Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Cadangan Devisa Menguat, Tapi Rupiah Masih Butuh Penopang Pajak dan Utang

Cadangan Devisa Menguat, Tapi Rupiah Masih Butuh Penopang Pajak dan Utang
Minat|Asia Tenggara

Cadangan Devisa Menguat: Tambahan Bantalan di Tengah Tekanan Rupiah

Cadangan devisa adalah kumpulan aset valuta asing yang dimiliki bank sentral untuk membiayai impor, membayar utang luar negeri, dan menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar di tengah gejolak pasar keuangan global dan perubahan arus modal internasional yang sering kali tidak terduga dan bersifat sangat fluktuatif. Posisinya naik menjadi 146,5 miliar dari 145,3 miliar pada Agustus, menyentuh titik tertinggi sejak Maret. Ini bukan sekadar angka di laporan bank sentral; kenaikan ini adalah tambahan bantalan bagi sektor eksternal yang tengah menghadapi ketidakpastian suku bunga global dan kuatnya dolar. Namun, pasar valuta asing tidak serta-merta mengubah pandangannya terhadap rupiah, yang masih diperdagangkan di kisaran belasan ribu per dolar dan menunjukkan bahwa tekanan belum mereda.

Pajak, Jasa, dan Utang Luar Negeri: Sumber Kenaikan yang Kontras

Sumber kenaikan cadangan devisa bulan Agustus menghadirkan kontras yang perlu disorot secara kritis. Bank sentral menegaskan bahwa perkembangan posisi cadangan devisa dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Dengan kata lain, rupiah stabilitas saat ini lebih bertumpu pada instrumen fiskal dan utang luar negeri, bukan pada penguatan penerimaan ekspor atau arus investasi portofolio yang organik. Ironisnya, estimasi otoritas pajak menunjukkan penerimaan pajak dan jasa justru turun sekitar 2% dibandingkan bulan sebelumnya. Artinya, kontribusi penerimaan pajak terhadap cadangan devisa meningkat bukan karena basis penerimaan yang menguat, melainkan karena kombinasi faktor akuntansi dan arus dana yang temporer. Ketergantungan pada pinjaman luar negeri sebagai penopang cadangan menambah lapisan risiko ketika arus modal global berbalik arah atau biaya pembiayaan utang naik tajam.

Intervensi Bank Sentral dan Rapuhnya Stabilitas Rupiah

Kenaikan cadangan devisa bukan berarti bank sentral bisa berdiam diri. Justru sebaliknya: tekanan terhadap rupiah membuat intervensi di pasar valuta asing harus berlanjut untuk menjaga rupiah stabilitas. Cadangan digunakan sebagai amunisi untuk menahan pelemahan, sehingga setiap tambahan devisa berisiko habis terserap oleh kebutuhan intervensi. Laporan riset menegaskan bahwa ruang peningkatan cadangan devisa dapat terbatas apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut dan bank sentral harus terus melakukan intervensi. Dari perspektif pasar, data kenaikan cadangan devisa hanya memberikan sentimen positif yang terbatas bagi rupiah dan obligasi pemerintah. Selama ketidakpastian suku bunga global dan kekuatan dolar belum mereda, setiap upaya stabilisasi rupiah akan menjadi permainan keseimbangan yang melelahkan: menahan volatilitas hari ini dengan mengorbankan ruang kenaikan cadangan devisa di masa depan.

Cadangan Devisa Memadai, Tapi Jalan Peningkatan Masih Terjal

Di atas kertas, posisi cadangan devisa dinilai memadai. Bank sentral menyebut cadangan mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, menjaga stabilitas makroekonomi, dan sistem keuangan. Nilainya setara dengan pembiayaan beberapa bulan impor dan pembayaran utang, melampaui standar kecukupan internasional, sehingga memberi bantalan terhadap guncangan ekonomi global. Namun, proyeksi ke depan tidak sepenuhnya menggembirakan. Riset pasar memperkirakan cadangan devisa tetap memadai, tetapi ruang untuk mencatatkan kenaikan besar dalam jangka pendek relatif terbatas. Tanpa penguatan arus dana portofolio dan devisa hasil ekspor, akumulasi cadangan devisa akan berlangsung bertahap dan tidak merata. Bank sentral pun harus terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memperkuat ketahanan eksternal dan menjaga stabilitas ekonomi, sembari menimbang kapan intervensi rupiah dibutuhkan dan kapan cadangan harus diselamatkan dari penggerusan yang berlebihan.

Kesimpulan: Stabilitas Rupiah Butuh Basis Devisa yang Lebih Organik

Kenaikan cadangan devisa patut diapresiasi, tetapi komposisinya mengingatkan bahwa rupiah stabilitas saat ini masih dibangun di atas fondasi yang belum kokoh. Dominasi penarikan utang luar negeri pemerintah dan penerimaan pajak yang justru turun menunjukkan bahwa penopang cadangan devisa belum berasal dari kekuatan ekonomi yang organik. Selama bank sentral harus terus menguras cadangan untuk intervensi, ruang kenaikan akan terbatas dan risiko sektor eksternal tetap tinggi. Jalan keluar yang masuk akal adalah menggeser penopang cadangan dari utang ke arus devisa berkelanjutan: ekspor bernilai tambah, investasi portofolio yang stabil, dan basis penerimaan pajak yang melebar. Tanpa itu, setiap kabar baik soal kenaikan cadangan devisa akan terasa seperti kemenangan sementara dalam pertandingan panjang menjaga rupiah agar tidak terseret arus gejolak global.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!