Event Lari Ternate: Dari Olahraga Masyarakat ke Magnet Wisata
Event lari Ternate adalah rangkaian kegiatan lari jalan raya dan lintasan yang dirancang pemerintah daerah bersama komunitas dan sektor swasta untuk menggabungkan olahraga masyarakat dengan promosi destinasi, sehingga menarik pelari, penonton, dan wisatawan yang membelanjakan waktu dan uangnya di kota ini. Pemerintah Kota Ternate secara terang-terangan menjadikan ajang lari sebagai pintu masuk pariwisata olahraga, bukan sekadar pengganti agenda seremoni yang biasa-biasa saja. Keputusan ini penting: ketika kota lain berebut festival musik, Ternate memilih identitas yang lebih berkelanjutan—gerak badan, ruang publik hidup, dan ekonomi lokal yang berputar. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah strategi ini menarik, melainkan seberapa serius kota ini menata infrastruktur dan kalender eventnya agar pelari mau datang kembali, membawa teman, dan mengabadikan Ternate sebagai tujuan tetap di peta sport tourism.

Langkah Berani Pemkot: Lari Sebagai Strategi, Bukan Sekadar Agenda
Rencana besar Pemerintah Kota Ternate jelas: memfasilitasi ajang lari dengan skala lebih besar untuk mendorong pertumbuhan olahraga masyarakat dan memperkuat sport tourism di kota ini. Pernyataan Wali Kota M. Tauhid Soleman saat melepas ratusan peserta Virtual Run Pocari Sweat 2026 sejauh 5 kilometer menjadi sinyal bahwa lari ditempatkan sebagai strategi, bukan acara musiman. "Ke depan, Pemkot Ternate bahkan berencana memfasilitasi iven lari dengan skala yang lebih besar guna menguatkan sektor pariwisata olahraga (sport tourism) yang selaras dengan tagline Ternate Kota Rempah," ujarnya. Virtual Run ini mempertemukan peserta, komunitas lari, pemerintah daerah, dan pihak swasta dalam satu panggung kolaborasi. Inilah ekosistem awal yang menentukan apakah Ternate siap naik kelas: sport tourism Maluku tidak akan lahir dari pemerintah saja, tetapi dari sinergi yang konsisten antara komunitas, sponsor, dan kebijakan.
Stadion Gelora Kie Raha: Infrastruktur yang Akhirnya Dioptimalkan
Di balik gagasan event lari skala besar, ada satu aset yang mulai diperlakukan sebagai tulang punggung: stadion Gelora Kie Raha. Badan pengelola di bawah PT Malut Maju Sejahtera mengumumkan tarif dan ketentuan penyewaan fasilitas stadion, langkah yang tampak administratif tapi sejatinya menentukan arah pemanfaatan aset publik ini. Stadion beroperasi setiap hari dari pukul 07.00 hingga 22.00 WIT, dengan penggunaan di luar jam tersebut membutuhkan izin khusus. Pengelola membagi tarif sewa berdasarkan jenis kegiatan: friendly game, pertandingan resmi, event non-olahraga, hingga akses lintasan lari atau jogging track. Untuk warga yang datang hanya untuk berlari, tiket masuk lintasan ditetapkan Rp15.000 per orang per sekali masuk, dengan sesi pagi 07.00–10.00 WIT dan sore 15.00–18.00 WIT. Ini bukan sekadar daftar harga; ini sinyal bahwa stadion mulai dikelola sebagai ruang hidup, bukan monumen sepi.
Tarif Kompetitif, Diskon Sosial, dan Dampaknya pada Pelari Lokal
Pengelolaan stadion Gelora Kie Raha dirancang dengan skema tarif yang relatif kompetitif untuk berbagai jenis kegiatan. Pertandingan persahabatan di sore hari dikenai Rp3.000.000 untuk dua jam, naik menjadi Rp6.000.000 bila digelar malam dengan lampu stadion. Pertandingan resmi dipatok Rp10.000.000 untuk sore hari dan Rp20.000.000 untuk malam. Di luar olahraga, event non-olahraga seperti bazar atau pameran dibanderol Rp20.000.000 per hari. Bagi pelari harian, tarif jogging track Rp15.000 per sekali masuk memberi akses ke fasilitas lintasan yang terjaga. Pengelola juga memberi diskon 30 persen untuk sekolah, klub pembinaan usia dini, dan kegiatan sosial, selama disetujui pengelola. Pengumuman ini diharapkan memudahkan warga, klub olahraga, dan penyelenggara acara untuk memanfaatkan stadion kebanggaan kota. Skema ini jelas: publik diajak aktif, sementara biaya tetap dalam batas yang masuk akal untuk ekosistem olahraga masyarakat.
Pariwisata Olahraga: Saatnya Ternate Menentukan Standar Sendiri
Pemerintah Kota Ternate tegas memandang kegiatan lari sebagai bagian dari promosi daerah, bukan aktivitas sampingan. Ajang yang melibatkan masyarakat dan komunitas dinilai dapat mendukung pengembangan pariwisata berbasis olahraga. Virtual Run Pocari Sweat 2026 menjadi momentum untuk meningkatkan partisipasi warga dalam olahraga sekaligus memperkuat posisi kota ini sebagai destinasi pariwisata olahraga yang selaras dengan identitas Ternate Kota Rempah. Rencana fasilitasi ajang lari skala lebih besar menunjukkan arah dukungan pemerintah terhadap pengembangan olahraga lari dan pariwisata olahraga. Namun untuk menjadikan event lari Ternate benar-benar diperhitungkan, ada pekerjaan rumah: konsistensi kalender, kualitas penyelenggaraan, dan keberanian memberi pengalaman yang berbeda dibanding kota lain. Stadion Gelora Kie Raha sudah membuka diri dengan jadwal fleksibel dan tarif jelas; kini bola ada di tangan penyelenggara, komunitas, dan pelari sendiri. Jika ketiganya berpihak pada kualitas, Ternate berpeluang menulis standar baru sport tourism di kawasan ini.






