Ajang nasional yang membawa persaingan ke IKN
Piala Soeratin adalah kompetisi sepak bola usia muda tingkat nasional yang memberi pemain jalur untuk bertanding, menguji kemampuan, dan membangun disiplin serta sportivitas melalui persaingan antarklub. Putaran nasional 2026 berlangsung di PSSI Training Centre, Ibu Kota Nusantara (IKN), pada 15–24 Oktober dan diikuti 24 tim dari berbagai daerah. Menempatkan turnamen ini di IKN lebih berarti daripada sekadar memindahkan lokasi pertandingan: pemain dari banyak daerah mendapat panggung bersama di luar pusat tradisional sepak bola di Jawa. Langkah seperti ini penting karena pembinaan tidak akan merata jika kompetisi berskala nasional hanya berputar di tempat yang sama. Piala Soeratin memberi kesempatan bagi pemain muda untuk merasakan standar pertandingan yang lebih tinggi sekaligus memperluas jangkauan sepak bola usia muda.
Tiga kelompok usia, tiga perebutan gelar
Format turnamen memberi ruang bagi tiga tahap perkembangan pemain: U-13, U-15, dan U-17. Masing-masing kelompok diikuti delapan tim, sehingga 24 peserta terbagi rata dan setiap kategori memiliki persaingan sendiri. Dalam kompetisi U-13, ASIOP keluar sebagai juara; Persib Bandung meraih gelar pada kompetisi U-15; sementara Waamanat Bhintuka FC menjadi kampiun U-17. Hasil tersebut membuat perhatian tidak hanya tertuju pada nama klub yang lebih dikenal. Tiga gelar dari tiga kelompok usia memperlihatkan luasnya talenta yang ikut bersaing, sementara format bertingkat memberi pemain kesempatan berkembang sesuai usianya. Bagi pembinaan, kemenangan penting, tetapi nilai turnamen juga terletak pada pengalaman menghadapi lawan dari berbagai daerah.
Fasilitas dan pemerataan harus berjalan bersama
PSSI Training Centre menyediakan lapangan berstandar FIFA, tempat tinggal atlet, dan transportasi bus untuk mendukung penyelenggaraan. Dukungan fasilitas membuat para peserta dapat berfokus pada pertandingan, tetapi nilai lebih besar dari gelaran ini terletak pada upaya memperluas pusat kegiatan sepak bola. PSSI menyebut penyelenggaraan di Nusantara sebagai cara memperkenalkan IKN kepada pemain sekaligus mendorong semangat sepak bola berkembang di Kalimantan dan seluruh Indonesia. Harapan itu patut disertai konsistensi: pemerataan tidak cukup dibuktikan dengan satu turnamen, melainkan perlu ditopang kesempatan bertanding dan pembinaan yang berkelanjutan. Piala Soeratin menyediakan panggung nasional; pekerjaan berikutnya ialah memastikan pengalaman dari panggung tersebut menjadi bekal bagi pemain dan penyelenggara lokal.
Lebih dari sekadar perebutan trofi
Penutupan Piala Soeratin di IKN menunjukkan bahwa kompetisi pemain muda dapat sekaligus menjadi ajang prestasi dan sarana memperluas jangkauan sepak bola. ASIOP, Persib Bandung, dan Waamanat Bhintuka FC membawa pulang gelar di kelompok masing-masing, tetapi keberhasilan turnamen sebaiknya juga diukur dari pengalaman yang diperoleh 24 tim peserta. Menggelar kompetisi U-13, kompetisi U-15, dan U-17 di satu lokasi menciptakan kesinambungan persaingan lintas usia, bukan hanya satu laga final yang menjadi sorotan. Kesimpulannya, Piala Soeratin di IKN merupakan langkah pembinaan yang bernilai karena memadukan kompetisi, fasilitas, dan pemerataan wilayah. Agar dampaknya bertahan, kesempatan seperti ini perlu terus hadir dan menjangkau lebih banyak pemain muda.






