Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pameran Fotografi Internasional Terbesar tentang Ketangguhan

Pameran Fotografi Internasional Terbesar tentang Ketangguhan
Minat|Gaya Fotografi

JIPFest di Taman Ismail Marzuki: Ketangguhan sebagai Kata Kunci

Jakarta International Photo Festival adalah sebuah pameran fotografi internasional di Taman Ismail Marzuki yang menghadirkan puluhan proyek lintas negara, mengusung tema resilience fotografi untuk menyoroti ketangguhan manusia menghadapi perubahan, sekaligus menjadikan karya fotografi global sebagai medium refleksi, dialog, dan pertemuan antara seniman dan publik.

Edisi terbaru Jakarta International Photo Festival (JIPFest) digelar pada 11–20 September di Taman Ismail Marzuki dengan tema besar “Resilience”. Ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi pernyataan: fotografi adalah bahasa paling jujur ketika dunia dilanda ketidakpastian. Lebih dari 50 proyek fotografi, instalasi, dan multimedia dari 19 negara dihadirkan untuk berbicara tentang ketangguhan, harapan, dan solidaritas. Festival ini menampilkan 22 proyek fotografi yang terpilih dari 408 proposal yang masuk melalui JIPFest Open Call, menggambarkan betapa besarnya antusiasme dan kepercayaan komunitas global terhadap platform ini. JIPFest tidak netral; ia jelas berpihak pada cerita-cerita manusia yang bertahan, pulih, dan beradaptasi di tengah perubahan.

Resilience: Dari Konflik Pesisir hingga Ingatan Kolektif

Tema resilience fotografi di JIPFest terasa tajam karena mengikat satu benang merah: manusia tidak hanya menderita, tetapi juga merumuskan ulang cara hidupnya. Karya-karya yang terpilih menolak narasi korban semata; mereka menampilkan subjek yang punya agensi, memori, dan strategi bertahan. Kurator Chelsea Chua menyatakan bahwa proyek-proyek ini menawarkan beragam perspektif personal dalam menafsirkan ketangguhan, harapan, dan solidaritas. Di sinilah JIPFest mengambil posisi: ketangguhan bukan slogan, melainkan pengalaman yang kompleks, rapuh, dan kadang kontradiktif.

Salah satu contoh paling kuat adalah The Fish Dies by Its Mouth (2016–2024) karya Santiago Escobar-Jaramillo. Melalui figur nelayan bertopeng, ia menceritakan komunitas pesisir yang hidup di antara warisan tradisi maritim dan bayang-bayang perdagangan narkoba. Topeng bukan sekadar gimmick visual, melainkan simbol perlindungan identitas dan ingatan. Proyek ini menggambarkan bagaimana komunitas mempertahankan solidaritas dan tradisi budaya di tengah ancaman yang terus mengintai. Di tangan JIPFest, karya seperti ini tidak ditempatkan sebagai eksotisme geografis, melainkan cermin bagi audiens untuk bertanya: sejauh mana kita sendiri melindungi identitas dan memori kolektif di tengah arus perubahan?

Festival sebagai Ruang Pertemuan, Bukan Sekadar Pameran

Yang membedakan JIPFest dari pameran fotografi internasional lain adalah keputusannya untuk berfungsi sebagai ruang pertemuan. Selama sepuluh hari, festival ini menghadirkan 29 program publik—mulai dari walking tour, artist talk, diskusi, ulasan portofolio, workshop, hingga kuliah umum—yang mengundang fotografer, seniman, dan publik untuk bertukar perspektif. Festival ini tidak puas ketika pengunjung hanya berjalan dan memotret karya dengan ponsel; ia mendorong percakapan, perdebatan, bahkan ketidaknyamanan. Di sini, penonton diajak menjadi partisipan, bukan konsumen pasif gambar-gambar estetis.

Inisiatif JIPFest Connect memperluas ruang dialog tersebut dengan melibatkan berbagai komunitas, institusi, dan pelaku kreatif lintas medium. Lebih dari 30 fotografer, seniman, dan praktisi diajak untuk memperkaya percakapan tentang resiliensi. Ini penting: ketika dunia fotografi sering terjebak pada ego individu, JIPFest justru menekankan ekosistem. Menurut Yoppy Pieter, resiliensi bukan hanya kemampuan bertahan, tetapi juga beradaptasi, memulihkan diri, dan terus tumbuh melalui berbagai tantangan. Pernyataan ini menjadi semacam manifesto festival—bahwa seni dan komunitas harus ikut bertumbuh, bukan berhenti pada nostalgia atau trauma.

Pameran Fotografi Internasional Terbesar tentang Ketangguhan

Indonesia Photo Fair dan Masa Depan Melihat Dunia lewat Foto

Puncak gagasan bahwa fotografi terhubung dengan kehidupan sehari-hari terlihat pada Indonesia Photo Fair (IPF) yang berlangsung pada 18–20 September di Taman Ismail Marzuki. Mengusung semangat “Where Photography Meets Culture, Commerce, and Community”, IPF mempertemukan fotografer, penerbit, kolektor, pelaku industri, komunitas, dan publik dalam satu ruang. Ini menunjukkan bahwa ekosistem fotografi tidak hidup di ruang steril; ia bergantung pada jaringan ekonomi kreatif, komunitas, dan budaya visual yang terus berkembang. Di titik ini, JIPFest dan IPF memberi pesan jelas: karya fotografi global hanya akan bermakna jika punya hubungan dengan realitas lokal dan jejaring pendukungnya.

Pada akhirnya, Jakarta International Photo Festival menegaskan bahwa fotografi bukan lagi sekadar medium untuk mengabadikan apa yang terjadi, tetapi cara memahami bagaimana manusia terus beradaptasi dengan dunia yang berubah. Dengan menghadirkan 22 proyek dari 19 negara di ruang pamer utama dan lebih dari 50 proyek lintas medium yang membicarakan ketangguhan, JIPFest menawarkan satu ajakan tegas: melihat dunia lewat lensa orang lain adalah latihan empati yang tidak boleh berhenti ketika kita meninggalkan Taman Ismail Marzuki. Jika festival ini punya pesan yang paling penting, maka itu adalah keyakinan bahwa ketangguhan selalu lahir dari keberanian untuk melihat—dan membiarkan diri dilihat—secara jujur.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!