Kesejahteraan: Antara Angka Indeks dan Rasa Hidup Sehari-hari
Kesejahteraan negara Asia Tenggara dapat dipahami sebagai gabungan antara kemakmuran ekonomi, kebebasan, dan kualitas hubungan sosial yang membentuk standar hidup regional, sehingga warga bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga merasakan makna, kesehatan, dan keamanan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara material maupun non-material.
Di satu sisi, sebuah studi Global Flourishing Study (GFS) yang dipaparkan peneliti dari sebuah universitas di Yogyakarta menyebut bahwa satu negara di kawasan ini menjadi yang paling tinggi tingkat human flourishing-nya dibandingkan 21 negara lain yang diteliti. Di sisi lain, Legatum Prosperity Index 2026 menempatkan negara yang sama hanya di peringkat ke-64 dunia, sementara sebuah negara-kota di kawasan menduduki posisi ke-23 dengan skor 83,83. Kontras ini menggoda untuk disimpulkan secara politis, tetapi inti persoalannya jauh lebih serius: kita sedang memperdebatkan definisi sejahtera itu sendiri. Jika perbedaan metodologi diabaikan, publik akan terus tersesat antara kebanggaan dan kekecewaan yang sama-sama berlebihan.
Studi UGM: Sejahtera dalam Makna, Relasi, dan Iman
Studi yang dirujuk dosen Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS) di sebuah universitas negeri besar menyatakan bahwa negara tersebut berada di posisi tertinggi human flourishing dibandingkan 21 negara lain yang jadi sampel. Human flourishing diartikan sebagai kondisi ketika seseorang tidak hanya bertahan hidup, tetapi berkembang optimal secara psikologis, sosial, ekonomi, dan spiritual. Di sini, ukuran kesejahteraan manusia bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan enam domain: kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, relasi sosial yang erat, serta stabilitas finansial.
Menurut penjelasan penelitinya, hasil positif itu kuat kaitannya dengan cara masyarakat memaknai hidup dan kuatnya hubungan sosial di tengah masyarakat. Pernyataan kuncinya bisa diringkas begini: kemakmuran finansial tidak otomatis sejalan dengan kualitas hidup manusia. Dimensi keagamaan—baik lewat konsep insan kamil, hayat thayyibah, maupun solidaritas terhadap sesama dan lingkungan—muncul sebagai penopang rasa sejahtera. Dalam ukuran seperti ini, masyarakat yang saling menolong dan merasa hidupnya bermakna bisa saja dipandang lebih sejahtera daripada warga di negara maju yang kaya, tetapi kesepian, cemas, dan merasa terasing dari lingkungan.
Legatum Prosperity Index: Makmur versi Infrastruktur dan Kebebasan
Legatum Prosperity Index (LPI) menggunakan lensa yang berbeda. Indeks ini mengukur apakah masyarakat berkembang, bebas, dan memiliki fondasi sosial yang kuat melalui tiga domain besar: pembangunan, kebebasan, dan sosial. Menurut data LPI 2026, negara-kota tetangga menjadi yang paling makmur di kawasan dengan posisi ke-23 dari 161 negara dan skor 83,83 di tingkat global. Negara tersebut bahkan berada di peringkat kedua dunia untuk Standard of Living, menggambarkan akses yang sangat kuat terhadap kebutuhan dasar dan kondisi hidup layak, ditopang kualitas layanan kesehatan yang juga berada di posisi kedua dunia.
Dalam daftar peringkat negara ASEAN berdasarkan indeks ini, posisi kemakmuran regional berurutan sebagai berikut: negara-kota tersebut memimpin dengan skor sekitar 83,80, diikuti sebuah negara tetangga dengan 73,03, lalu negara besar di kawasan ini di peringkat ketiga dengan 66,89, disusul Thailand 65,72, Filipina 63,06, Vietnam 62,48, Timor-Leste 60,70, Kamboja 48,35, Laos 46,37, dan Myanmar 42,76. Negara besar itu sendiri berada di peringkat 64 dunia dari 161 negara. Kekuatan utamanya terletak pada aspek masyarakat dan komunitas sosial, sementara pembangunan—termasuk ekonomi dan infrastruktur—diakui masih menjadi tantangan besar.
Mengapa Peringkat Bisa Berbeda: Metodologi Menentukan Cerita
Perbedaan hasil antara studi human flourishing dan Legatum Prosperity Index tidak muncul dari “kesalahan data”, melainkan dari perbedaan pertanyaan dasar yang diajukan. Studi Global Flourishing Study yang dikutip kampus di Yogyakarta mengukur kesejahteraan manusia secara menyeluruh—dari kebahagiaan, kesehatan, makna hidup, karakter, hubungan sosial, hingga kondisi finansial dan hubungan dengan lingkungan. Di sisi lain, Legatum Prosperity Index menekankan pembangunan, kebebasan, serta domain sosial, dengan pengukuran terstruktur atas kualitas institusi, ekonomi, kebebasan individu, dan standar hidup.
Implikasinya besar bagi pembacaan kesejahteraan negara Asia Tenggara. Dalam metodologi yang menyorot rasa bermakna, religiositas, dan kehangatan komunitas, sebuah negara dengan jaringan sosial kuat akan tampak sangat sejahtera. Namun ketika indikator bergeser ke ekonomi, pendidikan formal, kualitas layanan publik, dan infrastruktur, negara yang sama bisa turun di peringkat negara ASEAN meski masih berada di posisi ketiga kawasan dalam indeks kemakmuran Indonesia versi LPI. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu angka pun yang mampu menangkap seluruh wajah kesejahteraan. Angka hanya peta; hidup warga adalah wilayah nyatanya.
Apa Artinya bagi Warga: Merayakan Kekuatan, Mengakui Kekurangan
Indeks yang beragam ini membawa pesan ganda bagi warga. Pertama, ada alasan wajar untuk merasa bangga: di satu studi, masyarakat dinilai paling unggul dalam hal human flourishing di antara 22 negara; di indeks lain, mereka tetap masuk kelompok atas dalam standar hidup regional dengan posisi ketiga kawasan. Artinya, modal sosial, kehangatan komunitas, dan makna hidup yang dicari banyak orang di dunia sudah cukup kuat mengakar.
Namun kebanggaan itu tidak boleh menutupi pekerjaan rumah besar. Fakta bahwa aspek pembangunan masih menjadi titik lemah dalam indeks kemakmuran Indonesia menunjukkan bahwa ekonomi, pendidikan, dan kualitas hidup material belum merata. Pertanyaannya bukan lagi “apakah negara ini paling sejahtera di Asia Tenggara?”, melainkan: apakah warga di pelosok merasakan sejahtera yang sama dengan angka-angka di atas kertas. Kesimpulannya tegas: klaim juara hanya bermanfaat jika menjadi pemicu, bukan penenang; kesejahteraan sejati baru tercapai ketika angka indeks dan rasa hidup warga bergerak naik bersama.






