Smart Farming Drone: Dari Definisi ke Lompatan Prestasi
Smart farming berbasis drone adalah pendekatan pertanian presisi yang menggabungkan pesawat nirawak, sensor, dan analisis data untuk mengukur kondisi lahan, mengelola input seperti air dan pupuk secara presisi, serta memantau kesehatan tanaman dalam waktu dekat guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan budidaya tanaman. Pengakuan bahwa Ketua Senat sekaligus Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Mulawarman, Prof. Haviluddin, berada di jajaran 5 persen peneliti dunia versi SCI Rank menunjukkan bahwa gagasan ini tidak lagi sekadar konsep, melainkan kontribusi nyata yang diakui komunitas ilmiah global. Capaian tersebut lahir dari konsistensi panjang menghasilkan karya ilmiah berkualitas, memperluas kolaborasi internasional, dan fokus pada riset yang berdampak langsung bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Prof. Haviluddin dan Konsorsium Riset Pertanian Presisi
Posisi Prof. Haviluddin sebagai Ketua Senat dan Guru Besar Fakultas Teknik menjadi penting karena ia memimpin salah satu riset unggulan, yaitu pengembangan teknologi smart farming drone yang digagas sejak 2017. Penelitian pertanian presisi ini bukan kerja soliter; ia berdiri di atas kolaborasi lintas negara antara Universitas Mulawarman, universitas di Malaysia, Jepang, dan Inggris, yang membentuk konsorsium ilmiah berorientasi solusi lapangan. Dari kolaborasi itu lahir prototype teknologi drone pertanian yang dirancang khusus untuk mendukung modernisasi sektor pertanian melalui pengamatan dan eksekusi yang presisi di lahan. Fakta bahwa penilaian SCI Rank mengutamakan kesinambungan riset dan pengaruh sitasi menegaskan bahwa karya-karya ini tidak berhenti di jurnal, tetapi menjadi rujukan peneliti lain di berbagai negara.
Drone Pertanian Presisi: Efisiensi Lahan, Bukan Sekadar Gimmick Teknologi
Prototype drone pertanian presisi hasil konsorsium riset ini mampu mengangkut beban lebih dari 100 kilogram. Ini bukan angka kosmetik, melainkan kapasitas yang membuka cara baru mengelola lahan: penyiraman air, pengangkutan material pertanian, dan penyebaran pupuk secara presisi di area luas tanpa mengandalkan tenaga kerja manual yang padat. Di sinilah efisiensi lahan drone menjadi kata kunci; input bisa diarahkan hanya ke titik yang membutuhkan, sehingga biaya operasional berpotensi turun dan produktivitas naik. Teknologi drone pertanian yang selama ini dipahami hanya sebagai alat pemetaan, berkembang menjadi perangkat eksekusi lapangan yang lengkap. Dalam konteks smart farming drone, ini adalah lompatan dari pengamatan ke tindakan, dari data ke keputusan agronomis yang lebih cepat dan terukur.
Ekosistem SDM Drone: Dari INSTIPER ke Regenerasi Peneliti UNMUL
Supaya penelitian pertanian presisi tidak mandek di laboratorium, ekosistem sumber daya manusia drone harus kuat. Di sisi lain, sebuah institusi pertanian di Yogyakarta menggelar festival drone berskala nasional yang berlangsung 11–26 Oktober 2025 sebagai bagian transformasi mereka dalam pemanfaatan teknologi drone di sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Agenda ini mencakup kompetisi balap drone, workshop perakitan, pelatihan analisis foto multispektral dengan indeks vegetasi seperti NDVI dan NDWI, hingga demonstrasi drone sprayer untuk pemupukan dan penyemprotan pestisida serta herbisida di lahan. Sebanyak 20 orang mengikuti sertifikasi pilot drone nasional, yang akan menjadi sertifikat pendamping ijazah bagi lulusan sehingga memiliki keahlian khusus menerbangkan drone. Ini menunjukkan bahwa inovasi perangkat seperti smart farming drone memang membutuhkan investasi pada kemampuan operator dan analis data di tingkat kampus.
Dari Prestasi ke Adopsi Nasional: Tantangan dan Momentum
Riset smart farming drone yang dipimpin Prof. Haviluddin memberi bukti bahwa teknologi drone pertanian mampu menjadi tulang punggung modernisasi agrikultur, sejalan dengan pengembangan prototype yang langsung menyasar efisiensi dan produktivitas lahan. Teknologi ini jelas membuka peluang adopsi lebih luas, dari pilot project di Asia Tenggara menuju penerapan di berbagai sentra produksi tanaman. Namun, adopsi tidak akan otomatis; dibutuhkan kebijakan yang mendorong penggunaan pertanian presisi, pendanaan inovasi, dan kemitraan dengan kampus yang telah menyiapkan SDM drone dan komunitas riset. Di lingkungan Universitas Mulawarman, pembinaan mahasiswa dan dosen muda melalui Study Club AI dan Sains Data adalah langkah konkret regenerasi peneliti digital yang akan melanjutkan pengembangan smart farming drone. Jika momentum ini dijaga, riset tidak hanya menempatkan universitas pada peta akademik dunia, tetapi mengubah cara budidaya tanaman di lapangan.






