Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ye Mengajak GBK Menyanyikan Dua Dekade Hits dalam Pertunjukan Raksasa

Ye Mengajak GBK Menyanyikan Dua Dekade Hits dalam Pertunjukan Raksasa
Minat|Musik Rock

Panggung sebesar planet, penonton ikut menjadi bagian pertunjukan

Konser Ye di GBK adalah pertunjukan stadion yang menyatukan katalog lagu lintas era, visual berskala raksasa, dan nyanyian bersama puluhan ribu penonton dalam satu pengalaman musik kolektif. Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Ye—yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West—menggelar Ye Live di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Bola dunia raksasa menjadi pusat panggung, sementara citra Bumi bergerak di kubah dan laser serta kembang api memperluas tontonan ke seluruh stadion. Laporan konser Ye menggambarkan produksi yang sepadan dengan skala acaranya: bukan sekadar latar untuk seorang bintang, melainkan dunia visual yang mengikat penonton pada musik. Perkiraan kehadiran mencapai 50.000 orang, menjadikan malam itu perhentian tunggal tur di Asia Tenggara. Angka sebesar itu membuat pilihan lagu yang mudah dikenali terasa bukan hiasan setlist, melainkan bagian utama dari rancangan pertunjukan.

Ye Mengajak GBK Menyanyikan Dua Dekade Hits dalam Pertunjukan Raksasa

Setlist yang merentang dari awal karier hingga lagu stadion

Kekuatan konser ini bukan hanya ukuran panggung, melainkan cara setlist Kanye West membawa pendengar melintasi perubahan musiknya selama hampir dua dekade. ‘Father Stretch My Hands, Pt. 1’ dan ‘Can’t Tell Me Nothing’ membuka perjalanan, disusul ‘Black Skinhead’, ‘On Sight’, dan ‘Blood on the Leaves’ yang memberi ruang panjang bagi era Yeezus. Setelah ‘POWER’ dan ‘Bound 2’, Ye beralih ke lagu-lagu awal seperti ‘Jesus Walks’, ‘All Falls Down’, dan ‘Through the Wire’—pilihan yang menonjolkan sisi personal dan ambisius dari penulisan lagunya. Bagian berikutnya menghadirkan ‘Gold Digger’ dan ‘Touch the Sky’, lalu deretan dari Graduation: ‘Good Life’, ‘Flashing Lights’, ‘Homecoming’, dan ‘Stronger’. Susunan ini menunjukkan bahwa nostalgia bukan satu-satunya daya tarik; kontras antara produksi elektronik kasar, sampel soul, dan chorus akrab menjaga setlist tetap bergerak.

Ye Mengajak GBK Menyanyikan Dua Dekade Hits dalam Pertunjukan Raksasa

Chorus yang diambil alih puluhan ribu suara

Ye memahami bahwa lagu-lagu hitsnya paling kuat ketika penonton mendapat ruang untuk mengambil alih. Momen ‘Heartless’ menjadi bukti paling terang: setelah Ye mengajak penggemar mengulang chorus, ribuan orang menyanyikannya tanpa iringan instrumen. Di tengah produksi yang sarat kubah, laser, dan kembang api, jeda sederhana itu justru terasa sebagai puncak emosional yang sulit ditandingi efek panggung. Bagian akhir meneruskan arus tersebut melalui ‘Ghost Town’ dan ‘Moon’ sebelum ‘Runaway’. Ye menghilang ke dalam bola dunia lalu kembali dengan piano kecil, sementara nada pembuka ‘Runaway’ disambut nyanyian massal dan kembang api. Lagu-lagu ini memang dirancang untuk skala besar: melodinya sudah dikenal, sehingga ribuan orang dapat menjadi suara utama. Konser GBK paling meyakinkan saat kemegahan visual mundur sejenak dan hubungan antara lagu serta penonton mengambil alih.

Ye Mengajak GBK Menyanyikan Dua Dekade Hits dalam Pertunjukan Raksasa

Riuh yang sama, pengalaman yang berbeda

Namun kesan laporan konser yang menyoroti fokus Ye pada musik dan visual tidak sepenuhnya cocok dengan pengalaman semua penonton. Ye berbicara singkat di antara lagu, tetapi sejumlah pengguna media sosial menilai ekspresinya tampak marah dan interaksinya minim. Pengulangan chorus ‘Heartless’ pun menjadi bahan kritik bagi sebagian orang, meski bagi yang lain bagian itu berubah menjadi ajakan bernyanyi bersama. Ye membantah anggapan bahwa suasana malam itu buruk: “Bro, suasananya mantap banget. Penontonnya riuh sekali. Itulah yang namanya rock and roll.” Selain soal sikap panggung, beberapa penonton mengeluhkan kualitas tata suara di area tertentu stadion. Promotor menyatakan desain tata suara dan tata letak ditangani tim produksi Ye, sekaligus meminta maaf atas ketidaknyamanan. Promotor juga menyebut 20.500 penonton datang dari luar negeri. Jadi, skala acara dan antusiasme besar tak menghapus kekurangan teknis maupun perbedaan selera.

Ye Mengajak GBK Menyanyikan Dua Dekade Hits dalam Pertunjukan Raksasa

Pertunjukan megah yang paling hidup saat penonton bernyanyi

Konser Ye Jakarta berhasil mengubah katalog dua dekade menjadi perayaan bersama yang terasa layak memenuhi stadion. Bola dunia raksasa memberi identitas visual yang kuat, sedangkan pilihan lagu dari era berbeda menawarkan lebih dari sekadar parade hit: ia memperlihatkan rentang dan perubahan suara Ye. Meski begitu, produksi berskala besar tidak menjamin setiap penonton mendapat pengalaman yang sama. Kritik tentang ekspresi, interaksi, dan suara mengingatkan bahwa kemegahan harus ditopang pelaksanaan yang konsisten di seluruh area. Bagi penggemar yang datang untuk menyanyikan chorus bersama, malam itu menyediakan momen yang sulit dilupakan; bagi penonton yang mengharapkan komunikasi lebih hangat atau tata suara merata, ada alasan untuk kecewa. Kesimpulan paling adil sekaligus tegas: Ye memberi GBK tontonan kolosal dan setlist yang kuat, tetapi momen terbaiknya bukan bola dunia—melainkan stadion yang bernyanyi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!