Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

23 Perusahaan Menunda IPO, Pasar Belum Kondusif

23 Perusahaan Menunda IPO, Pasar Belum Kondusif
Minat|Asia Tenggara

Penundaan mencerminkan kehati-hatian

Penawaran umum perdana saham (IPO) adalah proses ketika perusahaan menjual saham kepada masyarakat untuk pertama kalinya, sekaligus membuka akses penghimpunan dana dari investor publik. Sebanyak 23 perusahaan memilih menunda rencana IPO sepanjang 2026 karena menilai pasar belum mendukung untuk melangkah ke bursa. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa dari 38 perusahaan yang masuk proses IPO, tujuh telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), delapan masih menjalani proses, dan 23 menunda rencana tersebut. Angka penundaan ini bukan sekadar daftar perusahaan yang batal melantai; lebih tepat dibaca sebagai tanda bahwa calon emiten tak ingin melepas saham ketika peluang penghimpunan dana dinilai kurang menarik. Keputusan menunggu dapat menjaga perusahaan dari penawaran yang tidak sesuai harapan, tetapi juga menunda akses pada modal publik yang mungkin dibutuhkan untuk rencana bisnis.

Pasar dan kesiapan perusahaan sama-sama menentukan

Alasan penundaan tidak berhenti pada naik-turunnya harga saham. OJK menyebut keadaan pasar modal dan perekonomian ikut membentuk penilaian perusahaan tentang waktu yang tepat untuk menawarkan saham. Ketika pasar modal bergejolak dan prospek ekonomi belum memberi keyakinan yang cukup, perusahaan berisiko menghimpun dana pada momentum yang kurang menguntungkan. Namun, kondisi internal juga berperan: sebagian calon emiten mungkin belum siap, sementara yang lain menilai keadaan pasar belum tepat. Agus Firmansyah, pejabat OJK yang menangani pengaturan dan pengembangan pasar modal, menyatakan bahwa perusahaan mempertimbangkan kesiapan sendiri sekaligus kondisi pasar sebelum IPO. Sikap ini masuk akal karena IPO bukan sekadar pencatatan saham, melainkan keputusan pendanaan yang menguji minat investor. Karena itu, memaksakan jadwal saat persiapan atau pasar belum memadai berpotensi lebih merugikan daripada menunggu.

Penghimpunan dana tetap berjalan, tetapi lewat beragam jalur

Penundaan IPO tidak berarti seluruh pasar penghimpunan dana berhenti. Hingga 30 Oktober 2026, OJK mencatat 170 penawaran umum dengan nilai emisi Rp 202 triliun. Pada saat yang sama, antrean penawaran umum tercatat sekitar Rp 27,9 triliun, mencakup IPO saham, penawaran terbatas, efek bersifat utang dan sukuk, serta bentuk penawaran lainnya. Perbedaan antara angka-angka ini penting: antrean tersebut bukan daftar IPO saham semata, sehingga tak bisa dianggap sebagai dana yang pasti akan dihimpun calon emiten. Data itu menunjukkan perusahaan masih menggunakan beragam jalur di pasar modal, sementara sebagian calon emiten memilih menahan penawaran saham. Bagi perusahaan yang menunda, konsekuensinya adalah rencana menghimpun modal dari investor publik harus menunggu momentum yang lebih baik; kebutuhan pendanaan tidak otomatis lenyap, tetapi opsi dan waktunya dapat berubah.

Target berikutnya bergantung pada perbaikan kondisi

BEI menargetkan 25 perusahaan melantai pada 2027, lebih rendah daripada sasaran 50 perusahaan untuk 2026. Target baru itu akan lebih masuk akal jika kondisi pasar membaik dan perusahaan merasa siap, bukan sekadar karena angka pencatatan perlu dikejar. BEI juga melihat peluang dari peningkatan investasi di sektor industri dan manufaktur serta restrukturisasi perusahaan milik negara melalui Danantara, yang dapat membuka kebutuhan pembiayaan dan calon perusahaan tercatat. Namun, peluang tersebut belum menjamin target tercapai: keputusan tetap bergantung pada kesiapan emiten dan minat investor ketika penawaran dilakukan. Pada akhirnya, 23 perusahaan tunda IPO memberi pesan jelas bahwa akses ke pasar publik tidak cukup ditopang target bursa. Pasar yang lebih kondusif, kondisi ekonomi yang lebih meyakinkan, dan persiapan perusahaan yang matang akan lebih menentukan apakah rencana IPO di BEI berlanjut atau kembali ditunda.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!