Muktamar NU ke-35: Dari Forum Keagamaan ke Arena Penguatan Ekonomi
Muktamar NU ke-35 adalah perhelatan organisasi Nahdlatul Ulama di Jombang yang bukan hanya membahas kepemimpinan dan program keagamaan, tetapi sekaligus menjadikan bazar UMKM berskala besar sebagai instrumen pemulihan dan penguatan ekonomi lokal melalui 1.500 stan usaha mikro, kecil, dan menengah yang melayani puluhan ribu warga NU dari berbagai daerah. Muktamar ke-35 NU di Jombang disebut sebagai momentum strategis menegaskan arah baru tata kelola dan kemandirian ekonomi organisasi setelah satu abad pengabdian bagi umat, bangsa, dan negara. Ini menandai perubahan penting: forum keagamaan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi dipadukan dengan agenda ekonomi konkret yang menyentuh pelaku usaha di tingkat akar rumput. Dalam konteks ini, keputusan panitia menghadirkan UMKM bazar Jombang bukan dekorasi acara, melainkan langkah politik ekonomi organisasi.
1.500 Stan UMKM Bazar Jombang: Mesin Perputaran Ekonomi di Pesantren
Keputusan Panitia Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama menata 1.500 stan UMKM sepanjang jalan di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, adalah pernyataan tegas bahwa ekonomi umat tidak boleh ditempatkan di pinggir acara keagamaan. Bazar UMKM ini berlangsung bersamaan dengan Muktamar NU ke-35 pada 20 hingga 31 Agustus, lengkap dengan panggung hiburan rakyat sebagai daya tarik tambahan bagi delegasi dan penggembira. "Panitia menata 1.500 stan sepanjang jalan kawasan pesantren untuk melayani para delegasi dan pengunjung selama muktamar," menjadi kutipan yang menggambarkan skala intervensi ekonomi yang sengaja dipilih. Alih-alih memusatkan konsumsi pada vendor besar dari luar daerah, Nahdlatul Ulama Jombang membuka ruang luas bagi UMKM lokal untuk menawarkan kuliner, cinderamata, dan kerajinan daerah kepada pasar yang sebelumnya tidak pernah sebesar ini.
50.000 Rombongan Nahdliyin: Pasar Potensial yang Disambut UMKM Lokal
Panitia memperkirakan Muktamar NU ke-35 sebagai muktamar pertama di abad kedua akan menarik lebih dari 50.000 rombongan Nahdliyin dari seluruh Nusantara. Dalam perspektif pemberdayaan ekonomi lokal, angka ini bukan sekadar statistik peserta, tetapi proyeksi pasar yang sengaja disambung dengan kepentingan UMKM bazar Jombang. Saifullah Yusuf alias Gus Ipul menegaskan bahwa kesiapan logistik dan fasilitas pendukung difokuskan agar manfaat ekonomi dirasakan warga sekitar, dan penyelenggaraan bazar dirancang untuk menggerakkan perputaran ekonomi masyarakat selama acara. Kedatangan puluhan ribu peserta dan pendukung dipandang sebagai pasar potensial bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Di sinilah letak keberanian NU: menjadikan kerumunan keagamaan sebagai katalis ekonomi lokal, bukan sekadar keramaian tanpa dampak material bagi warga.
Transformasi Tata Kelola dan Kemandirian Ekonomi NU
Muktamar NU ke-35 di Jombang hadir ketika NU memasuki fase baru setelah melewati satu abad pengabdian bagi umat, bangsa, dan negara. Organisasi ini dituntut tidak hanya mempertahankan tradisi keislaman para muassis, tetapi juga menjawab tantangan zaman dengan tata kelola yang lebih modern, transparan, akuntabel, dan profesional. Dalam pandangan Ibrohim, salah satu agenda penting adalah transformasi tata kelola keekonomian organisasi. Pesantren dan lembaga pendidikan NU membutuhkan sumber pembiayaan berkelanjutan; kemandirian tidak bisa terus bergantung pada hibah, bantuan sosial, atau sumbangan. "Diperlukan terobosan kewirausahaan dan pengelolaan aset organisasi yang profesional" menjadi garis bawah bahwa ekosistem ekonomi NU harus dibangun serius agar pesantren berkembang secara mandiri. Bazar UMKM dalam muktamar, jika konsisten dijadikan model, adalah salah satu bentuk terobosan itu: menghubungkan massa NU dengan usaha anggota dan warga.
Komitmen Pemberdayaan Ekonomi Umat: Dari Momentum ke Agenda Permanen
Menghadirkan bazar UMKM sebagai bagian dari upaya pemulihan dan penguatan ekonomi lokal dalam Muktamar NU ke-35 menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi umat mulai ditempatkan sebagai bagian integral misi organisasi, bukan pelengkap acara. NU memiliki jaringan pesantren, lembaga pendidikan, badan usaha, dan komunitas warga yang tersebar; kekuatan ini tidak boleh berhenti pada konsolidasi sosial dan politik, tetapi harus diarahkan membangun ekosistem ekonomi yang sehat. Strategi UMKM bazar Jombang memperlihatkan bagaimana Nahdlatul Ulama Jombang memanfaatkan momentum muktamar untuk menguji model kemandirian ekonomi NU di level lokal. Tantangannya ke depan adalah menjadikan pola ini agenda permanen: setiap gelaran besar NU disinergikan dengan pasar UMKM, dukungan pembiayaan, dan pengelolaan aset yang profesional. Tanpa langkah lanjut, muktamar hanya menjadi etalase sesaat; dengan konsistensi, ia bisa menjadi batu loncatan ekonomi umat.






