Kuliner Jalanan Tradisional Bukan Sekadar Nostalgia, Tapi Model Bisnis Serius
Pengusaha kuliner jalanan yang menjual jajanan tradisional seperti martabak usaha rumahan dan bisnis arum manis adalah pelaku UMKM makanan yang memulai dari gerobak keliling atau dapur rumah, lalu tumbuh menjadi usaha terstruktur dengan karyawan, jaringan pemasaran lintas kota, dan dukungan pendanaan formal sehingga mampu menopang ekonomi keluarga sekaligus membuka lapangan kerja baru. Fenomena ini sering diremehkan sebagai usaha sambilan, padahal kisah Haji Ardi dan Solihin membuktikan sebaliknya: kuliner tradisional bisa menjadi bisnis yang serius, berkelanjutan, dan skalabel. Kuncinya bukan sekadar resep, melainkan keberanian banting setir, disiplin mengelola usaha, dan kemampuan membaca pasar di tengah persaingan modern.
Solihin: Dari Proyek Konstruksi Sepi ke Martabak Hari yang Ramai Pesanan
Solihin adalah contoh gamblang bagaimana martabak usaha rumahan bisa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga ketika sektor lain melemah. Saat pekerjaan konstruksi sepi dan ia “lepas borong, tidak ada kerjaan”, tetangga yang menjual kuali martabak menjadi pemicu perubahan arah hidupnya. Tanpa latar belakang kuliner, ia belajar dari nol: martabak awalnya tidak laku, produksi kecil pun sulit habis. Alih-alih menyerah, Solihin turun ke pasar, mengamati pedagang, mempelajari bumbu dan rempah, lalu menguji berbagai racikan hingga menemukan rasa yang cocok dengan selera konsumen.
Setelah produk diterima, ia memilih pola jualan mobile: Martabak Hari dibawa berkeliling dari satu pasar ke pasar lain, “menjemput bola” di setiap keramaian. Strategi pengusaha kuliner jalanan ini pelan-pelan membangun basis pelanggan yang menunggu jadwal kedatangannya. Pesanan meluas ke acara kampus, masyarakat, perusahaan, hingga acara pribadi, dengan salah satu order terbesar mencapai sekitar 1.500 porsi dalam satu kegiatan. Ketika volume naik, Solihin mengajak tetangga dan teman sebagai tim dadakan untuk menangani pesanan besar dan live cooking, menjadikan usaha di Jalan Raya Bukit Sejahtera, Gandus, Palembang, sebagai sumber penghasilan utama keluarga sekaligus ladang nafkah bagi lingkungan sekitar.
Kisah Solihin menegaskan bahwa ekspansi UMKM makanan tidak selalu dimulai dari modal besar, melainkan dari keberanian berpindah sektor, kesediaan belajar dari pasar, dan strategi pemasaran yang dekat dengan keramaian. Martabak Hari tumbuh organik: dari satu wajan di rumah menjadi usaha yang punya pasar tetap, jaringan pelanggan, dan tim kerja yang terbentuk dari kepercayaan sosial di lingkungan.

Haji Ardi Sahamin: Merantau, Meracik Arum Manis, dan Membangun Tim 30 Karyawan
Jika Solihin berangkat dari dunia konstruksi, Haji Ardi Sahamin memulai bisnis arum manis dari posisi lulusan perantau yang kesulitan mencari pekerjaan tetap. Merantau dari Flores untuk kuliah di Yogyakarta, ia tidak pernah membayangkan akan menjadi bos arum manis di kota Gudeg tersebut, sampai tekanan kebutuhan kerja mendorongnya merintis jajanan tradisional ini dan akhirnya mampu mempekerjakan 30 orang. Perjalanan Ardi sebagai pengusaha arum manis dimulai pada 2011, setelah ia mengumpulkan pengalaman berjualan roti cokelat, enting jagung, dan sale pisang yang mengasah kepekaan membaca peluang pasar.
Menariknya, arum manis bukan produk yang ia kuasai sejak awal. Ide datang dari cerita mertua asal Kebumen tentang jajanan arum manis yang dulu dijual keliling dari sekolah ke sekolah dengan bunyi khas alat sebelum dibungkus kertas. Ardi mempelajari bahwa arum manis adalah kombinasi tepung yang digoreng hingga harum dan gula yang direbus menjadi karamel. Di fase awal, ia mempekerjakan tiga orang untuk produksi dan pengemasan, sementara dirinya mengandalkan pengalaman sebagai tenaga penjualan untuk mendatangi konsumen dan toko di berbagai kota.
Strategi “dari kota ke kota” membuat jangkauan bisnis arum manis meluas ke berbagai wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur; ia mengaku hampir semua kabupaten di dua provinsi itu, setidaknya separuhnya, sudah ia kuasai pasarnya. Setelah belasan tahun, skala usaha berubah total: Ardi kini memiliki 30 karyawan dan delapan tenaga penjualan bermotor untuk melayani wilayah Yogyakarta, serta menyiapkan armada khusus untuk menjangkau konsumen di Ciamis dan Bali. Ini bukan lagi pedagang keliling tunggal, melainkan organisasi kecil dengan tim penjualan, produksi, dan distribusi yang terstruktur.

