ISPA Bukan Sekadar Batuk Pilek: Bahaya Nyata di Musim Kemarau dan Pancaroba
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah kelompok penyakit yang menyerang saluran pernapasan atas maupun bawah secara tiba-tiba, ditandai gejala seperti batuk, sesak, demam, dan nyeri tenggorokan, yang dapat memburuk cepat terutama pada balita, lansia, serta orang dengan daya tahan tubuh lemah, dan lebih sering meningkat saat kualitas udara dan cuaca ekstrem memburuk. Pandangan bahwa ISPA hanyalah “batuk pilek biasa” adalah keliru dan berbahaya. Dinas kesehatan di berbagai daerah menegaskan, musim kemarau dengan panas terik, debu, asap kebakaran hutan dan lahan, serta keterbatasan air bersih mengubah pola penyakit di masyarakat. Memasuki pancaroba, perubahan suhu dan kelembapan membuat penyakit saluran pernapasan seperti ISPA, flu, batuk, pilek dan influenza makin mudah menyerang. Jika kita tetap mengabaikan masker dan kebersihan, kita sedang memberi ruang lebar bagi ISPA untuk terus melonjak.

Masker: Kebiasaan Baik yang Terlalu Cepat Ditinggalkan
Kebiasaan memakai masker di tempat umum mendadak ditinggalkan begitu Covid-19 mereda, seolah ancaman penyakit pernapasan ikut menghilang. Sikap ini bertentangan dengan realitas di lapangan: kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih ditemukan dan penyebarannya dinilai “paling dahsyat” oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pamekasan, Erlina. Di pasar, pameran, dan angkutan umum, masyarakat kini cenderung tidak lagi menggunakan masker, padahal area ini penuh droplet, debu, dan agen penyebab penyakit pernapasan. Masker seharusnya dipandang sebagai pelindung harian, bukan sekadar simbol pandemi. "Kebiasaan pakai masker di kerumunan dan perjalanan itu wajib," tegas Erlina. Mengabaikan masker di tengah cuaca panas, angin kencang, dan paparan debu yang meningkat sama saja dengan menerima risiko ISPA, terutama bagi balita dan lansia yang lebih rentan.

Mengapa Musim Kemarau dan Pancaroba Memicu Lonjakan ISPA dan Penyakit Lain
Musim kemarau dan pancaroba adalah kombinasi waktu yang tidak bersahabat bagi kesehatan saluran pernapasan. Dinas kesehatan di berbagai daerah menunjukkan pola yang konsisten: saat kemarau, panas menyengat, debu, keterbatasan air bersih, dan asap kebakaran hutan dan lahan membuat ISPA lebih sering meningkat, terutama ketika kualitas udara memburuk. Memasuki pancaroba, kondisi menjadi “campur-campur”: suhu dan kelembapan berubah-ubah sehingga penyakit saluran pernapasan seperti ISPA, flu, batuk pilek dan influenza lebih mudah muncul. Pada saat yang sama, penyakit lain ikut mengintai. Diare, demam tifoid, hepatitis A dan E, serta penyakit kulit meningkat saat air bersih terbatas, sedangkan demam berdarah dengue (DBD), malaria, chikungunya, infeksi jamur kulit, konjungtivitis dan leptospirosis tetap perlu diwaspadai sepanjang perubahan musim. ISPA jarang datang sendirian; ia hadir bersama rangkaian penyakit musim pancaroba yang menekan daya tahan tubuh keluarga.
Penggunaan Masker Efektif: Kapan Wajib, Jenis Apa, dan Cara Merawatnya
Jika pencegahan ISPA musim kemarau ingin nyata, bukan sekadar slogan, disiplin penggunaan masker efektif harus menjadi kebiasaan. Dinkes menegaskan masker tidak hanya untuk Covid-19, tetapi juga melindungi dari droplet, debu, dan agen penyebab penyakit pernapasan. Warga yang beraktivitas di luar rumah, khususnya di kerumunan, perjalanan, serta saat kualitas udara menurun akibat debu maupun asap karhutla, disarankan memakai masker. Keluhan jerawat atau kulit kusam sebenarnya lebih banyak dipicu masker yang kotor atau salah bahan. Erlina menyarankan menghindari masker kain yang tidak menyerap keringat, karena pori-pori kulit tertutup lama. Strateginya jelas: gunakan “masker yang sehat”, jaga kebersihannya, dan ganti secara berkala—idealnya setelah sekitar dua jam ketika sudah berkeringat. Dengan cara ini, penggunaan masker efektif tetap melindungi saluran pernapasan tanpa mengorbankan kesehatan kulit.
Strategi Lengkap Menghadapi Cuaca Ekstrem: Dari PHBS sampai Waspada DBD
Cuaca ekstrem kesehatan menuntut pendekatan menyeluruh, bukan hanya menutup hidung dan mulut. Dinkes di berbagai daerah mengimbau penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga kebersihan tangan, makanan, dan lingkungan, serta memperhatikan asupan cairan: warga diminta minum minimal dua liter air per hari dan tidak menunggu haus. Pencegahan ISPA musim kemarau harus dibarengi pengendalian penyakit musim pancaroba lain. Penampungan air seperti bak dan drum wajib ditutup rapat agar tidak menjadi sarang nyamuk penular DBD, yang tetap ada saat kemarau dan makin berisiko saat hujan menimbulkan genangan. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk 3M Plus perlu dihidupkan kembali, sementara balita dan lansia harus mendapat perhatian khusus selama perubahan cuaca. Intinya, masker, PHBS, dan pengendalian vektor bukan pilihan terpisah; semuanya adalah bagian dari satu paket strategi bertahan di tengah cuaca yang semakin tidak menentu.






