Idol K-pop Gaji Nol: Popularitas Boleh Naik, Rekening Tetap Kosong
Idol K-pop gaji nol merujuk pada kondisi ketika idol aktif bekerja, merilis musik, tampil di berbagai program, dan membangun popularitas, tetapi selama bertahun-tahun tidak menerima gaji resmi dari agensi sehingga kebutuhan hidup harian harus ditopang dari sumber lain di luar pendapatan profesional mereka. Dalam acara Knowing Bros tanggal 29 Agustus, Jiwon fromis_9 mengaku tidak menerima gaji sejak debut hingga tahun ketujuh kariernya. Ia mengatakan, “Kami melewati masa-masa yang sulit karena selama tujuh tahun terakhir ini tidak memiliki penghasilan. Kami bekerja tanpa dibayar, bahkan saya mendapatkan uang saku dari ibu saya”. Pengakuan ini bukan sekadar cerita sedih, melainkan alarm keras bahwa sistem bayaran idol yang berlaku selama ini gagal melindungi hak artis K-pop.
Uang Saku dari Orang Tua: Gambaran Ketergantungan Finansial Idol
Pernyataan Jiwon bahwa ia harus bergantung pada uang saku dari ibunya untuk bertahan hidup memperlihatkan betapa rapuhnya posisi finansial idol di balik panggung glamor. Uang saku artis K-pop, dalam kasus ini, tidak berasal dari gaji resmi, melainkan dari keluarga. Saat harus membayar makanan, Jiwon mengaku sering cemas kartunya akan ditolak karena saldo tidak cukup. Artinya, bahkan pengeluaran dasar pun menjadi beban mental. Pengakuan bahwa ia baru sekarang mulai menerima penghasilan, dan itu pun “masih relatif sedikit”, menunjukkan betapa lambatnya sistem bayaran idol memberi hasil setelah bertahun-tahun bekerja. Di sini, ketenaran dan jam terbang tidak otomatis berbanding lurus dengan kemandirian finansial.
Kesenjangan Popularitas dan Kompensasi: fromis_9 Tetap Bekerja Tanpa Bayaran
Kisah fromis_9 memperlihatkan kesenjangan tajam antara popularitas idol dan kompensasi yang diterima. Meski tidak memiliki penghasilan selama tujuh tahun, mereka “tetap bekerja keras karena telah memiliki ikatan emosional yang kuat dan masih ingin terus berjuang bersama”. Ikatan emosional dan mimpi bersama dijadikan bahan bakar ketika sistem bayaran idol tidak memberi jaminan nyata. Pada saat yang sama, pandemi COVID-19 memperparah keadaan karena aktivitas grup berkurang, sehingga peluang pendapatan makin menyempit. Jika sebuah grup dengan basis penggemar yang solid saja bisa bekerja tanpa bayaran selama itu, ini menandakan adanya celah struktural dalam cara industri menghargai tenaga kerja artis K-pop. Loyalitas idol terhadap grup dan penggemar sayangnya sering lebih besar daripada perhatian sistem terhadap hak finansial mereka.
Jalan Samping Idol: Dari Panggung Musik ke Studio Berita Cuaca
Di tengah sistem yang membuat idol rentan secara finansial, mencari sumber pendapatan alternatif menjadi strategi bertahan yang semakin penting. Jiyu dari grup KiiiKiii, misalnya, memperluas aktivitasnya dengan tampil di program ‘Newsroom’ JTBC sebagai pembawa berita cuaca spesial. Ia muncul di segmen cuaca program pagi ‘Morning &’ pada 28 Agustus, menyampaikan prakiraan cuaca dengan energi ceria sambil menyelipkan promosi lagu terbaru grupnya, “POP OFF POP OFF”. KiiiKiii sendiri baru saja merilis mini album ketiga, ‘WhyKiiiKiii’, pada 10 Agustus, dan berhasil menduduki posisi teratas worldwide music video trending chart YouTube Music dengan lagu “POP OFF POP OFF”. Langkah Jiyu masuk ke ranah berita cuaca menunjukkan bagaimana idol perlu merambah bidang lain untuk memperluas eksposur sekaligus membuka potensi pemasukan di luar panggung musik.

Mengapa Sistem Bayaran Idol Perlu Dirombak
Pengakuan Jiwon tentang tidak adanya gaji hingga tahun ketujuh, ditambah fakta bahwa ia baru belakangan ini mulai menerima penghasilan kecil, menunjukkan bahwa hak artis K-pop belum menjadi prioritas utama dalam industri. Sementara itu, contoh Jiyu yang harus memperluas aktivitasnya ke segmen berita cuaca demi memperlebar karier menegaskan bahwa idol kerap didorong untuk mencari jalur lain di luar kerja utama mereka sebagai penyanyi. Sistem seperti ini mengandalkan mimpi dan loyalitas, tetapi abai pada kepastian pendapatan. Jika bayaran resmi datang terlambat dan uang saku harus berasal dari keluarga, maka ada sesuatu yang salah pada cara industri menilai kerja kreatif. Agar eksploitasi industri musik tidak lagi dibiarkan, perbincangan tentang sistem bayaran idol dan perlindungan hak finansial mereka tidak boleh berhenti pada satu pengakuan di variety show.






