihan AI Ini Penting
Program pelatihan AI Indosat–Adobe bersama Kementerian Ekonomi Kreatif adalah inisiatif terstruktur untuk melatih puluhan ribu hingga jutaan kreator dan pekerja kreatif agar mampu menggunakan kecerdasan buatan dan alat desain digital, dengan kombinasi pelatihan, akses aplikasi premium, dan peluang monetisasi yang dirancang langsung menyasar kebutuhan ekonomi kreatif yang sedang tumbuh pesat.
Taruhan besarnya jelas: sektor ekonomi kreatif sudah menyumbang Rp1.611,2 triliun atau 7,28% terhadap PDB pada 2024. Artinya, setiap peningkatan kapasitas kreator akan langsung berdampak ke skala ekonomi nasional. Masalahnya, talenta kreatif melimpah, tetapi kesempatan dan infrastruktur digital belum seimbang. Di panggung IDEATALKS bertema “Indonesia Has Talent. So What's Missing?”, Indosat, Adobe, dan para kreator menyimpulkan bahwa yang hilang bukan bakat, melainkan jembatan dari karya ke bisnis dan kekayaan intelektual yang berkelanjutan. Program pelatihan AI ini mencoba mengisi celah itu dengan pendekatan agresif: target 27 ribu peserta hingga 2026 sebagai langkah awal sebelum mengincar 2 juta talenta pada 2030.

Strategi Besar: 27 Ribu Peserta ke 2 Juta Talenta AI
Inti program pelatihan AI ini adalah ambisi jangka panjang: melatih 2 juta talenta AI pada 2030, bukan hanya pengguna aplikasi, tetapi calon produsen teknologi. Untuk mencapainya, Indosat bersama Kementerian Ekonomi Kreatif dan Adobe menargetkan 27 ribu peserta hingga akhir 2026 sebagai fase validasi model pembinaan, kurikulum, dan jaringan ekosistem.
Pendekatan bertahap ini masuk akal. Di fase awal, pelatihan bisa fokus pada kreator yang sudah aktif agar dampak ke pasar cepat terlihat, sebelum melebar ke pelajar, UMKM, hingga profesional lintas sektor. Di sisi lain, Indosat menyadari bahwa tanpa talenta lokal yang menguasai AI, negara akan selamanya berada di posisi konsumen teknologi, bukan produsen. Karena itu, pengembangan talenta ditempatkan sejajar dengan investasi jaringan dan kerja sama teknologi dengan pemain global lain seperti Nokia dan Nvidia. AI tidak diposisikan sebagai ancaman kerja, tetapi sebagai pembeda; dokter yang menguasai AI, misalnya, akan lebih kompetitif dibanding dokter yang tidak. Logika yang sama berlaku untuk kreator konten.

Adobe Express Gratis dan Create and Earn: Insentif Nyata bagi Kreator Lokal
Kekuatan program ini bukan hanya kelas pelatihan, tetapi kombinasi akses alat dan jalur monetisasi yang konkret. Melalui IM3 dan Tri, pelanggan yang membeli paket data bundling khusus mendapat Adobe Express Premium gratis hingga enam bulan. Dari sisi Adobe, langganan premium Adobe Express ini bahkan dibuka gratis selama enam bulan untuk hingga 100 juta pelanggan Indosat. Bukan lagi wacana “akses teknologi untuk semua”, tetapi akses kelas dunia yang bisa langsung diunduh dan dipakai.
Lebih menarik lagi, Adobe meluncurkan program Adobe Create and Earn, dengan Indonesia sebagai negara pertama yang merasakannya. Di sini, talenta kreator lokal didorong membuat template untuk Adobe Express dan memonetisasinya, menciptakan roda ekonomi baru di dalam ekosistem desain digital. Inilah titik di mana program pelatihan AI bertemu dengan peluang cuan nyata: kreator belajar AI, memakai Adobe Express gratis, lalu mengubah karya jadi aset digital yang bisa dijual berulang. Kalau dieksekusi konsisten, ini bisa mengubah pola karier kreator dari sekadar pemburu endorsement menjadi pemilik IP digital.
Revolusi Kreator Konten atau Sekadar Kampanye Operator?
Indosat secara terbuka menyebut ambisinya: merevolusi kreator konten dengan cara “mendemokratisasi kecerdasan dan kreativitas” lewat kolaborasi dengan Adobe, yang dianggap sebagai pilihan utama insan kreatif global. Untuk enam bulan pertama, alat premium diberikan gratis agar kreator bisa mengasah keterampilan, lalu memonetisasi dan memasarkan hasilnya. Di atas kertas, ini terdengar seperti revolusi yang ramah pengguna.
Namun revolusi tidak terjadi hanya karena akses aplikasi dibuka. Tantangan sesungguhnya ada di kualitas program pelatihan AI: apakah materi benar-benar menyentuh problem harian kreator (algoritma platform, format konten pendek, manajemen IP), atau berhenti di tutorial dasar fitur aplikasi. Talkshow IDEATALKS yang mempertemukan Indosat, Adobe, dan kreator populer seperti Tahilalats menunjukkan kesadaran akan pentingnya ekosistem—bukan hanya software. Jika diskusi teknis, mentoring bisnis, dan akses pasar berjalan konsisten, ini bisa menjadi model kolaborasi operator–platform–pemerintah yang patut ditiru. Jika tidak, risiko terbesar program ini adalah berakhir sebagai kampanye bundling data yang dikemas dengan narasi AI.
Dampak ke Ekonomi Kreatif dan Apa yang Harus Dilakukan Kreator Sekarang
Dengan kontribusi ekonomi kreatif yang sudah besar terhadap PDB, setiap program yang menggabungkan pelatihan AI, akses alat, dan monetisasi memiliki efek berlipat. Di sisi infrastruktur, peran operator telekomunikasi krusial karena AI membutuhkan jaringan dan teknologi sebagai fondasi. Di sisi talenta, masalahnya bukan kurang bakat, tetapi kurang kesempatan. Program pelatihan AI Indosat–Adobe–Kementerian Ekonomi Kreatif mencoba membalik keadaan itu dengan angka target yang sangat agresif.
Bagi kreator, menunda belajar AI sama saja menyerahkan keunggulan ke kreator lain yang lebih dulu beradaptasi. Langkah praktisnya jelas: manfaatkan periode Adobe Express gratis untuk membangun portofolio, ikuti pelatihan resmi ketika kuota 27 ribu peserta dibuka, dan eksplorasi program Create and Earn untuk mengubah desain menjadi aset digital yang menghasilkan. AI sudah “ke sinilah kita menuju” kata perwakilan Indosat; pertanyaannya bukan lagi apakah kreator akan memakai AI, tetapi apakah mereka akan menjadi pekerja yang tergantikan oleh orang yang memakai AI, atau pemimpin gelombang kreator baru yang memadukan imajinasi manusia dengan mesin.