Dari Usaha Rumahan ke Bisnis Terstruktur: Manajemen, Pendampingan, dan Koperasi
Baik Martabak Hari maupun bisnis arum manis Haji Ardi menunjukkan pola yang sama: pertumbuhan organik dari usaha rumahan ke bisnis terstruktur dengan tim. Solihin memulai secara mandiri, berjualan keliling, lalu menerima pesanan besar dan melibatkan tetangga serta teman sebagai tenaga tambahan. Ardi memulai dengan tiga pekerja produksi dan pengemasan, kemudian menambah tenaga penjualan dan armada distribusi seiring meluasnya pasar. Keduanya membuktikan bahwa ekspansi UMKM makanan tradisional sangat bergantung pada kemampuan membangun tim, bukan hanya menambah alat atau resep.
Di sisi lain, dukungan lembaga keuangan dan koperasi kuliner tradisional juga berperan penting. Setelah menempuh perjalanan panjang sebagai pedagang keliling, Martabak Hari bergabung sebagai mitra binaan sebuah bank daerah yang menyediakan akses pembiayaan, edukasi bisnis, pendampingan usaha, serta perluasan akses pasar dan digitalisasi bagi UMKM. Direktur utama bank tersebut menegaskan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan tambahan modal, tetapi juga komitmen pelaku usaha, kedisiplinan mengelola bisnis, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar, dan pemanfaatan pembiayaan secara produktif.
Pendampingan semacam itu membantu pelaku kuliner tradisional memperkuat pengelolaan keuangan dan operasional, sekaligus membuka ruang promosi melalui berbagai event UMKM. Solihin mengakui dukungan event membuat Martabak Hari bisa berjualan dan mempromosikan produk ke konsumen baru, melengkapi pola jualan mobile dari satu keramaian ke keramaian lain. Ia berharap kesempatan serupa diperluas bagi UMKM yang baru memulai dan belum punya pasar sendiri. Di titik ini, koperasi dan lembaga keuangan bukan sekadar pemberi kredit, melainkan mitra strategis yang membantu kuliner jalanan naik kelas.

Kuliner Tradisional Tetap Viable: Pelajaran untuk Pengusaha Jalanan Lain
Di tengah gempuran kafe modern dan aplikasi pesan-antar, kisah Haji Ardi dan Solihin adalah argumen kuat bahwa kuliner tradisional tetap viable selama dikelola dengan manajemen yang baik. Ardi memanfaatkan pengalaman menjual berbagai makanan untuk membaca peluang pasar dan memilih arum manis sebagai produk utama, meski awalnya belum ia pahami secara mendalam. Solihin menolak berhenti ketika martabak pertamanya tidak laku; ia turun ke pasar, mempelajari bumbu, menguji racikan, dan mengubah pola jualan menjadi mobile untuk menjemput pelanggan.
Model pengusaha kuliner jalanan yang mereka jalankan punya beberapa benang merah: mulai dari kebutuhan ekonomi yang mendesak, berani banting setir, belajar langsung dari pasar, membangun tim dari lingkungan terdekat, lalu mengakses pendanaan dan pendampingan formal ketika usaha mulai stabil. Ekspansi UMKM makanan tradisional tidak terjadi dalam semalam; ia tumbuh dari konsistensi dan kedisiplinan, seperti diingatkan oleh direktur bank daerah yang membina UMKM.
Kesimpulannya, gerobak kecil dan dapur rumah bukan titik akhir, melainkan titik awal. Pengusaha kuliner jalanan lain yang mengolah jajanan tradisional—dari martabak hingga arum manis—bisa menjadikan kisah ini sebagai peta jalan: fokus pada rasa dan pelanggan, berani memperluas jangkauan kota demi kota, bangun tim yang solid, dan manfaatkan koperasi serta lembaga keuangan sebagai mitra jangka panjang. Kuliner tradisional tidak kalah oleh zaman; yang kalah adalah usaha yang berhenti belajar dan enggan bertransformasi.






