Fort to Fort Nusantara Raya Run: Maraton Pusaka di Tengah Kota
Fort to Fort Nusantara Raya Run adalah event lari massal di Ternate yang menghubungkan tiga benteng bersejarah melalui rute 5K dan 10K, memadukan olahraga lari yang inklusif dengan promosi warisan sejarah dan pariwisata olahraga untuk menarik peserta dari berbagai kalangan dan memperkuat identitas kota sebagai destinasi sport tourism berbasis budaya. Sekitar 900 pelari dari Ternate dan luar Maluku Utara ikut ambil bagian dalam ajang ini, menjadikannya salah satu lari massal 2026 paling mencolok di kawasan tersebut. Diselenggarakan sebagai bagian dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XII, Fort to Fort Nusantara Raya Run sejak awal dirancang bukan sekadar lomba, melainkan pernyataan sikap: bahwa warisan sejarah tidak hanya layak dipamerkan di museum, tetapi juga dihidupkan lewat keringat dan langkah seribu kaki yang berlari bersama.

900 Pelari, Dua Kategori, Satu Pengalaman Sejarah
Keunggulan utama Fort to Fort Nusantara Raya Run adalah keberhasilannya menjadikan event lari Ternate ini terbuka untuk semua orang, dari pelari pemula hingga penghobi serius. Panitia menyediakan dua kategori, 5 kilometer (5K) dan 10 kilometer (10K), sehingga setiap peserta bisa memilih tantangan sesuai kemampuan fisik mereka. Dengan sekitar 900 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, termasuk delegasi daerah lain, acara ini terasa lebih seperti pesta kota daripada sekadar lomba kompetitif. "Sebanyak 900 pelari dari berbagai kalangan ikut meramaikan Nusantara Raya Run 5K dan 10K di Kota Ternate" adalah bukti bahwa lari massal 2026 ini berhasil menyentuh minat publik secara luas. Di tengah tren pariwisata olahraga, format fun run seperti ini adalah strategi cerdas: inklusif, meriah, dan mudah diikuti siapa saja.

Dari Kalamata ke Tolukko: Lintasan Lari di Atas Jejak Pusaka
Tidak banyak event lari yang membuat peserta berasa seperti menyusun ulang potongan sejarah dengan setiap langkah yang mereka ayunkan. Fort to Fort Nusantara Raya Run memulai rute dari Benteng Kalamata, melintasi kawasan Benteng Oranje, dan menyentuh garis akhir di Benteng Tolukko, menjadikan tiga situs ini bukan sekadar latar, tetapi bagian dari narasi lomba itu sendiri. Di sepanjang rute, pelari berolahraga sambil menyusuri jejak sejarah benteng-benteng peninggalan yang menjadi bagian dari identitas Kota Ternate. Rute ini digarap sebagai daya tarik utama pariwisata olahraga: kombinasi pemandangan laut, arsitektur kolonial, dan nuansa kota pusaka yang hidup. Dengan konsep seperti ini, warisan sejarah tidak ditempatkan di belakang kaca, melainkan di tengah lintasan, membuat peserta merasakan bahwa sejarah adalah ruang publik yang bisa dialami, bukan hanya dibaca.
Kepala Daerah Turun ke Lintasan, Sport Tourism Naik Kelas
Salah satu momen paling menarik dari Fort to Fort Nusantara Raya Run adalah kehadiran sejumlah kepala daerah yang ikut berlari bersama warga. Delegasi Rakernas JKPI XII, termasuk Wali Kota Surakarta, Wali Kota Probolinggo, dan Sekretaris Kota Blitar, turun langsung ke lintasan dan menyatu dengan sekitar 900 peserta. Mereka tidak berhenti pada ruang rapat; mereka memilih merasakan sendiri bagaimana warisan sejarah dapat dihidupkan lewat pariwisata olahraga yang berbasis komunitas. Ini memberi pesan politik yang kuat: kota pusaka tidak cukup dibicarakan, tetapi perlu dikelola melalui pengalaman bersama. Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman menegaskan bahwa Fort to Fort Nusantara Raya Run diinisiasi bersama Direktur Eksekutif JKPI untuk memadukan olahraga dengan sejarah dan budaya, karena lari adalah olahraga yang bersifat inklusif dan mudah diikuti berbagai kalangan. Kehadiran para pemimpin di garis start adalah simbol dukungan nyata terhadap arah baru sport tourism Ternate.
Ternate dan Masa Depan Sport Tourism Berbasis Budaya
Fort to Fort Nusantara Raya Run bukan akhir, tetapi titik awal bagi ambisi lebih besar: menjadikan Ternate sebagai destinasi sport tourism yang bertumpu pada pelestarian budaya. Kegiatan ini jelas dirancang untuk memadukan olahraga dengan promosi sejarah dan kekayaan budaya kota, dan respons peserta membuktikan bahwa gagasan ini tidak utopis. Antusiasme yang terlihat sepanjang lomba, serta dukungan sponsor dan panitia, menunjukkan bahwa ada ekosistem yang siap tumbuh bersama konsep pariwisata olahraga. Wali Kota Ternate menyatakan harapan agar kegiatan serupa kembali digelar dengan skala yang lebih besar dan lebih meriah, menandakan kesediaan pemerintah kota untuk menjadikan event lari Ternate ini agenda rutin. Jika konsisten, Ternate bukan hanya akan dikenal sebagai kota benteng dan cengkih, tetapi juga sebagai tuan rumah lari massal 2026 dan seterusnya yang menjahit olahraga, warisan sejarah, dan identitas kota menjadi satu pengalaman utuh.






