Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

500 Pemimpin Ikut Pelatihan Kepemimpinan Iklim di Singapura

500 Pemimpin Ikut Pelatihan Kepemimpinan Iklim di Singapura
Minat|Asia Tenggara

Pelatihan Kepemimpinan Iklim: Dari Ruang Kelas ke Aksi Nyata

Pelatihan kepemimpinan iklim adalah program intensif yang menggabungkan pengetahuan ilmiah, keterampilan komunikasi, dan teknologi data untuk membekali pemimpin lintas sektor agar mampu merancang, mengukur, dan mempercepat aksi nyata perubahan iklim di komunitas mereka, terutama di wilayah yang rentan seperti Asia Tenggara. Di Singapura, The Climate Reality Project menggelar Climate Reality Leadership Corps Training pada 8–9 September 2026, menghadirkan 500 peserta dari berbagai negara di Asia Tenggara untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan kepemimpinan menghadapi krisis iklim. Fakta bahwa pelatihan ini penuh peserta menunjukkan satu hal: krisis iklim Asia Tenggara bukan lagi isu masa depan, melainkan tantangan harian yang memerlukan pemimpin yang berani mengambil keputusan berbasis data, bukan sekadar retorika.

Al Gore, Climate TRACE, dan Pentingnya Solusi Berbasis Data

Pelatihan di Singapura terasa berbeda karena dipimpin langsung oleh Al Gore, pendiri dan Chairman The Climate Reality Project, yang menyampaikan presentasi utama tentang perkembangan krisis iklim global dengan sorotan khusus pada dampak di Asia Tenggara. Ia menegaskan bahwa solusi sudah tersedia dan menuntut keberanian politik serta kedisiplinan menggunakan data. Salah satu alat yang ia tekankan adalah Climate TRACE, platform berbasis data yang mampu melacak sumber dan lokasi emisi gas rumah kaca secara rinci di berbagai belahan dunia. Inilah inti solusi berbasis data iklim: emisi tidak lagi bersembunyi di balik laporan sukarela, tetapi dapat diidentifikasi dan dipantau secara transparan. Tanpa kedetailan seperti ini, ambisi mitigasi di tingkat regional mudah jatuh menjadi slogan, bukan kebijakan yang terukur.

Agenda Pelatihan: Menghubungkan Ilmu, Energi, dan Kepemimpinan Muda

Program dua hari ini bukan sekadar seminar; ia dirancang sebagai pelatihan kepemimpinan iklim yang memaksa peserta melihat krisis iklim Asia Tenggara secara menyeluruh. Topik yang dibahas meliputi perkembangan ilmu pengetahuan iklim terbaru, ketahanan energi di kawasan ASEAN, pembiayaan solusi iklim, ketahanan pangan dan air, kesehatan, kepemimpinan kaum muda, hingga mobilitas hijau. Peserta juga digembleng dengan keterampilan komunikasi publik dan kepemimpinan untuk mendorong aksi di tingkat komunitas dan membangun kerja sama lintas negara. Di sini terbaca ambisi jelas: menjadikan generasi muda bukan hanya pengikut kampanye lingkungan, tetapi arsitek kebijakan lokal yang paham data, peta emisi, dan bahasa keuangan iklim. Tanpa elemen-elemen ini, gerakan iklim akan tetap moralistik, namun lemah dalam memengaruhi keputusan politik dan bisnis.

Dari Pelatihan ke Gerakan: Peran Jejaring dan Tantangan Nyata

Pelatihan ini digelar sebagai bagian dari peringatan 20 tahun gerakan Climate Reality dan terhubung dengan jejaring lebih dari 4.000 Climate Reality Leaders di Asia. Dalam sesi “Kiprah Climate Leaders Pascapelatihan” yang dimoderatori langsung oleh Al Gore, Amanda Katili Niode menegaskan bahwa nilai pelatihan terlihat ketika para pemimpin iklim membawa pengetahuan ke lingkungan masing-masing, memperkuat jejaring, dan mengajak lebih banyak orang berpartisipasi. "Pelatihan dapat berkembang menjadi gerakan melalui keterlibatan generasi muda," ujarnya. Namun, bahkan acara sebesar ini tidak bebas dari keterbatasan: sebagian peserta yang dijadwalkan hadir tidak dapat berangkat akibat gangguan penerbangan yang dipicu abu vulkanik. Ironisnya, gangguan tersebut mengingatkan bahwa krisis iklim bukan teori di layar presentasi, melainkan gangguan nyata terhadap mobilitas, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari.

Kenapa Asia Tenggara Butuh Kepemimpinan Iklim Berbasis Data

Pesan penutup pelatihan yang dipandu Ari Wijanarko Adipratomo sangat tajam: kepemimpinan iklim bukan sekadar penguasaan teori, melainkan kemampuan membangun jejaring dan menggerakkan komunitas demi masa depan bumi yang lebih baik. Di kawasan yang rentan terhadap banjir, kekeringan, ancaman terhadap ketahanan pangan dan air, serta tekanan pada sistem kesehatan, pendekatan setengah hati tidak lagi cukup. Kita membutuhkan solusi berbasis data iklim yang bisa diukur dampaknya, aksi nyata perubahan iklim yang terasa di desa, kota, dan ruang kebijakan, serta pemimpin yang siap mempertanggungjawabkan keputusan mereka di hadapan publik. Tanpa itu, 500 peserta pelatihan akan tinggal sebagai angka, bukan motor perubahan. Pertanyaannya kini bukan apakah kita paham krisis iklim Asia Tenggara, melainkan apakah kita berani mengubah pelatihan ini menjadi praktik, konflik politik, dan kebijakan yang berpihak pada bumi, bukan pada kenyamanan jangka pendek.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!