Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Calistung Bukan Syarat Masuk SD: Apa yang Sebenarnya Penting

Calistung Bukan Syarat Masuk SD: Apa yang Sebenarnya Penting
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Calistung Bukan Syarat: Mengerti Dulu Arti Kesiapan Sekolah

Kesiapan sekolah dasar adalah kondisi ketika anak mampu beradaptasi dengan lingkungan belajar baru, bukan hanya melalui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga melalui kematangan sosial, emosional, fisik, kemandirian, dan rasa ingin tahu yang membuatnya mampu mengikuti kegiatan sekolah dengan tenang dan percaya diri.

Pernyataan tegas bahwa calistung bukan syarat wajib masuk SD datang dari Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Gianyar, Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra, yang menegaskan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung tidak seharusnya menjadi beban bagi peserta didik di kelas awal. Sikap ini mengguncang cara pandang lama yang menjadikan calistung sebagai gerbang utama persiapan masuk SD. Menurutnya, dalam proses transisi dari PAUD ke SD, pembelajaran perlu dilakukan secara bertahap, menyenangkan, dan disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak. Ini bukan sekadar teknis mengajar, tetapi kritik halus terhadap budaya lomba akademik dini yang mengorbankan kebutuhan alami perkembangan anak PAUD.

Transisi PAUD ke SD: Holistik, Bukan Lomba Akademik Dini

Jika calistung bukan syarat, lalu apa? Jawabannya: proses transisi yang holistik. Bunda PAUD Gianyar menggambarkan dengan sangat konkret bagaimana persiapan masuk SD seharusnya terjadi. Ia berkeliling ke sejumlah sekolah untuk memastikan pembelajaran dari PAUD ke SD berjalan secara holistik dan integratif. Ini langkah yang patut dibaca sebagai pesan politik pendidikan: berhenti mengukur anak hanya dari buku kerja dan lembar latihan.

Pendidikan anak usia dini, menurutnya, harus memperhatikan berbagai kebutuhan dasar anak, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pemenuhan gizi. Artinya, perkembangan anak PAUD tidak bisa dipersempit menjadi soal bisa mengeja atau tidak. Dalam masa transisi ini, komunikasi antara orang tua, anak, dan guru ditekankan sebagai kunci untuk memahami perkembangan serta kebutuhan masing-masing anak. Tanpa komunikasi yang hidup, sekolah mudah tergelincir pada standar kaku: siapa yang sudah membaca, naik; yang belum, tertinggal.

Festival Anak Kreatif: Bukti Nyata Pentingnya Kreativitas dan Karakter

Pendekatan holistik pada perkembangan anak PAUD semakin kuat ketika dunia praktik dan dunia gagasan bertemu dalam ruang kreativitas. Di sebuah festival anak kreatif, Creative Kids Festival 2026, Ketua Bundo Kanduang Minang DKI Jakarta, Dr. Rosita Medina, yang juga Doktor Pendidikan Anak Usia Dini, tampil sebagai pemateri edukasi. Kehadirannya menegaskan bahwa kesiapan sekolah dasar tidak bisa dilepaskan dari kreativitas dan karakter.

Dalam sesinya, ia menyampaikan materi tentang tumbuh kembang anak, strategi pengembangan kreativitas, pembentukan karakter, dan pentingnya peran keluarga serta lingkungan sebagai pondasi utama dalam mengoptimalkan potensi anak. Festival ini dirancang bukan hanya sebagai ajang lomba dan unjuk bakat, tetapi juga ruang edukasi bagi orang tua, dengan workshop kreativitas, talkshow parenting, dan penampilan bakat anak. Di sini terlihat alternatif nyata terhadap pendekatan akademik semata: anak diberi ruang mengeksplorasi diri, sementara orang tua belajar melihat kemampuan anak lebih luas dari sekadar calistung.

Peran Keluarga: Kebiasaan Sehari-hari yang Menguatkan Kesiapan SD

Pernyataan Bunda PAUD Gianyar tentang transisi PAUD-SD tidak berhenti di ruang kelas. Ia mendorong penerapan tujuh kebiasaan anak hebat: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Di sinilah terlihat bahwa persiapan masuk SD lebih dekat dengan pola hidup sehari-hari daripada kursus calistung yang memaksa. Kebiasaan ini menyiapkan tubuh dan pikiran anak untuk siap belajar tanpa tekanan berlebihan.

Ia juga mengingatkan orang tua untuk mengawasi dan mengontrol penggunaan teknologi, khususnya telepon seluler, agar tidak mengganggu tumbuh kembang dan proses belajar anak. Sikap ini sejalan dengan pesan yang diangkat Dr. Rosita, bahwa keluarga dan lingkungan merupakan pondasi utama pengembangan karakter dan potensi anak. Orang tua yang sibuk mengejar target calistung sering lupa bahwa pola tidur, gizi, interaksi sosial, dan kualitas pendampingan di rumah jauh lebih menentukan kesiapan sekolah dasar anak.

Kesimpulan: Saatnya Menghentikan Lomba Calistung dan Memulai Pendidikan yang Manusiawi

Dari pernyataan Bunda PAUD Gianyar sampai pemikiran Dr. Rosita Medina, satu pesan sama-sama kuat: calistung bukan syarat masuk SD, dan tidak boleh menjadi beban yang menakutkan bagi anak di kelas awal. Persiapan masuk SD yang sehat berangkat dari perkembangan anak PAUD yang dihormati ritmenya, melalui pendekatan holistik, komunikasi erat orang tua–guru, dan lingkungan yang merangsang kreativitas.

Artikelnya sederhana namun menantang: berhentilah mengukur nilai anak dari seberapa cepat ia bisa membaca; mulai lihat bagaimana ia berani bertanya, mau bergaul, mampu mengurus diri, serta menikmati proses belajar. Kesiapan sekolah dasar bukan tiket yang dicetak lewat latihan soal, melainkan hasil dari masa kecil yang penuh eksplorasi, dukungan keluarga, dan pendidikan yang menghargai anak sebagai manusia, bukan mesin nilai.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!