Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pelatihan Keagamaan Harus Menjangkau Peran Masjid dan Kebutuhan Disabilitas

Pelatihan Keagamaan Harus Menjangkau Peran Masjid dan Kebutuhan Disabilitas
Minat|Pelatihan Komprehensif

Pendidikan agama yang menjawab kebutuhan nyata

Pendidikan agama yang menjangkau kebutuhan berbeda berarti membekali pemimpin ibadah sekaligus menyediakan cara belajar yang dapat diakses oleh orang dengan hambatan komunikasi. Dua program yang disiapkan di OKU dan Kudus menunjukkan mengapa pendekatan semacam ini penting: pembelajaran keagamaan perlu hadir di ruang masjid dan terbuka bagi mereka yang selama ini menghadapi kendala akses. Di OKU, Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD-DMI) bersama Baznas mengadakan pelatihan imam dan khatib secara gratis pada Sabtu, 31 Oktober 2026, dalam kegiatan satu hari di kantor Baznas OKU. Sementara itu, rangkaian Ta’sis Menara Kudus 2026 mencakup pelatihan membaca Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas. Nilai kedua inisiatif ini tidak berhenti pada jumlah kegiatan: pendidikan agama lebih bermakna ketika isi, metode, dan sasaran belajarnya sesuai dengan kebutuhan peserta.

Memperkuat imam dan khatib di tingkat lokal

Pelatihan imam khatib di OKU menyasar orang-orang yang memimpin salat dan menyampaikan pesan agama kepada masyarakat. Kegiatan ini didukung lembaga dakwah kampus dan organisasi Rohani Islam se-Kabupaten OKU, dengan materi teori keimaman dan khotbah serta praktik langsung bersama para ustaz. Ketua PD-DMI OKU, Dr. Ibnu Sodik, menyebut pelatihan tersebut sebagai upaya mencetak imam dan khatib berkualitas, berakhlak mulia, dan mampu menyampaikan pesan yang menyejukkan masyarakat. Penekanan itu tepat: kemampuan memimpin ibadah saja tidak cukup jika khotbah gagal memahami konteks setempat atau merawat kerukunan. Ketua Baznas OKU, Imam Nuryadin, juga berharap peserta dapat menjadi penghubung untuk menyebarkan kesadaran berzakat, berinfak, dan bersedekah di lingkungan masjid. Dengan biaya gratis dan praktik langsung, program ini menghubungkan pembinaan kompetensi dengan peran sosial masjid.

Pelatihan Keagamaan Harus Menjangkau Peran Masjid dan Kebutuhan Disabilitas

Belajar Al-Qur’an dengan pendekatan yang dapat diakses

Di Kudus, Ta’sis Menara Kudus menghadirkan pelatihan membaca Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas, khususnya orang dengan hambatan pendengaran dan bicara. Tujuannya memberi mereka kesempatan belajar membaca Al-Qur’an dan melaksanakan salat melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi mereka. Inilah makna praktis pendidikan agama inklusif: akses tidak boleh bergantung pada kemampuan mendengar atau berbicara, melainkan pada kesediaan penyelenggara menyesuaikan metode. Karena itu, belajar Al-Qur’an isyarat patut dipandang bukan sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai bagian penting dari layanan keagamaan. Program tersebut disiapkan bersama agenda Ta’sis lain untuk mengenalkan Menara Kudus sebagai kawasan budaya dan ekonomi, bukan hanya destinasi wisata religi. Namun, penyelenggara belum merinci jadwal pelatihan. Keterbukaan informasi berikutnya perlu memastikan calon peserta dan keluarga mengetahui cara mengikuti kegiatan serta bentuk dukungan yang tersedia.

Dua sasaran, satu tanggung jawab bersama

Kedua program tidak perlu dibandingkan sebagai pilihan yang saling meniadakan. Pelatihan di OKU memperkuat kapasitas orang yang melayani jamaah, sedangkan agenda di Kudus berupaya membuka kesempatan belajar bagi penyandang disabilitas. Keduanya mengingatkan bahwa pendidikan agama harus menanggapi siapa yang belum terlayani: calon imam dan khatib yang memerlukan pembinaan, maupun peserta yang membutuhkan cara komunikasi berbeda. Dalam rangkaian Ta’sis Menara Kudus, puncak acara direncanakan berlangsung pada 28 Desember 2026 melalui malam penganugerahan di Pendapa Kabupaten Kudus, meski jadwal pelatihan disabilitas belum diumumkan secara rinci. Langkah berikutnya semestinya bukan sekadar menggelar acara, tetapi memastikan pelatihan terlaksana dengan pendampingan dan informasi yang jelas. Jika akses dan mutu sama-sama diperhatikan, masjid dan lembaga keagamaan dapat melayani masyarakat dengan lebih utuh.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!