Kehadiran ayah lebih dari soal nafkah
Keterlibatan ayah adalah kehadiran aktif dalam kehidupan anak, termasuk memberi kasih sayang, mendengarkan, mendampingi proses belajar, dan membantu anak memahami perasaannya—bukan semata-mata memenuhi kebutuhan materi. Karena itu, seorang ayah bisa tinggal serumah tetapi tetap terasa jauh bila jarang terlibat dalam keseharian anak. Pandangan bahwa tugas ayah terutama mencari nafkah masih kuat, sementara pengasuhan kerap dianggap sebagai tanggung jawab ibu. Anggapan ini perlu dikoreksi: peran ayah dalam membangun rasa aman dan menjadi teladan tidak bisa digantikan oleh pemenuhan kebutuhan fisik saja. Data Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 menunjukkan 25,8 persen anak mengalami kondisi fatherless, yang dapat mencakup ketidakhadiran secara fisik maupun minimnya keterlibatan ayah. Angka itu menegaskan bahwa kehadiran ayah bukan perkara tambahan, melainkan bagian penting dari pengasuhan.
Dampaknya bukan hanya soal kedekatan. Anak yang kurang mendapat dukungan emosional berpotensi kesulitan mengenali, memahami, mengungkapkan, dan mengelola perasaannya. Temuan pada kelompok responden tertentu juga mengaitkan kondisi fatherless dengan aspek kecerdasan emosional dan spiritual; hasil itu bukan ukuran yang otomatis berlaku bagi setiap anak, tetapi memperkuat alasan untuk memperhatikan keterlibatan ayah. Dalam hubungan ayah dan anak, perhatian yang konsisten membantu anak merasa didengar, dihargai, dan diterima. Waktu bersama tidak harus dirancang sebagai kegiatan besar: percakapan selama 15 menit dengan perhatian penuh dapat menjadi momen bermakna. Yang penting, ayah hadir tanpa terdistraksi dan memberi ruang bagi anak untuk bercerita.
Kata-kata yang dapat berubah menjadi suara batin
Ucapan ayah saat lelah atau kesal mungkin terlontar tanpa dipikir panjang, tetapi anak bisa mengingatnya dan menjadikannya ukuran tentang siapa dirinya. Kalimat seperti “Kamu kok cengeng banget?” dapat mengajarkan anak untuk menyembunyikan kesedihan karena takut dianggap lemah. Label “selalu bikin masalah” mengaburkan perbedaan antara perilaku yang perlu diperbaiki dan harga diri anak. Membandingkannya dengan kakak atau teman pun dapat membuatnya merasa tidak pernah cukup baik. Kritik yang menyerang pribadi, ancaman, dan kata-kata kasar berisiko merusak kepercayaan diri serta hubungan dengan orang tua; bila berulang, dampaknya dapat terbawa hingga dewasa. Disiplin tetap diperlukan, tetapi teguran seharusnya membahas tindakan, bukan merendahkan identitas anak. Misalnya, ayah dapat mengatakan bahwa tindakannya tadi tidak tepat lalu mengajak anak memikirkan cara memperbaikinya.
Dampak ucapan tidak selalu tampak sebagai pertengkaran. Anak mungkin mengulang pesan itu kepada dirinya sendiri ketika gagal: merasa tidak mampu, bodoh, atau selalu menjadi sumber masalah. Saat emosinya diremehkan, ia juga bisa berhenti meminta bantuan dan memilih memendam perasaan. Ini bukan alasan untuk menyalahkan ayah atas setiap kesulitan anak; maksud baik pun tidak menghapus pengaruh kata-kata yang terus berulang. Namun, mengenali pola tersebut memberi orang tua kesempatan untuk mengubahnya. Alih-alih menuntut anak berhenti menangis, ayah bisa mengakui kesedihannya dan bertanya apakah ia ingin bercerita. Sikap itu tidak menghapus batasan atau aturan, tetapi membantu anak memahami bahwa perasaannya boleh diungkapkan dan perilakunya tetap bisa diarahkan.

Komunikasi sadar membuat rumah lebih aman
Kedekatan tidak menuntut ayah selalu tahu jawaban yang tepat. Komunikasi orang tua yang lebih suportif dimulai dengan mendengarkan sampai anak selesai berbicara, menghormati gagasan dan perasaannya, serta menghindari sindiran, ejekan yang menyakitkan, menyalahkan, atau merendahkan. Ketika perlu menegur, sebutkan perilaku yang bermasalah dan jelaskan batasannya tanpa memberi cap buruk pada anak. Kebiasaan sederhana ini membantu anak membedakan kesalahan yang dapat diperbaiki dari anggapan bahwa dirinya tidak berharga. Orang tua juga dapat bertanya dengan tenang apa yang terjadi dan apa yang dibutuhkan anak, alih-alih langsung menghakimi. Dengan cara itu, emosi anak tidak dianggap sebagai gangguan, melainkan informasi yang layak didengar.
Jika ayah terlanjur mengucapkan sesuatu yang menyakitkan, langkah yang lebih berguna daripada mencari alasan adalah mengakui kesalahan dan meminta maaf. Setelah itu, dengarkan bagaimana anak merasakan kejadian tersebut dan tunjukkan melalui tindakan bahwa pola komunikasi akan diperbaiki. Meminta maaf tidak membuat ayah kehilangan wibawa; justru, tindakan itu memberi contoh bahwa orang dewasa pun bertanggung jawab atas kata-katanya. Anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna, melainkan ayah yang mau belajar dan terus berusaha hadir dengan cara yang membuatnya merasa dicintai. Kesimpulannya, nafkah adalah bagian penting dari tanggung jawab, tetapi perhatian dan ucapan yang menjaga harga diri anak sama pentingnya. Kehadiran emosional sehari-hari dapat membuat rumah terasa sebagai tempat aman untuk menjadi diri sendiri.







