Lima prosedur, berawal dari kecelakaan
Operasi hidung Anisa adalah rangkaian tindakan medis yang ia jalani untuk menangani cedera dan memperbaiki bentuk hidung yang dirasa belum nyaman serta sesuai dengan keinginannya. Anisa Bahar mengungkap bahwa totalnya sudah lima kali, sebuah kisah yang memperlihatkan bahwa revisi tidak selalu berarti mengejar bentuk yang lebih mancung. Operasi pertamanya berawal dari kecelakaan pada 1997 yang mencederai hidungnya. Setelah tindakan awal, bentuk hidung masih tampak miring dan membuatnya tidak nyaman, sehingga ia kembali menjalani perbaikan. Dalam pengakuannya, ia juga menyebut hidung sempat terasa tersumbat dan belum simetris. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa prosedur berulang kerap berangkat dari persoalan fungsi dan hasil yang belum memuaskan, bukan semata-mata perubahan penampilan.
Revisi terakhir untuk mengurangi bagian yang terlalu tinggi
Alasan revisi operasi hidung terbaru Anisa cukup berbeda dari anggapan umum tentang operasi kosmetik: ia tidak meminta hidung dibuat semakin mancung. Sebaliknya, ia ingin bagian yang dinilai terlalu tinggi dikurangi agar tampak lebih natural dan seimbang dengan wajahnya. Keputusan itu masuk akal dalam konteks keluhannya sendiri; bila bentuk yang ada terasa mengganggu, menambah tinggi bukanlah tujuan yang tepat. Ia menyebut biaya revisi terbaru sekitar Rp60 juta hingga Rp70 juta. Besarnya biaya ini juga menegaskan bahwa revisi bukan keputusan ringan, terutama setelah beberapa tindakan sebelumnya. Anisa berharap operasi kelima menjadi perbaikan terakhir, meski sumber tidak memastikan hasil jangka panjangnya.
Mengapa memilih prosedur di Vietnam
Pilihan Anisa menjalani operasi plastik di Vietnam bertumpu pada pengalaman sebelumnya, bukan klaim bahwa negara itu pasti lebih unggul. Ia mengatakan pernah menjalani prosedur di sana dan merasa cocok dengan pelayanan serta obat-obatan yang digunakan. Operasinya berlangsung sekitar enam jam, dari pukul 12.00 hingga 18.00, setelah ia mulai berpuasa sejak malam sebelumnya. Pertimbangan personal seperti rasa cocok dapat menjelaskan pilihannya, tetapi tidak cukup untuk dijadikan patokan umum bagi orang lain. Kisah ini lebih tepat dibaca sebagai pengalaman individual: operasi hidung Anisa berulang karena cedera, bentuk yang belum sesuai, dan keluhan yang ia rasakan. Keputusan menjalani tindakan di luar negeri tetap memerlukan pertimbangan medis yang matang, bukan sekadar mengikuti pilihan seorang figur publik.
Revisi berulang bukan jaminan hasil final
Lima kali operasi hidung Anisa menunjukkan betapa kompleksnya perjalanan mencari bentuk yang nyaman setelah cedera dan beberapa tindakan koreksi. Ia berharap revisi terbaru menutup rangkaian tersebut, tetapi harapan itu belum sama dengan kepastian. Keluhan berupa hidung tersumbat, bentuk miring, dan ketidaksimetrisan menjadi bagian penting dari ceritanya, bukan detail yang patut diabaikan. Karena itu, keputusan revisi sebaiknya dinilai dari kebutuhan dan kondisi masing-masing, bukan dari tren atau hasil yang terlihat pada selebritas. Pengalaman Anisa juga memperjelas bahwa tujuan operasi dapat berubah: kali ini ia ingin mengurangi bagian yang terlalu tinggi demi proporsi yang lebih natural. Pada akhirnya, pilihan Vietnam dan biaya puluhan juta rupiah adalah bagian dari keputusan pribadinya, sementara hasil akhir yang ia harapkan masih perlu waktu untuk dibuktikan.






