Mengenal budaya lewat pameran
Pameran Kayu Ara adalah ruang belajar yang memperkenalkan arsitektur, teknologi, dan budaya Lampung melalui karya serta kisah sejarah daerah, agar pengunjung memahami warisan yang perlu dijaga. Pesan itu menjadi inti ajakan Bunda Literasi Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza atau Batin Wulan, kepada masyarakat, terutama generasi muda. Saat menghadiri kegiatan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung pada Jumat, 23 Oktober 2026, ia menekankan bahwa kebanggaan terhadap budaya tidak tumbuh tanpa pengetahuan tentang asal-usulnya. Menurut Batin Wulan, pameran bukan sekadar tempat melihat karya; ia dapat membuka jalan bagi anak muda untuk mengenali sejarah Lampung dan membangun kepedulian terhadap pelestarian budaya. Sudut pandang ini tepat: warisan yang hanya dipuji, tetapi tidak dipahami, akan sulit diteruskan.
Sejarah sebagai akar kebanggaan
Pameran Kayu Ara: Arsitektur, Teknologi, dan Budaya Lampung menampilkan karya Anshori Djausal, tokoh budaya dan ilmu pengetahuan yang mendapat apresiasi Batin Wulan. Pameran ini sebelumnya digelar di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, lalu hadir di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung pada 20 Oktober hingga 2 November 2026. Batin Wulan mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan berkunjung, tetapi nilai pentingnya melampaui kunjungan itu sendiri: pameran memberi konteks pada kekayaan budaya daerah dan membantu pengunjung memahami jejak sejarah di baliknya. Ia mengingatkan, “Bagaimana generasi muda mau bangga dan melestarikan budaya jika mereka tidak mengenal sejarahnya?” Pertanyaan itu merangkum tantangan pelestarian dengan jelas. Ketertarikan generasi muda perlu dibangun melalui pengalaman yang membuat budaya terasa dekat, bukan hanya melalui imbauan.
Perpustakaan sebagai ruang budaya
Penyelenggaraan pameran di perpustakaan daerah menunjukkan bahwa perpustakaan dapat berperan lebih luas daripada tempat membaca. Batin Wulan memandangnya sebagai ruang edukasi, pengembangan kreativitas, dan pengenalan seni budaya bagi anak-anak maupun masyarakat. Peran ini patut diperkuat: ketika literasi bertemu seni dan sejarah, peserta didik mendapat lebih banyak cara untuk memahami identitas daerah. Rangkaian kegiatan pada hari yang sama juga mencakup pembagian hadiah Lomba Pidato Bahasa Lampung tingkat SMP/MTs dan Lomba Menulis Cerpen tingkat SMA/SMK/MA. Pidato dan cerpen memberi generasi muda kesempatan menyampaikan gagasan dengan bahasa serta karya mereka sendiri. Batin Wulan mengapresiasi keberanian peserta dan menilai pesan tentang menjaga adat serta budaya memiliki makna. Kegiatan semacam ini membuat pelestarian menjadi praktik yang bisa dilakukan, bukan sekadar slogan.
Ajakan yang perlu diteruskan
Batin Wulan mengajak kalangan pendidikan, komunitas literasi, penggiat seni, dan masyarakat untuk ikut mendorong kecintaan terhadap budaya Lampung. Ia juga berharap sekolah terus membuka ruang bagi pidato, drama, lagu daerah, dan kegiatan kreatif lainnya. Ajakan itu menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga identitas budaya tidak berhenti pada satu pameran: perlu ada ruang belajar dan berkarya yang berkelanjutan. Pameran Kayu Ara memberi titik awal yang kuat dengan menghubungkan sejarah Lampung, karya, dan pengalaman publik. Namun, dampaknya akan lebih berarti jika rasa ingin tahu yang tumbuh selama pameran diteruskan di rumah, sekolah, dan perpustakaan. Pada akhirnya, generasi muda lebih mungkin mencintai dan melestarikan budaya ketika mereka mengenalnya secara langsung. Karena itu, pameran ini layak dipandang sebagai undangan untuk belajar sekaligus mengambil bagian dalam menjaga warisan Lampung.






