Paris Fashion Week SS27: Dari Kalender Tren ke Arena Perlawanan
Paris Fashion Week SS27 adalah gelombang presentasi koleksi musim semi–musim panas 2027 di mana runway Paris musim semi berubah menjadi panggung narasi sosial, fashion anti-establishment, dan pernyataan politik yang terang-terangan melalui koleksi desainer indie dan rumah mode mapan.
Jika dulu ajang ini identik dengan status dan tren musiman, kali ini sorotan bergeser ke siapa yang mendapat panggung dan cerita siapa yang diceritakan. Di tengah jadwal padat pertunjukan busana wanita Spring/Summer 2027 yang belum rampung hingga mendekati 6 Oktober, Paris tidak lagi sekadar “ibu kota mode”, melainkan medan tarik-menarik antara fashion konvensional dan ekspresi budaya yang lebih lugas. Dari lapangan terbuka Place de la République hingga arena konser raksasa, panggung-panggung ini menunjukkan bahwa pakaian bisa lebih tajam daripada editorial opini manapun.
Matières Fécales: Memusatkan 99% yang Selama Ini Dibuang
Matières Fécales tidak sekadar memindahkan catwalk ke Place de la République; mereka memindahkan pusat gravitasi fashion ke komunitas yang selama ini ditepikan. Peragaan perdana koleksi Spring/Summer 2027 bertajuk “THE NINETY NINE PERCENT” di ruang publik bersejarah ini menjelma manifesto terbuka tentang siapa yang berhak tampak dan dirayakan di runway Paris musim semi.
Dirancang oleh Steven Raj Bhaskaran bersama Hannah Rose, koleksi ini menampilkan 99 tampilan yang seluruhnya diperagakan oleh model kulit berwarna — sebuah pernyataan kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Kutipan yang patut diingat dari pertunjukan ini adalah: "Koleksi ini memberikan penghormatan bagi keluarga imigran, komunitas kelas pekerja, dan kelompok marginal melalui 99 tampilan". Struktur tiga babak—“FAMILY”, “TRIBE”, “GODS”—membentangkan narasi yang bergerak dari rumah ke mitologi, dari Thawb putih hingga sari Varanasi yang dijahit ulang sebagai gaun pesta usang 1950-an, lengkap dengan tekstil tenun tangan dari Burkina Faso dan India.
Klimaksnya nyaris teatrikal: para model memanggul figur miliarder seukuran manusia mengelilingi patung République sambil diiringi Nina Simone, mengubah fashion show menjadi prosesi politis tentang kelas dan kekuasaan. Inilah fashion anti-establishment yang tidak malu-malu menunjuk siapa yang selama ini berdiri di atas pundak 99%.

AWGE x A$AP Rocky: Militerisme, Arena Konser, dan Satir Kekuasaan
Jika Matières Fécales memanfaatkan lapangan kota, AWGE memilih Accor Arena sebagai medan pertempuran simbolik. AWGE milik A$AP Rocky memulai debut koleksi Spring/Summer 2027 bertajuk “ANTI WAR GLOBAL ECONOMICS” di arena yang sama dengan konser Don’t Be Dumb yang ludes terjual, dan para pemegang tiket tur diundang menyaksikan runway beberapa jam sebelum mosh pit dimulai.
Koleksi ini mengolah kembali citra militer: rompi taktis, trench coat bertumpuk, mantel masker gas, jaket marching band berhias bordir emas, hingga jubah kulit mengilap yang tampak seperti dicelup minyak. “ANTI WAR GLOBAL ECONOMICS” disajikan sebagai manifesto terbuka yang merombak elemen visual militer menjadi kostum protes sekaligus pakaian panggung, menumbangkan simbol kekuasaan sambil merayakan energi konser.
Dengan kotak amunisi yang bertransformasi menjadi aksesori, tiga celana boxer yang sengaja menyembul di atas pinggang, dan kerudung grafis ala zirah rantai, AWGE mengolok-olok estetika kekerasan dan ekonomi perang. Koleksi ini mempertegas bahwa fashion anti-establishment tidak harus muram; ia bisa datang sebagai pesta yang bising, selama tetap menantang siapa yang diuntungkan dari estetika militeristik.
Sacai: Mengacak-acak Lemari Wanita, Mengaburkan Batasan
Di sisi lain spektrum, Sacai menunjukkan bahwa aktivisme di runway tidak selalu harus berwujud slogan. Di Fashion Week Paris, label ini kembali mempraktikkan “dialog antara hal-hal yang berlawanan” untuk koleksi Femme Musim Semi–Musim Panas 2027, dengan Chitose Abe membaurkan batas kategori, mengaburkan kode-kode, dan mengubah potongan dengan konstruksi yang sangat personal.
Pertunjukan prêt-à-porter yang dipresentasikan pada Senin, 5 Oktober pukul 10:00 ini menegaskan reputasi Sacai sebagai rumah mode yang senang bermain di ruang hibrida, memadukan kemewahan dan streetwear dalam satu pakaian. Sacai tidak menyerang kekuasaan secara terang-terangan seperti AWGE atau Matières Fécales, tetapi merombak lemari wanita dengan meruntuhkan dinding antara “feminin” dan “maskulin”, “formal” dan “kasual”.
Yang politis di sini adalah hak perempuan untuk tidak lagi memilih salah satu kotak gaya, melainkan mengaduk semuanya. Dalam konteks Paris Fashion Week SS27, keputusan untuk mengaburkan kategori pakaian adalah bentuk narasi sosial fashion: menolak aturan lama tentang bagaimana tubuh perempuan seharusnya tampil di ruang publik, dari kantor hingga runway.

Perubahan Arah: Ketika Runway Menjadi Ruang Publik dan Ruang Protes
Tiga presentasi ini—Matières Fécales, AWGE, dan Sacai—menandai pergeseran yang sulit diabaikan: Paris Fashion Week SS27 bukan lagi katalog tren, melainkan kumpulan argumen visual tentang kelas, perang, gender, dan identitas. Koleksi-koleksi ini menunjukkan bahwa ekspresi budaya dan aktivisme sosial kini tidak lagi berdiri di luar industri; mereka duduk di kursi terdepan, di panggung internasional.
Matières Fécales menggeser pusat perhatian ke keluarga imigran dan komunitas marginal dengan 99 look yang sepenuhnya diperagakan model kulit berwarna. AWGE mengolok-olok estetika militer sambil memadukan protes dan pesta dalam satu arena. Sacai mengacaukan kategori yang mengatur cara perempuan berpakaian di ruang publik. Bersama-sama, mereka membuktikan bahwa koleksi desainer indie maupun label mapan dapat meruntuhkan tembok antara fashion dan narasi sosial.
Kesimpulannya jelas: siapa pun yang masih melihat runway Paris musim semi sebagai ruang netral terlambat membaca zaman. Mode telah memilih pihak, dan pihak itu adalah cerita mereka yang selama ini hanya jadi catatan kaki di pinggir catwalk.






