Keterampilan kebun yang berdampak langsung
Pupuk organik sawit adalah pupuk berbahan organik yang diolah dan diaplikasikan untuk menyediakan hara sekaligus membantu memperbaiki kesuburan tanah di kebun kelapa sawit. Keterampilan membuatnya penting bagi pekebun karena bahan yang tersedia di sekitar kebun dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan usaha secara lebih mandiri. Pada 26–30 Oktober 2026, PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian, melatih 85 pekebun dari Kabupaten Batubara dan Labuhanbatu Selatan di Medan. Peserta terdiri atas 54 pekebun dari Labuhanbatu Selatan dan 31 dari Batubara. Ini bukan sekadar kegiatan kelas: nilai pelatihan pekebun sawit akan terlihat ketika peserta mampu menerapkan ilmunya di kebun dan meneruskannya kepada kelompok masing-masing.

Efisiensi harus berjalan bersama kesuburan tanah
Mengolah bahan organik menjadi pupuk diarahkan untuk membantu menekan biaya pemupukan sawit, sembari menjaga kesuburan tanah. Bahan yang tersedia di sekitar kebun dapat menjadi sumber daya lokal yang berguna, tetapi manfaatnya tidak otomatis muncul hanya karena bahan itu dikumpulkan. Pekebun perlu memahami cara membuat, mengelola, dan mengaplikasikan pupuk sesuai kebutuhan tanaman. Pelatihan ini membekali peserta dengan materi serta praktik teknis, lalu memperkuat pembelajaran melalui kunjungan ke CV Manis Sportif di Kabupaten Deli Serdang untuk melihat pengolahan dan pemanfaatan bahan organik secara langsung. Pendekatan itu tepat: penghematan yang mengabaikan kondisi tanah bukan efisiensi jangka panjang. Keterampilan praktis membantu pekebun mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan kebun, bukan sekadar mengganti satu jenis input dengan yang lain tanpa pemahaman.
Fandi Hidayat dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit PT RPN menekankan bahwa keberhasilan pelatihan tidak cukup diukur dari jumlah peserta; ilmu perlu diterapkan dan disebarluaskan agar memberi manfaat nyata di perkebunan. Ukuran keberhasilan itu layak dijadikan tolok ukur program berikutnya.
Jembatan menuju praktik berkelanjutan dan ISPO
Pupuk organik bukan pengganti seluruh pekerjaan menuju sertifikasi ISPO, tetapi praktik yang baik di kebun merupakan bagian penting dari kesiapan tersebut. Pekebun perlu memperhatikan budidaya, pemeliharaan kesuburan tanah, pengelolaan lingkungan, pencatatan usaha, administrasi, serta penguatan kelembagaan. Dengan demikian, pelatihan teknis memiliki nilai lebih ketika terhubung dengan tata kelola kebun dan kelompok pekebun. Keterampilan mengolah bahan lokal dapat membantu memperkuat kebiasaan pengelolaan yang berkelanjutan, tetapi sertifikasi tetap memerlukan konsistensi dan persiapan yang lebih luas. Menjadikan pelatihan pupuk sebagai langkah awal—bukan klaim bahwa kebun sudah siap tersertifikasi—adalah cara yang lebih realistis untuk membangun kemajuan.
Ilmu perlu menyebar setelah pelatihan
Langkah penentu kini ada pada tindak lanjut. Fandi berharap peserta menerapkan keterampilan secara mandiri dan membagikannya kepada kelompok tani serta kelembagaan pekebun di daerah masing-masing. Harapan itu sejalan dengan posisi peserta yang mewakili kelompok, sehingga pengetahuan berpeluang menjangkau lebih banyak kebun daripada 85 peserta saja. Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Batubara, Nanda Fadhillah Akbar, juga menekankan perlunya kolaborasi dan penerapan materi di lingkungan kelembagaan pekebun. Batubara telah memiliki lembaga pekebun bersertifikat ISPO yang menjalani proses audit keberlanjutan selama kurang lebih tiga tahun. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kesiapan membutuhkan kerja berkelanjutan. Kesimpulannya, pelatihan ini menjanjikan manfaat jika keterampilan benar-benar dipraktikkan, dibagikan, dan dihubungkan dengan pengelolaan kebun yang baik.






