Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Festival Ekonomi Digital Terbesar Asia Tenggara Resmi Dibuka

Festival Ekonomi Digital Terbesar Asia Tenggara Resmi Dibuka
Minat|Asia Tenggara

FEKDI x IFSE: Panggung Besar Ekonomi Digital Indonesia

Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo adalah ajang tahunan yang mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku industri, dan pelaku usaha untuk mempercepat ekonomi digital Indonesia melalui sinergi kebijakan, inovasi teknologi, dan pengembangan talenta, sekaligus menjadi barometer arah pertumbuhan ekonomi keuangan digital nasional ke depan.

FEKDI x IFSE 2026 resmi dibuka pada 24 September di Jakarta International Convention Center (JICC), menandai dimulainya festival ekonomi digital terbesar di kawasan. Diselenggarakan oleh Bank Indonesia, OJK, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ASPI, dan AFTECH, perhelatan tiga hari ini mengusung tema “Mempererat Sinergi, Memacu Inovasi, Mencetak Talenta Unggul Berdaya Saing Global untuk Kemajuan Ekonomi Keuangan Digital Nasional”.

Ini bukan sekadar seremoni. Dengan menyatukan regulator, pembuat kebijakan, dan pelaku industri dalam satu ruangan, FEKDI IFSE 2026 adalah sinyal tegas: ekonomi digital Indonesia bukan lagi pendamping ekonomi konvensional, melainkan mesin pertumbuhan utama yang perlu dirancang, bukan dibiarkan tumbuh liar.

Lonjakan 40,36%: Angka Besar, Tanggung Jawab Lebih Besar

Secara nasional, transaksi ekonomi keuangan digital pada Agustus tumbuh 40,36% (yoy) dan mencapai 6,11 miliar transaksi. Angka ini menggambarkan pertumbuhan fintech yang agresif, terutama didorong oleh kenaikan pengguna QRIS menjadi 69,32 juta dan 47,11 juta merchant, serta 549 juta transaksi ritel lewat BI-FAST bernilai Rp1.346 triliun.

Pertumbuhan ini terdengar impresif, tetapi di balik itu ada pesan keras dari regulator. Gubernur Bank Indonesia menegaskan pentingnya merapatkan barisan di tengah ketidakpastian pasar global dan ancaman risiko siber yang makin kompleks. Transformasi digital juga perlu dipercepat di tengah prospek ekonomi global yang belum kuat dan ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi.

Artinya, pertumbuhan fintech bukan perlombaan bakar uang, melainkan ujian kedewasaan ekosistem. Platform pembayaran, bank digital, hingga startup harus berinvestasi serius pada keamanan, tata kelola, dan literasi pengguna, jika tidak ingin lonjakan transaksi berubah menjadi lonjakan masalah.

Peluang Konkret bagi UMKM dan Startup

Dari perspektif pelaku bisnis, FEKDI IFSE 2026 adalah peta jalan peluang bisnis digital yang sangat konkret. Transformasi digital diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, dan memberi manfaat nyata bagi perekonomian nasional. Bagi UMKM dan startup, ini berarti tiga jalur utama: integrasi pembayaran digital, ekspansi pasar, dan pemanfaatan data.

Pertama, akseptasi QRIS yang sudah puluhan juta pengguna dan puluhan juta merchant membuat standar pembayaran non-tunai semakin jelas. UMKM yang belum masuk akan tertinggal, sementara yang cepat beradaptasi bisa mengurangi biaya operasional dan memahami pola belanja pelanggan secara lebih presisi.

Kedua, pertumbuhan fintech membuka ruang model bisnis baru: pembiayaan rantai pasok, paylater untuk B2B, hingga platform agregator UMKM. Startup yang berani menggarap sektor riil—seperti agribisnis, logistik, atau manufaktur kecil—akan mendapat momentum karena regulator secara terbuka menuntut agar inovasi menyentuh ekonomi riil, bukan hanya transaksi spekulatif.

Sinergi Antarlembaga: Dari Seremoni ke Aksi Lapangan

Kekuatan utama FEKDI x IFSE 2026 adalah sinergi antarlembaga. Acara ini disinergikan dengan Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi dan Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD), lengkap dengan TPID Awards dan Championship TP2DD. Ini pesan terang: ekonomi digital Indonesia bukan urusan sektor keuangan saja, tetapi juga stabilitas harga dan pemerataan pembangunan.

Menteri Dalam Negeri menekankan perlunya sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Bagi pelaku usaha, ini berarti peluang kolaborasi baru dengan pemerintah daerah: digitalisasi retribusi, pembayaran layanan publik, hingga integrasi pembiayaan UMKM lokal.

Namun di sinilah tantangannya: tanpa kemampuan eksekusi di daerah—mulai dari infrastruktur digital hingga talenta—narasi sinergi akan berhenti di panggung. Pelaku bisnis perlu proaktif menawarkan solusi konkret ke pemerintah daerah, bukan menunggu undangan proyek.

Menuju Target Besar: Apa Langkah Nyata Pelaku Bisnis?

Menko Perekonomian menegaskan bahwa ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai nilai sangat besar pada 2030, menjadikannya yang terbesar di Asia Tenggara. Ambisi ini tidak akan tercapai hanya dengan pidato optimistis; pelaku bisnis digital harus membaca FEKDI IFSE sebagai mandat perubahan strategi.

Pertama, jadikan standar dan infrastruktur nasional—QRIS, BI-FAST, integrasi sistem pembayaran—sebagai fondasi produk, bukan fitur tambahan. Kedua, bangun model bisnis yang selaras dengan prinsip 3I: berdampak, inklusif, dan integratif, agar sejalan dengan arah kebijakan regulator.

Terakhir, investasikan sumber daya pada talenta digital yang paham baik teknologi maupun regulasi. FEKDI x IFSE 2026 memperlihatkan bahwa masa depan ekonomi digital Indonesia akan ditentukan oleh mereka yang mampu menggabungkan inovasi dengan kepatuhan, bukan oleh yang bergerak paling cepat tanpa arah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!