KuybeliKuybeli

Kota Regional Pimpin Transisi Ekonomi Hijau dari Malang hingga Surabaya

Kota Regional Pimpin Transisi Ekonomi Hijau dari Malang hingga Surabaya
Minat|Asia Tenggara

Ekonomi Hijau Kota: Dari Konsep ke Agenda Politik Lokal

Ekonomi hijau kota adalah pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi lokal dengan perlindungan lingkungan, tata ruang berkelanjutan, dan kesejahteraan sosial, sehingga kebijakan infrastruktur, layanan publik, dan aktivitas bisnis diarahkan untuk mengurangi dampak ekologis sekaligus menciptakan peluang usaha baru berbasis keberlanjutan bagi warga perkotaan. Di Jawa Timur, transformasi ini mulai tampak jelas di kota-kota regional yang berani menjadikan pembangunan berkelanjutan sebagai bagian dari agenda politik sehari-hari. Wali kota tidak lagi hanya bicara soal jalan mulus dan mal megah, tetapi tentang bagaimana kota tumbuh tanpa merusak daya dukung lingkungan. Sikap ini penting: tanpa arah ekonomi hijau, kota regional berisiko tersandera oleh polusi, ketimpangan sosial, dan infrastruktur yang cepat usang. Karena itu, arah kebijakan hari ini akan menentukan kualitas hidup dan daya saing kota dalam dua dekade ke depan.

Wahyu Hidayat: Menempatkan Pembangunan Berkelanjutan di Panggung Nasional

Kehadiran Wali Kota Malang Wahyu Hidayat sebagai satu-satunya kepala daerah dalam sesi "Expanding Community-Based Impact into Scalable and Inclusive Green Economic System" pada The Bangun Bangsa Conference di Jakarta menunjukkan bahwa ekonomi hijau kota telah naik kelas menjadi isu kepemimpinan regional. Ia memaparkan strategi pembangunan berkelanjutan yang dijalankan Pemkot Malang, mulai dari peningkatan kualitas pelayanan publik, pengembangan sumber daya manusia, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagai satu paket kebijakan yang saling terkait. Sikap Wahyu tegas: keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi dari seberapa nyata manfaatnya dirasakan warga, termasuk akses pada layanan publik yang berkualitas dan kesempatan ekonomi yang inklusif. Forum yang mempertemukan unsur pemerintah, dunia usaha, dan akademisi ini sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas untuk memperkuat ekonomi hijau yang inklusif di tingkat kota.

Surabaya: Estetika Kota sebagai Pintu Masuk Ekonomi Berkelanjutan

Langkah Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta pengelola mal memendekkan pagar bukan sekadar soal estetika; ini adalah sinyal bahwa tata ruang dan desain kota adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan. Menindaklanjuti imbauan agar pagar mal tidak terlalu tinggi, Pakuwon Group memutuskan memendekkan pagar di Tunjungan Plaza dan Pakuwon Mall Surabaya Barat untuk menjaga tampilan gedung utama dan estetika kota. Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, menyebut perusahaan merapikan pagar sesuai arahan pemerintah kota untuk menjaga estetika perkotaan. Prosesnya konkret: pagar lama dibongkar, dipotong lebih pendek, lalu dipasang kembali di lokasi semula. Kebijakan seperti ini sering diremehkan, padahal ruang publik yang terbuka dan fasad bangunan yang tidak tertutup pagar tinggi adalah unsur penting dalam ekonomi hijau kota, karena mendorong interaksi sosial, akses pejalan kaki, dan identitas visual kota yang menarik bagi investasi berkelanjutan.

Kolaborasi Lintas Sektor: Fondasi Ekosistem Ekonomi Hijau Lokal

Kekuatan utama ekonomi hijau kota bukan terletak pada satu kebijakan, melainkan pada ekosistem kolaboratif yang menghubungkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan komunitas. Konferensi tempat Wahyu Hidayat berbicara mempertemukan seluruh unsur tersebut dan secara eksplisit membahas strategi memperkuat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Di sini terlihat pola baru: pemerintah daerah makin menyadari bahwa tanpa dukungan sektor swasta, konsep hijau akan berhenti di dokumen perencanaan; sementara tanpa peran kampus dan komunitas, inovasi dan edukasi publik akan berjalan lambat. Praktik di Surabaya, di mana perusahaan mall mengikuti arahan wali kota untuk menata pagar demi menjaga estetika kota, menunjukkan bahwa sektor swasta siap terlibat ketika pemerintah memberi arah jelas dan komunikatif. Kolaborasi semacam ini adalah modal sosial yang menentukan apakah jargon ekonomi hijau kota bisa berubah menjadi standar operasional harian pembangunan.

Pelajaran dari Malang dan Surabaya: Mengapa Kota Regional Harus Bergerak Sekarang

Dari panggung konferensi nasional hingga trotoar di depan pusat perbelanjaan, Malang dan Surabaya menunjukkan dua sisi penting transisi menuju ekonomi hijau kota: paradigma kebijakan dan praktik di lapangan. Malang mendorong pembangunan berkelanjutan dengan menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama, memadukan pelayanan publik, pengembangan SDM, dan pemberdayaan ekonomi sebagai satu strategi terpadu. Surabaya mengirim pesan bahwa estetika kota dan keterbukaan ruang bukan dekorasi, melainkan bagian dari cara kota tumbuh lebih sehat dan inklusif. Jika kota-kota regional menunda transisi ini, mereka berisiko terkunci pada model pertumbuhan yang boros energi dan tidak tahan terhadap krisis sosial maupun ekologis. Sebaliknya, kota yang berani menata ulang ruang, membangun kolaborasi lintas sektor, dan mengaitkan setiap kebijakan dengan visi pembangunan berkelanjutan akan lebih siap menghadapi tekanan ekonomi dan lingkungan yang makin kompleks.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!