Empat Musim di Atas Panggung: Definisi Baru Victoria's Secret Fashion Show
Victoria's Secret Fashion Show adalah peragaan busana lingerie berskala global yang menggabungkan koleksi pakaian dalam mewah, sayap malaikat fashion, dan pertunjukan musik live dalam satu panggung teatrikal yang dirancang untuk memamerkan sensualitas, fantasi, dan citra perempuan versi merek tersebut kepada penonton luas melalui konsep visual yang selalu berubah dan sangat dramatis. Berlangsung pada 18 Oktober di Culver City, California, edisi 2026 kembali ke kota ini untuk pertama kalinya dalam 19 tahun, membawa konsep empat musim yang jelas ambisius: musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Setiap segmen dibangun dengan kostum, palet warna, dan efek panggung yang menonjolkan karakter masing-masing musim, dari bunga dan pastel hingga metalik dingin. Pilihan tema ini bukan sekadar estetika; ia adalah upaya sadar untuk menegaskan bahwa pertunjukan ini masih mampu mengatur arah perbincangan di dunia peragaan busana lingerie.

Lingerie, Sayap Malaikat, dan Musik Live: Formula Lama yang Dipoles Ulang
Di bawah arahan direktur kreatif Adam Selman, panggung 2026 terasa seperti pengakuan bahwa DNA lama Victoria's Secret belum siap dikubur. Lingerie mewah tetap menjadi pusat, dipadukan dengan kain transparan, aksesori berbentuk sayap kupu-kupu, dan tentu saja sayap malaikat fashion yang kembali mendominasi styling. Gigi Hadid berjalan dalam set lingerie putih dengan sayap malaikat berornamen rumit, sementara Bella Hadid tampil anggun dengan sayap penuh bunga yang seolah menghidupkan musim semi di runway. Musik live bukan sekadar pengiring, melainkan bagian narasi: Megan Moroney membuka pertunjukan dengan sayap berbulu merah muda pucat, Tate McRae menggeliat dalam korset merah tua di tengah lautan lingerie merah, dan Megan Thee Stallion serta grup lain mengisi spektrum pop, country, hingga hip-hop. Formula lama—lingerie plus angel wings plus pop star—dipoles dengan sentuhan teatrikal yang lebih kompleks, tetapi esensinya tetap sama: menjual fantasi.
Supermodel Comeback, Wajah Baru, dan Fantasi yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Dimensi paling menarik dari Victoria's Secret Fashion Show kali ini adalah benturan generasi di runway. Supermodel comeback dan wajah baru berjalan berdampingan, menegaskan bahwa merek ini mengandalkan nostalgia sekaligus relevansi. Bella Hadid, kini berusia 30 tahun, membuka pertunjukan sebagai figur yang sudah mapan di mata publik. Alex Consani kembali ke panggung dengan set bra dan celana dalam merah muda yang seksi, dilapisi jubah merah muda bervolume. Di tengah nama-nama lama, debut Kylie Jenner menjadi momen paling dibicarakan: untuk pertama kalinya ia berjalan di Victoria's Secret Fashion Show, mengenakan Fantasy Bra yang kembali hadir setelah absen sejak 2018. Bra ini dikerjakan oleh 15 perancang selama lebih dari 1.000 jam dan menampilkan berlian kuning 75,54 karat di tengah, dikelilingi 4.410 berlian putih. Kutipan yang layak diingat dari panggung ini adalah: "Desain Fantasy Bra menampilkan berlian kuning 75,54 karat di tengahnya, dikelilingi oleh 4.410 berlian putih". Kehadiran Kylie dengan sayap Pegasus dan rok mini tipis menunjukkan bahwa fantasi klasik merek ini belum kehilangan daya jual.
Empowerment atau Stereotip Lama? Ketegangan yang Tak Terpecahkan
Di balik gemerlap empat musim, pertanyaan lama kembali menghantui: apakah Victoria's Secret Fashion Show merayakan kepercayaan diri perempuan, atau mengulang stereotip gender yang usang? Pada awal 2020-an, perdebatan mengemuka tentang apakah merek yang menampilkan perempuan sebagai "boneka kamar tidur" turut menyuburkan budaya yang menolerir pelecehan dan kekerasan seksual. Panggung 2026 mencoba menjawab dengan narasi empowerment, beragam tipe tubuh, dan selebritas yang bersorak di barisan depan. Namun visual yang dihadirkan tetap menggabungkan citra gadis Vargas dan semangat Playboy, dengan fokus yang sangat eksplisit pada kaki, payudara, dan bokong. Adam Selman mengakui bahwa banyak keputusan, termasuk kembalinya Fantasy Bra, diambil untuk memenuhi keinginan pelanggan. Di sini terlihat dilema inti: ketika permintaan pasar masih berpusat pada fantasi yang dibentuk dari sudut pandang laki-laki, seberapa jauh sebuah peragaan busana lingerie bisa mengklaim diri sebagai ruang pemberdayaan?
Kesimpulan: Panggung Empat Musim yang Indah, Tapi Masih Berjalan di Es Tipis
Sebagai pertunjukan, Victoria's Secret Fashion Show 2026 tidak diragukan lagi spektakuler. Konsep empat musim memberi struktur visual yang kuat, kolaborasi musik live membuat panggung terasa seperti festival budaya pop, dan sayap malaikat fashion kembali mengukuhkan ikon yang sudah melekat di benak publik. Supermodel comeback dan wajah baru memperlihatkan bahwa merek ini masih punya daya tarik lintas generasi. Namun di tingkat gagasan, pertunjukan ini tampak lebih nyaman menghidupkan kembali tradisi sensual yang sangat khas daripada membuka jalan baru bagi ekspresi tubuh perempuan. Mode seharusnya memberi orang sesuatu yang tidak pernah mereka sadari mereka inginkan—cara baru mengekspresikan diri di dunia. Victoria's Secret memilih jalan aman: memoles fantasi lama dengan efek panggung modern. Indah untuk ditonton, tetapi masa depannya akan bergantung pada apakah penonton masih mau berdamai dengan stereotip yang menyertainya.






