AI dalam mode: alat baru untuk desainer, bukan pengganti
AI dalam mode adalah penggunaan sistem kecerdasan buatan sebagai alat bantu riset fashion, eksplorasi visual, dan efisiensi produksi, sambil tetap menjadikan desainer manusia sebagai pengarah utama estetika, keputusan kreatif, dan nilai budaya dari sebuah koleksi busana yang dihasilkan. Di tengah perdebatan soal ancaman AI pada industri kreatif, tiga desainer Indonesia AI—Auguste Soesastro, Stella Rissa, dan label TWO STITCHES—memilih jalur lain: menjadikannya rekan kerja kritis. Mereka ikut dalam program ‘With Gemini, In Craft’ yang digagas Google untuk mengeksplorasi kolaborasi AI fashion bersama pelaku kreatif. Program ini bukan demo teknologi mode desain kosong, melainkan eksperimen nyata di studio, dari riset fashion AI sampai simulasi produksi. Kuncinya: AI ditempatkan sebagai asisten, bukan dalang.

Auguste Soesastro: riset fashion AI demi tanggung jawab intelektual
Auguste Soesastro, yang lama dikenal idealis dan manual dalam berkarya, bersedia ikut ‘With Gemini, In Craft’ karena ingin membuka diri pada kemungkinan baru tanpa mengorbankan prinsipnya. Baginya, riset adalah tanggung jawab intelektual, bukan sekadar tahap sebelum sketsa. Dalam proyek busana pengantin untuk Kenya Kamalashila Soekarno yang berdarah Latvia dan Jawa, ia memakai Gemini untuk mengakses arsip internasional, menerjemahkan catatan sejarah asing, dan menyilang berbagai dokumen silsilah keluarga lintas generasi. Ia bahkan memanfaatkan riset fashion AI untuk mengecek orisinalitas desain, sebuah tameng kreatif di tengah maraknya peniruan dalam mode. Namun Auguste tetap tegas: cita rasa tidak bisa di-prompt; selera lahir dari alam dan ditempa pengalaman. Di sini terlihat jelas garis batas yang ia jaga antara alat digital dan intuisi manusia.
TWO STITCHES: data-informed craft dan kecepatan produksi
Jika Auguste memakai AI untuk kedalaman, TWO STITCHES memakainya untuk kecepatan. Label streetwear avant-garde ini menggunakan Gemini dalam persiapan koleksi “MRTYNY” untuk menghubungkan proses desain dan bisnis yang tersebar di tiga kota: Jakarta, Bali, dan Berlin. Sketsa konseptual mereka diubah menjadi simulasi 3D, lengkap dengan jatuh kain dan pengepasan virtual sebelum sampel fisik dibuat. Proses yang dulu memakan waktu berbulan-bulan kini dipersingkat menjadi hitungan hari. Lebih dari itu, mereka menyandingkan kreativitas kriya dengan analisis pasar prediktif. Pendekatan data-informed craft ini memberi dua dampak penting: keputusan produksi lebih terukur, dan risiko pemborosan akibat produksi berlebihan berkurang signifikan. Ini contoh tajam bagaimana teknologi mode desain dapat menyentuh isu nyata: waktu, biaya tersembunyi, dan limbah industri.
Mengapa eksperimen ini terjadi sekarang
Momen kolaborasi AI fashion ini bukan kebetulan. Menurut Mira Sumanti, Senior Brand, Creative and Social Marketing Google Southeast Asia, negeri ini masuk lima besar pengguna Gemini di dunia, berdampingan dengan AS, Brasil, Turki, dan India. Ia menyebut bahwa prompt yang paling banyak di sini berkaitan dengan dunia kreatif. Kutipan penting darinya: “Dengan ‘With Gemini, in Craft’, kami mau open eksperimen di mana ruang yang Gemini bisa eksplorasi untuk membantu para pelaku industri kreatif, termasuk fashion”. Fokusnya jelas: industri kreatif yang ditopang subsektor mode, kuliner, dan kriya. Harapannya, terutama pelaku UMKM, bisa memakai AI bukan untuk menyalin, melainkan mengasah kreativitas sambil membangun usaha. Riset fashion AI dan simulasi produksi seperti yang dilakukan tiga desainer ini dijadikan contoh konkret, bukan wacana kosong tentang masa depan.
Kesimpulan: AI sebagai mitra, rasa sebagai kompas utama
Tiga kisah ini memberi pelajaran sederhana namun keras: teknologi hanya setajam tangan yang memegangnya. Dari Auguste yang memakai AI untuk memperdalam riset dan melindungi integritas desain, hingga TWO STITCHES yang menggabungkan simulasi 3D dan analisis data untuk mempercepat produksi tanpa menambah limbah, terbukti kolaborasi AI fashion bisa menambah nilai, bukan menghapus peran manusia. Di tingkat industri, perpaduan kreativitas, keterampilan tangan, budaya lokal, dan teknologi membuka peluang membawa karya desainer ke pasar lebih luas. Namun garis merahnya tetap sama: AI boleh mengerjakan referensi, simulasi, bahkan prediksi; tetapi hanya desainer yang dapat memutuskan seperti apa rasa, cerita, dan etika yang pantas diwujudkan dalam sebuah koleksi.





