Dua Proyek Jalan yang Menggeser Orientasi Ekonomi Wilayah
Topik utama artikel ini adalah bagaimana rampungnya Jalan Kelok 23 Yogyakarta dan progres Tol Jogja-Solo fungsional di ruas Trihanggo mengubah konektivitas, mengalihkan arus perjalanan, serta membuka peluang ekonomi baru bagi kawasan pesisir selatan dan pinggiran perkotaan, sehingga pusat pertumbuhan tidak lagi hanya bertumpu pada koridor utara dan tengah yang selama ini mendominasi pergerakan orang dan barang. Pembangunan ruas Jalan Kelok 23 sepanjang 5,64 kilometer di jaringan infrastruktur Pantai Selatan (Pansela) DIY telah selesai pada akhir Agustus dan siap beroperasi sekitar September–Oktober. Di saat bersamaan, Tol Jogja-Solo Paket 2.2 Trihanggo–Junction Sleman sudah menyentuh progres 90% dengan target fungsional pada libur Natal dan Tahun Baru. Dua proyek ini bukan sekadar menambah panjang jalan; keduanya menggeser peta konektivitas ekonomi regional ke arah selatan dan barat.
Kelok 23: Pintu Baru Menuju Pariwisata dan Ekonomi Pesisir Selatan
Rampungnya Jalan Kelok 23 Yogyakarta di koridor Pansela adalah sinyal jelas bahwa pesisir selatan tidak lagi diperlakukan sebagai halaman belakang. Ruas sepanjang 5,64 km yang menghubungkan Kretek di Bantul dengan Girijati di Gunungkidul, dengan lebar tujuh meter dan tiga gardu pandang, dirancang bukan hanya sebagai jalur logistik, tetapi sebagai koridor wisata dan perdagangan baru. Dibangun di kawasan perbukitan dengan medan menantang, konstruksi yang berlapis—dari penyesuaian kontur hingga stabilitas lereng—menunjukkan bahwa negara mulai serius menginvestasikan kualitas pada infrastruktur Pantai Selatan. "Pansela diharapkan menjadi alternatif perjalanan masyarakat untuk mengurangi kepadatan di Jalur Pantura maupun Tol Trans Jawa, sekaligus membuka akses menuju kawasan wisata dan sentra ekonomi masyarakat pesisir," ujar Menteri PU Dody Hanggodo. Jika akses ke pelabuhan, pasar ikan, dan homestay pesisir menjadi lebih mudah, maka rantai nilai pariwisata dan hasil laut bisa berkembang jauh melampaui desa-desa tepi pantai.

Tol Jogja-Solo Fungsional: Mempercepat Arus, Mengguncang Pola Lama
Sementara selatan mendapat jalan baru, pinggiran Yogyakarta di Sleman bersiap menghadapi dampak jalan tol yang mengubah pola pergerakan dan ruang hidup. Progres konstruksi Tol Jogja-Solo Seksi 2 Paket 2.2 Trihanggo–Junction Sleman mencapai sekitar 90% dan ditargetkan rampung Desember agar fungsional pada libur Nataru. Pekerjaan tersisa seperti rigid di tol melayang, pengaspalan, gerbang, lampu, dan rambu menunjukkan bahwa prioritas utama adalah membuat ruas ini segera bisa dilalui, bahkan sebelum seluruh estetika dan lanskap penunjang selesai. Namun percepatan ini tidak dibiarkan berjalan tanpa refleksi. Pemkab Sleman bersama BRIN menyusun 11 kajian tematik untuk menilai dampak tol terhadap transformasi ruang, mobilitas, pariwisata, lingkungan, hingga ketahanan UMKM dan perubahan struktur sosial. Rekomendasinya sudah masuk ke RKPD, menandakan pemerintah lokal sadar bahwa tol dapat menjadi berkah konektivitas ekonomi regional sekaligus pemicu urban sprawl jika tidak dikawal kebijakan.
Peluang dan Risiko bagi Masyarakat Lokal: Dari Pantai ke Perbukitan
Secara ekonomi, kedua proyek ini adalah undangan terbuka bagi pelaku usaha lokal—dari nelayan pesisir hingga pemilik warung di lereng Merapi—untuk naik kelas. Peningkatan akses Pansela membuat wisatawan lebih mudah menyebar ke pantai-pantai dan desa wisata selatan, sehingga aktivitas ekonomi tidak lagi terkonsentrasi di beberapa destinasi populer saja. Di sisi tol, pemerintah daerah menyiapkan koridor ekonomi di sekitar pintu tol, termasuk zona UMKM, pusat oleh-oleh, pasar tematik, dan jalur distribusi produk lokal di rest area dan kawasan run-off. Ini adalah kesempatan menghubungkan produsen kecil dengan arus kendaraan antar kota yang jauh lebih besar. Namun kajian Pemkab Sleman juga mengingatkan bahwa konversi lahan dan perubahan pola ruang berpotensi mengganggu tradisi slametan, seni pertunjukan, industri tradisional, hingga cagar budaya yang berada di jalur tol. Tanpa perlindungan yang tegas, gelombang perdagangan dapat menyapu bersih identitas lokal yang justru menjadi daya tarik wilayah.
Konektivitas Ekonomi Regional: Saatnya Selatan dan Pinggiran Menjadi Pusat
Selama ini, aktivitas transportasi dan ekonomi di Pulau Jawa terkonsentrasi di koridor utara dan tengah; Pansela dan Tol Jogja-Solo adalah upaya konkret membentuk jalur pertumbuhan baru. Beroperasinya Kelok 23 di selatan dan fungsionalnya ruas Trihanggo di tol akan memperkuat jaringan yang mengikat pesisir, permukiman, dan pusat ekonomi dalam satu sistem perjalanan yang lebih pendek dan dapat diprediksi. Dampaknya tidak sebatas lonjakan wisata; mobilitas tenaga kerja, distribusi produk pertanian dan hasil laut, hingga akses layanan kesehatan dan pendidikan ikut terdorong. Namun konektivitas ekonomi regional hanya akan menjadi berkah jika kebijakan ruang mengarahkan manfaat ke masyarakat yang selama ini tertinggal, bukan sekadar memudahkan arus investasi tanpa batas. Kesimpulannya, dua proyek jalan besar ini adalah kesempatan langka menggeser pusat gravitasi ekonomi Yogyakarta ke selatan dan pinggiran. Keberhasilannya bergantung pada keberanian pemerintah dan komunitas lokal menjaga keseimbangan antara kecepatan pembangunan, keadilan ekonomi, dan kelestarian budaya.






